0

GANGGUAN KECEMASAN (Anxiety Disorder)

>> Pengertian Kecemasan:

Pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya (Sutardjo Wiramihardja, 2005)

Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hamper setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan kehidupan seseorang. Kcemasan bias muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).

Kecemasan merupakan respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalamn baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun, namun cemas yang berlebihan apalagi yang sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya (Kaplan, dkk, 2007).

Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disetrai perubahan fisiologis dan psikologis (Kholil Rochman, 2004).

Menurut Namora Lumongga Lubis (2009), kecemasan adalah tanggapan dari suatu ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengelami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berfikir tenanting sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi. Sedangkan menurut Siti Sundari (2004), kecemasan merupakan suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancamab terhadap kesehatan.

Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik tingkah lau yang menyimpang maupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Gunarsa, 2008).

Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatasas yaitu kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya ketidakpastian dimasa yang akan dating serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

>> Gejala Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan. Individu-individu yang tergolong normal kadang kala mengalami kecemasan yang Nampak sehingga dapat disaksikan pada penampilan yang berupa gejala-gejala fisik maupun mental. Gejala tersebut lebih jelas pada individu yang mengalami gangguan mental. Lebih jelas lagi bagi individu yang mengidap penyakit mental parah.

Gejala-gejala yang bersifat fisik diantaranya adalah jari tangan dingin, detak jantung mekin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak nyenyak, dada sesak. Sedangkan gejala yang bersifat mental yaitu ketakukan merasa akan ditimpa bahaya, tidak dapat memusatkan perhatian, tidak tentram, ingin lari dari kenyataan (Sundari, 2004).

Menurut Kaplan dkk (2007), Kecemasan juga memiliki kharakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau waspada yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Gejala-gejala kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-masing individu. Takut dan cemas merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri sendiri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.

Kecemasan berasal dari perasaan tidak sadar yang berada didalam kepribadian sendiri, dan tidak berhubungan dengan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar ada. Kholil Lur Rochman, (2010) mengemukakan beberapa gejala-gejala dari kecemasan antara lain :

  1. Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap kejadian menimbulkan rasa takut dan cemas. Kecemasan tersebut merupakan bentuk ketidakberanian terhadap hal-hal yang tidak jelas.
  2.  Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam keadaan exited (heboh) yang memuncak, sangat irritable, akan tetapi sering juga dihinggapi depresi.
  3.  Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delusion of persecution (delusi yang dikejar-kejar).
  4.  Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah, banyak berkeringat, gemetar, dan seringkali menderita diare.
  5. Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan tekanan jantung menjadi sangat cepat atau tekanan darah tinggi.

Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly (2005:164) mengklasifikasikan gejala-gejala kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :

  1. Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau tersinggung.
  2. Gejala behavioral dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan dependen.
  3. Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

>> Faktor-faktor Penyebab Kecemasan

Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian besar tergantunga pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwaperistiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003:11) ada beberapa faktor yang menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

a.      Lingkungan: Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja. Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

b.      Emosi yang ditekan: Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama

c.       Sebab-sebab fisik: Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

Zakiah Daradjat (Kholil Lur Rochman, 2010:167) mengemukakan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu :

a.      Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran

b.      Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk yang umum.

c.       Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya. 

Kecemasan hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun penyebabnya. Musfir Az-Zahrani (2005), menyebutkan faktor yang memepengaruhi adanya kecemasan yaitu:

  1. Lingkungan keluarga: Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau penuh dengan kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anak-anaknya, dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta kecemasan pada anak saat berada didalam rumah.
  2. Lingkungan Sosial: Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan individu. Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan adanya berbagai penilaian buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya kecemasan.

Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-waktu terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan berada di lingkungan yang baru dihadapi (Patotisuro Lumban Gaol, 2004: 24). Sedangkan Page (Elina Raharisti Rufaidah, 2009), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah :

  1. Faktor fisik: Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga memudahkan timbulnya kecemasan.
  2. Trauma atau konflik: Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.
  3. Lingkungan awal yang tidak baik: Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.

>> Jenis- Jenis kecemasan

Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan dari luar. Mustamir Pedak (2009) membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu :

  1. Kecemasan Rasional: Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian.Ketakutan ini dianggap sebagai suatu unsur pokok normal dari mekanisme pertahanan dasariah kita.
  2. Kecemasan Irrasional: Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini dibawah keadaankeadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
  3. Kecemasan Fundamental: Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan manusia.

Sedangkan Kartono Kartini (2006: 45) membagi kecemasan menjadi dua jenis kecemasan, yaitu :

  1. Kecemasan Ringan: Kecemasan ringan dibagi menjadi dua kategori yaitu ringan sebentar dan ringan lama.Kecemasan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seseorang, karenakecemasan ini dapat menjadi suatu tantangan bagi seorang individu untuk mengatasinya.Kecemasan ringan yang muncul sebentar adalah suatu kecemasan yang wajar terjadi padaindividu akibat situasi-situasi yang mengancam dan individu tersebut tidak dapat mengatasinya, sehingga timbul kecemasan. Kecemasan ini akan bermanfaat bagi individu untuk lebihberhati-hati dalam menghadapi situasi-situasi yang sama di kemudian hari.Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang dapat diatasi tetapi karena individu tersebut tidak segera mengatasi penyebab munculnya kecemasan, maka kecemasan tersebutakan mengendap lama dalam diri individu.
  2. Kecemasan Berat: Kecemasan berat adalah kecemasan yang terlalu berat dan berakar secara mendalam dalam diriseseorang. Apabila seseorang mengalami kecemasan semacam ini maka biasanya ia tidakdapat mengatasinya. Kecemasan ini mempunyai akibat menghambat atau merugikanperkembangan kepribadian seseorang. Kecemasan ini dibagi menjadi dua yaitu kecemasanberat yang sebentar dan lama.Kecemasan yang berat tetapi munculnya sebentar dapat menimbulkan traumatis padaindividu jika menghadapi situasi yang sama dengan situasi penyebab munculnya kecemasan.Sedangakan kecemasan yang berat tetapi munculnya lama akan merusak kepribadian individu. Halini akan berlangsung terus menerus bertahun-tahun dan dapat meruak proses kognisiindividu. Kecemasan yang berat dan lama akan menimbulkan berbagai macam penyakitseperti darah tinggi, tachycardia (percepatan darah), excited (heboh, gempar)

>> Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki cirri kecemasan atau ketakutan yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat secara intensif ditampilkan dalam cara-cara yang jelas. Fitri Fauziah & Julianty Widuri (2007) membagi gangguan kecemasan dalam beberapa jenis, yaitu :

a.      Fobia Spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik

b.      Fobia Sosial merupakan suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya dievaluasi atau dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan, dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.

c.       Gangguan Panik, Gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain ; sulit bernafas, jantung berdetak kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin, dan gemetar. Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau kecacatan.

 d.      Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder) Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat pervasif, disertai dengan berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata.

Sedangkan Sutardjo Wiramihardja (2005) membagi gangguan kecemasan yang terdiri dari :

a.      Panic Disorder: Panic Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan panic yang tidak diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi orang lain bukan merupakan masalah luar biasa. Ada beberapa simtom yang menandakan kondisi panik tersebut, yaitu nafas yang pendek, palpilasi (mulut yang kering) atau justru kerongkongan tidak bisa menelan, ketakutan akan mati, atau bahkan takut gila.

b.      Agrophobia: yaitu suatu ketakutan berada dalam suatu tempat atau situasi dimana ia merasa bahwa ia tidak dapat atau sukar menjadi baik secara fisik maupun psikologis untuk melepaskan diri. Orang-orang yang memiliki agrophobia takut pada kerumunan dan tempat-tempat ramai. 

>> Dampak Kecemasan

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi yang betul-betul mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh berlebihan dibandingkan dengan bahaya yang sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik (Cutler, 2004).

Yustinus Semiun (2006:321) membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa simtom, antara lain :

a.      Simtom suasana hati: Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

b.      Simtom kognitif: Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

c.       Simtom motor: Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup, kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom motor merupakan gambaran rangsangan kognitif yang tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa saja yang dirasanya mengancam. Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada tekanan perasaan ataupun tekanan jiwa.

Menurut Savitri Ramaiah (2005) kecemasan biasanya dapat menyebabkan dua akibat, yaitu :

  1. Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal atau menyesuaikan diri pada situasi. Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang mencukupi.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi yang sangat mengancam karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan tersebut ditandai dengan adanya beberapa gejala yang muncul seperti kegelisahan, ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, merasa tidak tenteram, sulit untuk berkonsentrasi, dan merasa tidak mampu untuk mengatasi masalah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah, kecemasan timbul karena individu melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya, kecemasan juga terjadi karena individu merasa berdosa atau bersalah karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Dari beberapa gejala, faktor, dan definisi diatas, kecemasan ini termasuk dalam jenis kecemasan rasional, karena kecemasan rasional merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam. Adanya berbagai macam kecemasan yang dialami individu dapat menyebabkan adanya gangguan-gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik. Sehingga dapat menyebabkan adanya dampak dari kecemasan yang berupa simtom kognitif, yaitu kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

>> Pengobatan

Jika ada bentuk yang ringan Gad adalah terapi terapan, yang mengajarkan, Bagaimana untuk menyingkirkan cemas pikiran. Terapi termasuk:

1.      Terapi perilaku kognitif: Terapis pekerjaan adalah untuk, untuk mengubah pola pikir pasien, yang memungkinkan Anda untuk lebih mudah menanggapi situasi, yang mengkhawatirkan. Hal ini dapat mengurangi gejala kecemasan.

2.      Terapi perilaku: Terapis mengajarkan teknik relaksasi pasien, termasuk pernapasan glubokmu, relaksasi otot dan visualisasi. Menjelajahi bagaimana rasslableniââ dapat membantu pasien mengontrol kecemasan. Melainkan, bereaksi dengan kecemasan dan ketegangan, pasien yang belajar untuk tetap tenang. Dokter juga dapat mengekspos pasien untuk dampak yang kecil, yang menyebabkan kecemasan dan ketegangan. Ini akan memungkinkan untuk melakukan terapi dan langsung mengamati pasien dalam tidak menguntungkan bagi lingkungan.

Kelompok dukungan: Bergabung dengan kelompok self-help atau dukungan ini sering sangat berguna. Bentuk dukungan memungkinkan Anda untuk berbagi pengalaman dan belajar, bagaimana orang lain telah diatasi dengan GAD.

Biofeedback: Biofeedback bekerja dengan melampirkan sensor untuk tubuh. Terapis yang mencoba untuk menangkap sinyal dari tubuh, rangsangan, dan menentukan pengobatan, untuk mengurangi kecemasan.

 1.      Terapi Obat-Obatan

Obat bisa diresepkan untuk gejala, yang parah dan mengganggu pekerjaan. Obat dapat membantu meringankan gejala. Penting untuk dicatat, bahwa mengambil obat-obatan yang banyak tidak dapat tiba-tiba dihentikan, penghapusan mereka harus secara bertahap. Anda harus berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum Anda berhenti minum obat apapun. Obat-obatan dapat mencakup:

  • Benzodiazepin — untuk bersantai tubuh dan mengganggu tegangan dalam menanggapi mengganggu pikiran. Obat-obat ini harus diambil di bawah kendali, karena mereka dapat menyebabkan kecanduan; Obat-obatan untuk mengurangi kecemasan:
  • Buspirone — obat penenang, yang didasarkan pada;
  • Alprazolam — dapat ditunjuk untuk jangka waktu yang pendek;
  • Antidepresan (paling sering inhibitor reuptake serotonin [SSRI’S]) — untuk mengendalikan pikiran gelisah. Beberapa antidepresan dapat menyebabkan kerusakan pada perubahan suasana hati dan perilaku, termasuk pikiran bunuh diri pada beberapa pasien (langka);
  • Beta blocker-dapat digunakan, untuk mengurangi gejala fisik kecemasan

>> Pencegahan

Saat ini, metode untuk pencegahan gangguan kecemasan umum tidak diketahui. Deteksi dini dan pengobatan dapat mengurangi risiko komplikasi parah psikologis. Beberapa bukti menunjukkan, bahwa olahraga dapat mengurangi gejala gangguan kecemasan umum. Untuk lebih jauh mengurangi gejala kecemasan, hal ini diperlukan untuk menghindari kafein, nikotin, dan berlebihan penggunaan obat-obatan untuk pilek.

(Sumber: dari berbagai jurnal tentang Kecemasan & Gangguan Kecemasan)

Iklan
0

Hipetensi

1. Pengertian Hipertensi

Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris “Hypertension”. Kata Hypertension itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yakni “hyper” yang berarti super atau luar biasa dan “tension” yang berarti tekanan atau tegangan. Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yakni penyakit tekanan darah tinggi. Selain itu dikenal juga dengan istilah “High Blood Pressure” yang berarti tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah tenaga yang dipakai oleh darah yang dipompa dari jantung untuk melawan tahanan darah. Tekanan darah adalah sejumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah keseluruh tubuh. Jika tekanan darah seseorang meningkat dengan tajam dan kemudian tetap tinggi, orang tersebut dapat dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi. (Bangun, 2006)

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur dengan spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah merokok atau minum kopi. (Wade, 2003)

Ada berbagai macam batasan tingginya tekanan darah untuk dapat disebut hipertensi. Menurut WHO 1993 dan JNC VI menetapkan batasan hipertensi adalah tekanan darah menetap 140/90 mmHg diukur pada waktu istirahat. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi jika tekanan darah sistoliknya lebih besar daripada 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Tekanan darah yang ideal adalah jika tekanan sistoliknya  120 mmHg dan diastoliknya 80 mmHg. (Bruner & Suddarth, 2002)

Secara umum seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/90 mmHg). Tekanan darah normal (normotensif) sangat dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yaitu untuk mengangkat oksigen  dan zat gizi. (Astawan, 2005) Penulisan tekanan darah seperti 110/70 mmHg adalah didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung. Nilai yang lebih tinggi (sistolik) menunjukan fase darah yang sedang di pompa oleh jantung, dan nilai yang lebih rendah (diastolik) menunjukan fase darah kembali ke jantung.

Hipertensi adalah kelainan yang sering ditemukan pada manusia yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah sistemik, tekanan darah yang normal pada manusia diukur pada posisi berbaring dan duduk dimana tekanan darahnya adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik.

Penderita hipertensi yang sangat heterogen membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mozaik, diderita oleh orang banyak yang datang dari berbagai subkelompok, berisiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon, dan genetik, maupun yang bersifat eksogen seperti rokok, nutrisi dan stressor. (Kodim, 2005)

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokan menjadi 2  golongan, yaitu :

a)       Hipertensi Primer atau hipertensi esensial

Hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya atau idiopatik yang meliputi kurang lebih 90 % dari seluruh kasus hipertensi.

b)      Hipertensi Sekunder atau hipertensi renal

Hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain yang meliputi kurang lebih 10 % dari seluruh kasus hipertensi.

Sekitar 50 % dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya dan hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya, oleh karena itu upaya penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. (Susalit, 2002)

Sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi padahal sesungguhnya tidak. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, pendarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang biasa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang diketahui. Menurut  The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2. (Yogiantoro, 2006)

Hipertensi selanjutnya dapat memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah) dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi. (Bangun, 2006)

2.  Epidemiologi

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. (Yogiantoro, 2006) Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. (Armilawaty, 2007)

Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan  masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan  kesehatan. Baik dari segi case finding maupun penatalaksanaan  pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa  Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian  Jaya sebesar 0,6% sedangkan angka prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. (Wade, 2003)

Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran penderita hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan mencapai puncaknya pada kelompok umur ≥ 65 tahun yaitu sebesar  31,48%. Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar 41,98%. (Oktora, 2007)

3.  Etiologi Hipertensi

Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan pasti. Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal, gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Penyebab paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang tidak terobati. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. (Sharma, 2008) Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara  lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi. (Yogiantoro, 2006)

Faktor lingkungan merupakan faktor yang paling berperan dalam perjalanan munculnya penyakit hipertensi. Faktor ini meliputi intake garam yang berlebihan, obesitas, pekerjaan, alkoholisme, stresor psikogenik dan tempat tinggal. Semakin banyak seseorang terpapar faktor-faktor tersebut maka semakin besar kemungkinan seseorang menderita hipertensi, juga seiring bertambahnya umur seseorang. (Fauci et al, 2002)

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang ditetapkan sebagai penyebab langsung hipertensi esensial. Berbeda dengan hipertensi sekunder yang saat ini telah banyak ditemukan penyebabnya secara langsung, beberapa di antaranya adalah : sleep-apnea, drug-induced atau drug-related hypertension, penyakit ginjal kronik. Aldosteronisme primer, penyakit renovaskular, terapi steroid jangka lama dan sindrom Cushing. (Elliot dan Simpson, 2000)

4.  Klasifikasi

Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata dua kali pengukuran pada masing-masing kunjungan.

1)        Klasifikasi menurut The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988)

The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988) mengklasifikasikan tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan darah yang dimaksud adalah rata-rata dua atau lebih pengukuran dan dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda.

Tekanan darah diastolik :

< 85 mmHg                        = tekanan darah normal

85-89 mmHg                      = tekanan darah ringan

90-105 mmHg                    = tekanan darah sedang

106-114 mmHg                  = tekanan darah berat

> 115 mmHg                      = tekanan darah berbahaya

Tekanan darah sistolik :

< 140 mmHg                      = tekanan darah normal

140-159 mmHg                  = Bordeline Isolated Systolic Hypertension

> 160 mmHg                      = Isolated Systolic Hypertension

2)       Klasifikasi Menurut WHO

Menurut WHO (World Health Organization) tekanan darah dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu :

  1. Normatensif (tekanan darah normal) yaitu jika tekanan darah sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
  2. Bordeline Hypertension (tekanan darah perbatasan) yaitu tekanan darah sistolik 141-149 mmHg dan tekanan darah diastolik 91-94 mmHg.
  3. Hypertension (tekanan darah tinggi) yakni jika tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 160 mmHg dan terkanan darah diastolik lebih atau sama dengan 95 mmHg.

3)       Klasifikasi menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee on The Prevention, Detection, Evalution of High Blood Pressure (2003). Batasan yang digunakan adalah untuk individu diatas umur 18 tahun, tidak dalam pengobatan antihipertensi dan tidak dalam keadaan sakit mendadak.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Untuk yang berumur 18 tahun atau lebih

KATEGORI

SISTOLIK (mmHg)

DIASTOLIK (mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi Stadium I

140-159

90-99

Hipertensi Stadium II

> 160

> 100

Sumber : JNC VII 2003

5.  Mekanisme Hipertensi

                        Tekanan darah tinggi merupakan bahaya terselubung karena tidak menampakan gejala yang nyata. Tekanan darah tergantung dari jantung sebagai pompa dan hambatan pembuluh arteri. Selama 24 jam, tekanan  darah tidak tetap. Tekanan darah yang paling rendah terjadi jika tubuh dalam keadaan istirahat dan akan naik sewaktu mengadakan latihan atau olahraga. Tubuh seseorang memiliki suatu mekanisme yang dapat mengatur tekanan darah, sehingga dapat menyuplai sel-sel darah dan oksigen yang cukup. Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostenin II dari angiostenin I oleh Angiostensi I-Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam pengaturan tekanan darah. Hormon renin yang diproduksi oleh ginjal akan diubah menjadi angiostenin I. ACE yang terdapat di dalam paru-paru, angiostenin I diubah menjadi Angiostenin II. Angiostenin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikan tekanan darah melalui dua cara.

Pertama adalah meningkatkan sekresi hormon Antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitary) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. ADH yang meningkat, akan menghasilkan sedikit urin untuk diekskresikan kelur tubuh, sehingga menjadi pekat dan osmolalitasnya tinggi. Volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler untuk mengencerkannya, akibatnya volume darah meningkat yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Cara kedua adalah dengan menstimulasi sekresi aldosteron dari kortek adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang akan mengurangi eksresi NaCl (garam) dengan cara mengabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada giliranya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. (Astawan, 2005)

Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume sirkulasi darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi.

Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadang-kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun. (Sharma, 2008)

6.  Komplikasi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan  penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan risiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun.

Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ  vital. Penyebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal.

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Komplikasi pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Perdarahan yang sering terjadi di otak disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.

Risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien hipertensi ditentukan tidak hanya tingginya tekanan darah tetapi juga telah atau belum adanya kerusakan organ target serta faktor risiko lain seperti merokok, dislipidemia dan diabetes melitus. (Susalit, 2002)

Tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari 50 tahun, merupakan faktor risiko kardiovaskular yang penting. Selain itu dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali. (Ridjab, 2005)

7.  Faktor Risiko Hipertensi

                        Risiko adalah ukuran statistik dari peluang untuk terjadinya suatu keadaan yang tidak di inginkan dimasa datang. Faktor risiko adalah suatu keadaan atau ciri tertentu pada seseorang atau kelompok yang mempunyai hubungan dengan peluang terjadinya suatu penyakit, cacat, kematian. (Rochjati, 1992)

Faktor-faktor yang dapat dimasukkan sebagai risiko hipertensi menurut Bustan (1997) seperti : umur, ras, keadaan geografik, seks, kegemukan, stress, personlity tipe A, diet, diabeter melitus, komposisi air, alkohol, rokok, kopi serta pil KB.

8.  Lima (5) tahap Pencegahan Penyakit Hipertensi (Five Level Prevention)

          1. Health Promotion

Promosi kesehatan (Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. (Noor, 2000)

Menurut Noor (2000), promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:

a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agen-agen penyakit.

b. Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi asupan alkohol, berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat badan dan mengatasi stres yang baik.

2. Spesific protection

Pencegahan khusus (spesific protection) merupakan rangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan pada pejamu dan/atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu (Noor, 2000) dengan berbagai upaya seperti: perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti: makan dengan teratur (3x sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agen penyakit pada saat masuk ke dalam tubuh.

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment

Menurut Noor (2000), diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt Treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini yaitu sebagai berikut:

a. Meluasnya penyakit atau terjadinya tidak menular.

b. Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

c.Melakukan screening (pencarian penderita hipertensi) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit hipertensi.

d. Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit hipertensi sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.

4. Disability Limitation

Menurut Noor (2000), pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab penyakit.

Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan dan kematian akibat penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan upaya seperti: mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihan dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit hipertensi tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu.

5. Rehabilitation

Menurut Noor (2000), rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (Disability Limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit hipertensi yaitu sebagai berikut:

a. Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit hipertensi.

b. Rehabilitasi mental dari penderita hipertensi, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada di sekitarnya karena pernah menderita penyakit hipertensi.

c. Rehabilitasi sosial bagi penderita hipertensi, sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdayaguna.

1

Karies Gigi

a.      Pengertian Karies Gigi

Umumnya, penyakit yang menyerang gigi dimulai dengan adanya plak gigi.  Plak timbul dari sisa makanan yang mengendap pada lapisan gigi yang kemudian berinteraksi dengan bakteri yang banyak terdapat dalam mulut, seperti Streptococcus mutans.  Plak akan melarutkan lapisan email pada gigi yang lama kelamaan lapisan tersebut menipis.  Terjadinya plak sangat singkat, yaitu hanya 10-15 menit setelah makan.  Plak yang menumpuk kemudian membentuk karies gigi yang akhirnya merusak email hingga melubangi gigi (Besford, 1996).

Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan demineralisasi (larutnya mineral email) dan  terus berjalan ke bagian yang lebih dalam dari gigi sehingga terjadi kavitasi (pembentukan lubang) yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus) (Schuurs, 1993).

Karies gigi adalah penghancuran terlokalisasi dari jaringan gigi oleh mikroorganisme (Pine, 1997).  Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan (Kidd & Bechal,1991).

Newburn dalam Darwita (2004) mendefinisikan karies gigi sebagai penyakit bakterial yang menyerang gigi dimana bagian organik dari gigi mengalami destruksi, sedangkan bagian anorganiknya mengalami dekalsifikasi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karies gigi adalah suatu proses kronis regresif , dimana prosesnya terjadi terus berjalan ke bagian  yang lebih dalam dari gigi sehingga membentuk lubang yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, pada proses ini terjadi demineralisasi yang disebabkan oleh adanya interaksi kuman, karbohidrat yang sesuai pada permukaan gigi dan waktu.

b.      Proses Terjadinya Karies Gigi

Karies gigi adalah penyakit multifaktor yang merupakan hasil kombinasi dari 4 faktor utama yaitu inang dan gigi, mikroorganisme di dalam plak, substrat dan waktu (Pine, 1997).

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Schuurs, 1993).

Biasanya karies terlihat berwarna cokelat kehitaman atau noda-noda putih yang bila diraba dengan sonde, email belum tersangkut. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi akan timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Lama-kelamaan bagian karies ini akan terasa kasar serta diikuti dengan tertahannya sonde. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.  Karies yang berwarna cokelat kehitaman lebih lama menimbulkan lubang pada gigi sedangkan noda yang berwarna putih lebih cepat menimbulkan lubang (Tarigan, 1995).

c.       Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi

1)   Mikroorganisme              

Peran bakteri dalam menyebabkan terjadinya karies sangatlah besar. Bakteri yang sangat dominan dalam karies gigi adalah Streptococcus mutans. Bakteri ini sangat kariogen karena mampu membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.  Akibatnya bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain.

Streptococcus mutans berperan dalam proses awal karies yaitu lebih dulu masuk lapisan luar email. Selanjutnya Lactobacillus acidophilus mengambil alih peranan pada karies yang lebih merusakkan gigi.  Mikroorganisme menempel di gigi bersama plak.  Plak terdiri dari mikroorganisme (70 %) dan bahan antar sel (30 %).  Plak akan tumbuh bila ada karbihidrat, sedang karies akan terjadi bila ada plak dan karbohidrat (Suwelo, 1992).

2)   Substrat

Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari yang menempel pada gigi. Seringnya mengkonsumsi gula akan menambah pertumbuhan plak dan menambah jumlah Streptococcus mutans didalamnya.

Sukrosa merupakan gula yang kariogen, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Sukrosa merupakan gula yang paling banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama (Kidd & Bechal,1991).

3)   Inang atau Gigi

Faktor- faktor dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan karies, yaitu :

a)  Bentuk

Variasi morfologi gigi juga mempengaruhi resistensi gigi terhadap karies.  Gigi dengan fissure (lekukan) yang dalam lebih mudah terserang karies. Hal demikian memudahkan masuknya makanan di daerah itu yang sulit dibersihkan.

b)  Posisi

Gigi yang berjejal dan susunannya tidak teratur lebih sukar dibersihkan.  Hal ini cenderung meningkatkan penyakit periodontal dan karies. Gigi geligi berjejal (crowding) dan saling tumpang tindih (over lapping) akan mendukung terjadinya karies, karena daerah tersebut sulit dibersihkan.  Gigi yang mempunyai permukaan dan bentuk yang tidak teratur dapat mengakibatkan sisa-sisa makanan terselip dan bertahan sehingga produksi asam oleh bakteri berlangsung cepat dan mengakibatkan terjadinya pembusukan gigi yang memicu timbulnya gigi berlubang.

c)  Struktur

Komposisi gigi sulung terdiri dari email dan dentin.  Dentin adalah lapisan di bawah email.  Permukaan email lebih banyak mengandung mineral dan bahan-bahan organik dengan air yang relatif lebih sedikit.  Permukaan email terluar lebih tahan karies dibanding lapisan di bawahnya, karena lebih keras dan lebih padat.  Struktur email sangat menentukan dalam proses terjadinya karies (Suwelo, 1992).

Keberadaan flour dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan lingkungannya merangsang efek anti karies (Kidd & Bechal, 1991).

4)  Waktu

Waktu menjadi salah satu faktor penting, karena meskipun ada ketiga faktor sebelumnya proses pembentukan karies gigi relatif lambat dan secara klinis terlihat kehancuran dari email lebih dari empat tahun (Pine, 1997).

Saliva berperan dalam menjaga kelestarian gigi.  Banyak ahli menyatakan, bahwa saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia (produksi ludah yang kurang) dimana akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat (Suwelo, 1992).

Sekresi kelenjar anak-anak masih bersifat belum konstan, karena kelenjarnya masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan.  Saliva berfungsi sebagai pelicin, pelindung, penyangga, pembersih, pelarut dan anti bakteri. Sekresi air ludah yang sedikit atau tidak ada sama sekali memiliki persentase karies yang tinggi (Suwelo, 1992).

Berikut peranan aliran saliva dalam memelihara kesehatan gigi:

a)      Aliran saliva yang baik akan cenderung membersihkan mulut termasuk melarutkan gula serta mengurangi potensi kelengketan makanan.  Dengan kata lain, sebagai pelarut dan pelumas.

b)      Aliran saliva memiliki efek buffer (menjaga supaya suasana dalam mulut tetap netral), yaitu saliva cenderung mengurangi keasaman plak yang disebabkan oleh gula.

c)      Saliva mengandung antibodi dan anti bakteri, sehingga dapat mengendalikan beberapa bakteri di dalam plak.  Namun jumlah saliva yang berkurang akan berperan sebagai pemicu timbulnya kerusakan gigi (Besford, 1996).

Faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan proses terjadinya karies, antara lain :

a)      Letak geografis

Perbedaan prevalensi karies ditemukan pada penduduk yang geografis letak kediamannya berbeda seperti lamanya matahari bersinar, suhu, cuaca, air, keadaan tanah, dan jarak dari laut.  Kandungan flour 1 ppm dalam air akan berpengaruh terhadap penurunan karies (Suwelo, 1992).

b)      Pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemeliharaan kesehatan gigi

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.  Pengetahuan/ kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang diterimanya. Sikap itu belum merupakan tindakan, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan (Notoatmodjo, 2003).

Tindakan atau praktek yaitu suatu respon seseorang terhadap rangsangan dari luar subyek, bisa bersifat positif atau tindakan secara langsung dan bersifat negatif atau sudah tampak dalam tindakan nyata (Notoatmodjo, 2003).

d.  Faktor-faktor yang Meningkatkan Karies Gigi

1)      Diabetes Melitus

Diabetes Melitus dapat meningkatkan terjadinya jumlah penderita karies.  Tetapi bila seorang penderita telah menyadari keadaannya dan menjalankan diet, keberadaan karies bahkan akan terjadi lebih sedikit dibandingkan rata-rata.

2)   Xerostomia

Xerostomia merupakan penyakit kurang produksi ludah.  Hal ini jelas merupakan faktor predisposisi.

e.       Jenis Karies Gigi Berdasarkan Tempat Terjadinya

1)      Karies Insipiens

Karies Insipiens merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkeras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email.

2)      Karies Superfisialis

Karies Superfisialis merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan kadang-kadang terasa sakit.

3)      Karies Media

Karies Media merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa.  Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis.

4)      Karies Profunda

Karies Profunda merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun.  Apabila tidak segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-karies lainnya (Schuurs, 1993).

f.       Pencegahan Karies Gigi

Pencegahan karies gigi bertujuan untuk mempertinggi taraf hidup dengan memperpanjang kegunaan gigi di dalam mulut.

Pencegahan karies gigi meliputi :

1)      Konsumsi vitamin dan mineral yang menguatkan gigi

Tindakan ini ditujukan pada kesempurnaan struktur email dan dentin atau gigi pada umumnya.  Ada beberapa vitamin dan zat mineral yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan dan kekerasan gigi.  Vitamin dan mineral tersebut adalah vitamin A, C dan D serta mineral Ca, P, F dan Mg.  Selain usia anak-anak dan dewasa, para ibu hamil pun perlu diberikan makanan yang mengandung unsur-unsur yang dapat menguatkan email dan dentin sebelum agar tidak terjadi pengapuran pada gigi bayinya.

2)      Kebersihan mulut dan gigi yang harus diperhatikan supaya tetap sehat.

Menggosok gigi merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi dalam rangka tindakan pencegahan karies gigi. Walaupun kegiatan menggosok gigi merupakan kegiatan yang sudah umum namun masih ada kekeliruan baik dalam pengertiannya maupun dalam pelaksanaannya (Besford, 1996).

Melakukan penyikatan gigi yang baik adalah dengan frekuensi dan waktu sesuai yang disarankan Manson (1995) yaitu dua kali, pagi hari sesudah makan dan malam hari sebelum tidur atau yang disarankan Be Kien Nio (1982) yaitu tiga kali sehari setiap kali setelah makan dan malam sebelum tidur (Chemiawan, 2004).

3)      Pemeriksaan berkala 6 bulan sekali

Pemeriksaan gigi pada dokter gigi atau pelayanan kesehatan yang ada perlu dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali untuk mencegah terjadinya karies gigi.

4)      Pengaturan konsumsi makanan yang mengandung banyak gula

Frekuensi dari konsumsi makanan yang mengandung banyak gula harus sangat dikurangi khususnya konsumsi makanan kecil yang dilakukan antara jam-jam makan (waktu senggang).

5)      Penggunaan fluor

Penggunaan fluor merupakan metode yang paling efektif untuk menghambat kehidupan bakteri yang ada pada plak dalam mulut sehingga dapat mencegah terjadinya karies gigi.  Penggunaan fluor dapat diberikan dalam bentuk fluoridasi air minum, fluoridasi garam dapur, fluoridasi air susu, tablet hisap fluor, pasta gigi dan larutan fluor untuk berkumur (Tarigan, 1995).

0

Penyakit Campak

1.      Pengertian

Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus campak, 90 % anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak (Depkes RI, 2008).

2.      Cara dan Masa Penularan

  1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
  2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit (Depkes RI, 2008)

3.      Etiologi

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxopiridae dengan masa inkubasi rata-rata 10 hari. Virus campak berasal dari sekresi yang keluar dari hidung dan tenggorokan, saat penderita campak bersin, batuk atau bernafas. Penyakit campak hanya menyerang manusia sehingga secara bertahap dapat direduksi, eliminasi dan akhirnya dapat dieradikasi (Depkes, 2006).

Orang-orang yang rentan terkena campak adalah;

  1. Anak berumur lebih dari 1 tahun
  2. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi
  3. Remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua (Chaudhry dan Harvey, 2001).

4.      Patogenesis

Virus campak menginfeksi dengan invasi pada epitel traktus respiratorius mulai dari hidung sampai traktus respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa respiratorius segera disusul dengan viremia pertama dimana virus menyebar dalam leukosit pada sistem retikuloendotelial. Setelah terjadi nekrosis pada sel retikuloendotelial sejumlah virus terlepas kembali dan terjadilah viremia kedua.

Sel yang paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan yang terinfeksi termasuk timus. kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah terjadi viremia kedua seluruh mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga menyebabkan timbulnya gejala batuk dan korisa. Campak dapat secara langsung menyebabkan croup, bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan respiratorius seperti edema dan hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia. Setelah beberapa hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak koplik dan kemudian timbul ruam pada kulit. Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan penyakit menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat reaksi hipersensitivitas host pada virus campak (Tommy, 2000).

5.      Manifestasi Klinis

Setelah masa tunas selama 10-11 hari penyakit diawali dengan demam dan malaise. Dalam waktu 24 jam terjadi korisa, konjungtivitis dan batuk. Keluhan tersebut semakin menghebat hingga mencapai puncaknya pada hari ke empat dengan munculnya erupsi kulit. Kira-kira dua hari sebelum timbul ruam tampak bercak koplik pada selaput mukosa pipi yang berhadapan dengan molar. Dalam tiga hari lesi semakin bertambah dan mengenai seluruh mukosa. Demam menurun dan bercak koplik menghilang pada akhir hari kedua setelah tirnbul ruam. Ruam berupa eupsi makulopapular yang kemerahan menjalar dari kepala (muka, dahi, garis batas rambut, telinga dan leher bagian atas) menuju ke ekstrimitas dalam 3 sampai 4 hari. Dalam 3 sampai 4 hari berikutnya ruam rnemudar sesuai urutan terjadinya. Komplikasi yang terjadi pada penderita campak dapat disebabkan oleh perluasan infeksi virus, infeksi sekunder oleh bakteri atau keduanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia obstruktif aringitis dan laryng trakeo bronchitis (Tommy, 2000).

6.      Lima Pencegahan (Five Level Prevention) Penyakit Campak

        a.      Health Promotion

Promosi kesehatan (health promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahap ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat (Noor, 2000).

Promosi kesehatan dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dalam berbagai upaya seperti :

1)        Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agent-agent penyakit khususnya penyakit infeksi seperti virus campak serta memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak.

2)        Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti tata cara dalam melakukan hygiene perorangan maupun hygiene masyarakat.

3)        Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar anggota rumah tangga dan lain-lain.

4)        Peningkatan kesegaran jasmani seperti; membiasakan diri melakukan olahraga secara teratur (Noor, 2000).

          b.      Spesifik Protection

Pencegahan khusus merupakan serangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan kepada penjamu dan atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit tertentu ( Noor, 2000).

Pencegahan khusus (spesifik protection) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Dapat melakukan modifikasi lingkungan seperti; perbaikan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dalam hal ini sarana air bersih, jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan tempat pembuangan sampah.

2)      Perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti ; makan dengan teratur (3 kali sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit pada saat masuk kedalam tubuh.

3)      Pemberian imunisasi campak ini juga bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh anak balita melalui anti gen yang dimasukan kedalam tubuh berupa virus campak yang telah di lemahkan. Sehingga dengan masuknya anti gen tersebut kedalam tubuh di harapkan dapat memberikan atau meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap virus campak jika menyerangnya (Noor, 2000).

c.       Early Diagnosis and Prompt Treatment

Diagnosis dini dan pengobatan dini (early diagnosis and prompt treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat kedua ini yaitu sebagai berikut :

1)      Meluasnya penyakit/terjadinya wabah pada penyakit menular.

2)      Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

Diagnosis dini dan terapi awal (early diagnosis and prompt treatment) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui; pemeriksaan berkala disarana pelayanan kesehatan untuk memastikan bahwa seseorang benar tidak menderita penyakit campak dan gangguan kesehatan lainnya.

2)      Melakukan screening (pencarian penderita penyakit campak) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit campak.

3)      Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit campak sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya (Noor, 2000).

        d.      Disability Limitation

Pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab tertentu. Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan akibat penyakit campak dapat dilakukan dengan upaya seperti : mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihanpun dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit campak tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi jika penderita mengalami penyakit campak dan disertai dengan infeksi oleh agent lainnya (Noor, 2000).

      e.       Rehabilitation

Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (disability limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi (rehabilitation) yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit campak yaitu sebagai berikut :

1)      Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit campak.

2)      Rehabilitasi mental/psycho rehabilitation dari penderita campak, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada disekitarnya karena pernah menderita penyakit campak.

3)      Rehabilitasi sosial bagi penderita campak sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdaya guna (Noor, 2000).

0

Surveilans Epidemiologi

~Tinjauan Tentang Surveilans Epidemiologi

1.      Pengertian

Surveilans menurut WHO adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Sehingga dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan (Masrochah, 2006).

Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah kabupaten/kota, propinsi dan Pusat (Azwar, 2003).

2.      Manfaat dan tujuan surveilans epidemiologi

Manfaat surveilans epidemiologi (a).Deteksi Perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya (b).Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit (c).Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan tempat (d).Identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya (e).Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi (f).Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis (g).Mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya (h).Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa datang (i).Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan. Inti kegiatan surveilans pada akhirnya adalah bagaimana data yang sudah dikumpul, dianalisis, dan dilaporkan ke stakeholder atau pemegang kebijakan untuk ditindaklanjuti dalam pembuatan program intervensi yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia (HIMAPID FKM UNHAS, 2008).

Tujuan surveilans epidemiologi tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat secara menyeluruh (Buton, 2008).

 

3.      Ruang lingkup penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan

Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa sebab, oleh karena itu secara operasional diperlukan tatalaksana secara integratif dengan ruang lingkup permasalahan sebagai berikut :

a.      Surveilans epidemiologi penyakit menular

Merupakan analisis terus menerus dan sistematika terhadap penyakit menular dan faktor resiko untuk upaya pemberantasan penyakit menular.

b.      Surveilans epidemiologi penyakit tidak menular

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.

c.       Surveilans epidemiologi kesehatan lingkungan dan perilaku

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor resiko untuk mendukung program penyehatan lingkungan.

d.      Surveilans epidemiologi masalah kesehatan

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan factor resiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.

e.       Surveilans epidemiologi kesehatan matra

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra (Depkes RI, 2003).

4.      Penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan

Penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan wajib dilakukan oleh setiap instansi kesehatan pemerintah, instansi kesehatan propinsi, instansi kesehatan kabupaten/kota dan lembaga masyarakat dan swasta baik secara fungsional atau struktural.

Mekanisme kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terus menerus dengan mekanisme sebagai berikut :

a. Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya.

b. Perekaman, pelaporan dan pengolahan data

c. Analisis dan intreprestasi data

d. Studi epidemiologi

e. Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkannya

f. Membuat rekomendasi dan alternatif tindak lanjut.

g. Umpan balik.

Jenis penyelenggaraan surveilans epidemiologi adalah sebagai berikut :

  • Penyelenggaraan berdasarkan metode pelaksanaan

1)      Surveilans epidemiologi rutin terpadu, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap beberapa kejadian, permasalahan dan atau faktor resiko kesehatan.

2)      Surveilans epidemiologi khusus, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap suatu kejadian, permasalahan , faktor resiko atau situasi khusus kesehatan

3)      Surveilans sentinel, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada populasi dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi atau wilayah yang lebih luas.

4)      Studi epidemiologi, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada periode tertentu serta populasi atau wilayah tertentu untuk mengetahui lebih mendalam gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau factor resiko kesehatan.

  • Penyelenggaraan berdasarkan aktifitas pengumpulan data

1)      Surveilans aktif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemilogi dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

2)      Surveilans pasif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

  • Penyelenggaraan berdasarkan pola pelaksanaan

1)      Pola kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau bencana

2)      Pola selain kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk keadaan di luar KLB dan atau wabah dan atau bencana,

  • Penyelenggaraan berdasarkan kualitas pemeriksaan

1)      Bukti klinis atau tanpa peralatan pemeriksaan, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan klinis atau tidak menggunakan peralatan pendukung pemeriksaan.

2)      Bukti laboratorium atau dengan peralatan khusus, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemerksaan laboratorium atau peralatan pendukung pemeriksaan lainnya.

5.      Komponen sistem

Setiap penyelenggaraan surveilans epidemiologi penyakit dan masalah kesehatan lainnya terdiri dari beberapa komponen yang menyusun bangunan sistem surveilans yang terdiri atas komponen sebagai berikut

  1. Tujuan yang jelas dan dapat diukur
  2. Unit surveilans epidemiologi yang terdiri dari kelompok kerja surveilans epidemiologi dengan dukungan tenaga profesional.
  3. Konsep surveilans epidemiologi sehingga terdapat kejelasan sumber dan cara-cara memperoleh data, cara mengolah data, cara-cara melakukan analisis, sarana penyebaran atau pemanfaatan data dan informasi epidemiologi serta mekanisme kerja surveilans epidemiologi.
  4. Dukungan advokasi peraturan perundang-undangan, sarana dan anggaran.
  5. Pelaksanaan mekanisme kerja surveilans epidemiologi
  6. Jejaring surveilans epidemiologi yang dapat membangun kerjasama dan pertukaran data dan informasi epidemiologi, analisis, dan peningkatan kemampuan surveilans epidemiologi.
  7. Indikator kinerja : Penyelenggaraan surveilans epidemiologi dilakukan melalui jejaring surveilans epidemiologi antara unit-unit surveilans dengan sumber data, antara unit-unit surveilans dengan pusat-pusat penelitian dan kajian, program intervensi kesehatan dan unit-unit surveilans lainnya.

6.      Langkah-langkah kegiatan surveilans

Kegiatan surveilans meliputi :

a.      Pengumpulan data

Pengumpulan data merupakan awal dari rangkaian kegiatan untuk memproses data selanjutnya. Data yang dikumpulkan memuat informasi epidemiologis yang dilaksanakan secara teratur dan terus menerus dan dikumpulkan tepat waktu. Pengumpulan data dapat bersifat pasif yang bersumber dari rumah sakit, puskesmas dan lain-lain, maupun aktif yang diperoleh dari kegiatan survey. Untuk mengumpulkan data diperlukan sistem pencatatan dan pelaporan yang baik. Secara umum pencatatan di puskesmas adalah hasil kegiatan kunjungan pasien dan kegiatan luar gedung (Budioro, 2007).

Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi terhadap orang-orang yang dianggap penderita campak atau population at risk melalui kunjungan rumah (active surveillance) atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan sarana pelayanan kesehatan yaitu dari laporan rutin poli umum setiap hari, laporan bulanan puskesmas desa dan puskesmas pembantu, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan harian dari laboratorium dan laporan dari masyarakat serta petugas kesehatan lain (pasive surveillance). Atau dengan kata lain,  data dikumpulkan dari unit kesehatan sendiri dan dari unit kesehatan yang paling rendah, misalnya laporan dari pustu, posyandu, barkesra, poskesdes. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik wawancara dan atau pemeriksaan (Arias, 2010).

Sumber data surveilans epidemiologi meliputi : (1).Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (2).Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta laporan dari kantor pemerintah dan masyarakat. (3).Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan masyarakat. (4).Data geografi yang dapat diperoleh dari Unit Meteorologi dan Geofisika. (5).Data laboratorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (6).Data Kondisi lingkungan. (7).Laporan wabah. (8).Laporan Penyelidikan wabah/KLB. (9).Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan. (10).Studi epidemiologi dan hasil penelitian lainnya. (11).Data hewan dan vektor sumber penularan penyakit yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (11).Laporan kondisi pangan. (12).Data dan informasi penting lainnya (Budioro, 2007).

b.      Pengolahan dan penyajian data

Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik (histogram, poligon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan komputer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data diantaranya dengan menggunakan program (software) seperti epid info, SPSS, lotus, excel dan lain-lain (Budioro, 2007).

c.       Analisis data

Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena akan dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit. Kegiatan ini menghasilkan ukuran-ukuran epidemiologi seperti rate, proporsi, rasio dan lain-lain untuk mengetahui situasi, estimasi dan prediksi penyakit (Noor, 2000).

Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data bulanan atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan atau penurunan dan mencari hubungan penyebab penyakit campak dengan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian campak (Arias, 2010).

d.      Penyebarluasan informasi

Penyebarluasan informasi dapat dilakukan ke tingkat atas maupun ke bawah. Dalam rangka kerja sama lintas sektoral instansi-instansi lain yang terkait dan masyarakat juga menjadi sasaran kegiatan ini. Untuk diperlukan informasi yang informatif agar mudah dipahami terutama bagi instansi diluar bidang kesehatan (Budioro, 2007).

Data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan surveilans epidemiologi penyakit campak disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat melakukan tindakan penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program kesehatan, pusat-pusat penelitian dan pusat-pusat kajian serta pertukaran data dalam jejaring surveilans epidemiologi agar diketahui terjadinya peningkatan atau penurunan kasus penyakit (Arias, 2010).

Penyebarluasan informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Cara penyebarluasan informasi yang dilakukan yaitu membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan kepada atasan,  membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu tulisan di majalah rutin, memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses dengan mudah (Depkes RI, 2003).

e.       Umpan balik

Kegiatan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat menerima laporan setelah diolah dan dianalisa melakukan umpan balik kepada unit kesehatan yang melakukan laporan dengan tujuan agar yang mengirim laporan mengetahui bahwa laporannya telah diterima dan sekaligus mengoreksi dan memberi petunjuk tentang laporan yang diterima. Kemudian mengadakan umpan balik laporan berikutnya akan tepat waktu dan benar pengisiannya. Cara pemberian umpan balik dapat melalui surat umpan balik, penjelasan pada saat pertemuan serta pada saat melakukan pembinaan/suvervisi (Arias, 2010).

f.       Investigasi penyakit berpotensi KLB

Setelah pengambilan keputusan perlunya mengambil tindakan maka terlebih dahulu dilakukan investigasi/penyelidikan epidemiologi penyakit campak. Dengan investigator membawa ceklis/format pengisian tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam hal ini adalah penyakit dan bahan untuk pengambilan sampel di laboratorium. Setelah melakukan investigasi penyelidikan kemudian disimpulkan bahwa benar-benar telah terjadi KLB yang perlu mengambil tindakan atau sebaliknya (Arias, 2010).

g.      Tindakan penanggulangan

Berdasarkan hasil investigasi/penyelidikan epidemiologi tersebut maka segera dilakukan tindakan penanggulangan dalam bentuk yaitu: (1) Pengobatan segera pada penderita yang sakit, (2) Melakukan rujukan penderita yang tergolong berat, (3) Melakukan penyuluhan mengenai penyakit kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran agar tidak tertular penyakit atau menghindari penyakit tersebut, (4) Melakukan gerakan kebersihan lingkungan untuk memutuskan rantai penularan (Arias, 2010).

h.      Evaluasi

Setiap program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk mengevaluasi manfaatnya . sistem dapat berguna apabila secara memuaskan memenuhi paling tidak salah satu dari pernyataan berikut : apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan yang mengidentifikasi perubahan dalam kejadian kasus penyakit, apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemik kejadian penyakit di wilayah tersebut, apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di wilayah tersebut, apakah program surveilans  dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit dan apakah program surveilans tersebut dapat menilai efek tindakan pengendalian (Arias, 2010).

2

Kepercayaan Pasien Akan Pelayanan Kesehatan

Menurut Sunanti (2006), kepercayaan merupakan elemen penting yang berpengaruh pada kualitas suatu hubungan. Kepercayaan konsumen terhadap penyedia jasa akan meningkatkan nilai hubungan yang terjalin dengan penyedia jasa. Tingginya kepercayaan akan dapat berpengaruh terhadap menurunnya kemungkinan untuk melakukan perpindahan terhadap penyedia jasa lain.

Menurut Mohamad (2009), membangun kepercayaan ini jauh lebih penting dari sekadar menyediakan ruang yang mewah dan teknologi yang canggih. Judarwanto (2007) menganalisis, bahwa kepercayaan pasien terhadap dokter adalah kunci utama keberhasilan penanganan suatu penyakit. Sebagian besar indikasi berobat ke luar negeri adalah bukan karena keterbatasan alat dan kemampuan dokter, tetapi karena permintaan keluarga pasien. Secanggih apapun sarana medis atau sepintar apapun dokternya tidak akan berarti bila tidak ada rasa percaya. Saat ini masyarakat kita kurang percaya terhadap mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia. Mereka yang berpenghasilan menengah keatas lebih memilih menjalankan pengobatan di luar negeri.

Penelitian Ariawan (2002) menyimpulkan bahwa rumah sakit yang mampu menghargai pasiennya akan dapat meningkatkan kepercayaan pasien yang dilayaninya. Tinggi rendahnya kepercayaan pasien dipengaruhi oleh tinggi rendahnya intensitas komunikasi. Keterpaksaan yang dirasakan pasien akan berpengaruh negatif terhadap kepercayaan pasien. Dengan demikian pihak rumah sakit yang senantiasa membangun komunikasi yang berkualitas dengan pasien akan meningkatkan kepercayaan pasien, sebaliknya apabila pihak rumah sakit tidak melakukan komunikasi dengan baik maka dimungkinkan kepercayaan pasien tidak terbentuk dengan baik.

Menurut Morgan dan Hunt (2008) aspek kepercayaan dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan tingkat keyakinan pasien terhadap kemampuan pihak rumah sakit untuk memenuhi harapan-harapan pasien atau sejauh mana pasien percaya terhadap keahlian yang dimiliki pihak rumah sakit. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan keyakinan pasien terhadap kredibilitas Rumah Sakit, jaminan pelayanan serta niat baik dari pihak Rumah Sakit.

Kepercayaan terhadap petugas kesehatan di Rumah Sakit merupakan salah satu faktor dari kepercayaan terhadap Rumah Sakit secara umum. Menurut Susilowati (2011) kepercayaan merupakan poin penting bagi seorang perawat. Pelayanan keperawatan yang baik saat ini bisa diukur melalui kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Masyarakat sudah bisa menilai standar praktik yang diberikan perawat, kemudian etika serta profesionalismenya. Bila standar itu tidak terpenuhi, maka masyarakat tidak percaya lagi.

Beberapa fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat mulai kurang merasa dilayani oleh pelayanan kesehatan. Rendahnya kepercayaan masyarakat ini, biasanya terjadi berdasarkan pengalaman nyata mereka sendiri akan pelayanan keperawatan yang pernah mereka terima menumbuhkan kepercayaan, perawat harus menyadari terlebih dulu hal apa yang menjadi kekuatan serta kelemahannya, dengan begitu akan dimulai pergerakan ke arah kapabilitas yang lebih tinggi. Para perawat masa kini mestilah bisa menjawab rasa ketidakpercayaan tersebut melalui upaya-upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat dengan bekerja berdasarkan nilai-nilai yang dihayati, nilai dasar sebagai manusia, melayani dengan alturisme yang tinggi, dan selalu sadar diri dengan apa yang akan dilakukan (Susilowati, 2011).

1

Akses Pelayanan Kesehatan

Akses pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan itu harus dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis, social, ekonomi, organisasi dan bahasa. Salah satunya yaitu keadaan\geografis yang dapat diukur dengan jarak, lama perjalanan, jenis transportasi dan atau hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan pelayanan ksehatan ( Pohan, 2004).

Secara umum jarak adalah letak wilayah (geografis) berhubungan dengan keterjangkauan tempat dan waktu. Keterjangkauan tempat berhubungan dengan tempat dan lokasi sarana pelayanan kesehatan dan tempat tinggal masyarakat dapat diukur dari jarak, waktu dan biaya perjalanan. Tempat tinggal masyarakat dengan pusat pelayanan kesehatan yang diukur dalam radius kilometer (Razak, 2000).

Konsep jarak tempat tinggal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan suatu kegiatan. Semakin jauh jarak antara tempat tinggal dengan tempat kegiatan akan semakin menurunkan motivasi seseorang dalam melakukan aktivitas. Sebaliknya semakin dekat jarak tempat tinggal dengan tempat kegiatan dapat meningkatkan usaha. Pengaruh jarak tempat tinggal dengan tempat kegiatan tak terlepas dari adanya besarnya biaya yang digunakan dan waktu yang lama. Kaitannya dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan masih rendah, sehingga jarak antara rumah tinggal dan tempat pelayanan kesehatan mempengaruhi perilaku mereka (Azwar, 1996).

Pelayanan kesehatan yang lokasinya terlalu jauh dari daerah tempat tinggal tentu tidak mudah dicapai, sehingga membutuhkan transportasi untuk menjangkau tempat pelayanan kesehatan, apabila keadaan ini sampai terjadi, tentu tidak akan memuaskan pasien, maka disebut suatu pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat dicapai oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan itu (Razak, 2000).

Mutu pelayanan kesehatan mempunyai beberapa dimensi salah satunya yaitu akses pelayanan kesehatan adalah kemudahan program jaminan atau menjangkau pelayanan yang disediakan baik secara geografis, dimana akses berhubungan dengan transportasi, jarak  dan lama perjalanan. Dengan demikian letak pelayanan kesehatan dapat dijangkau oleh masyarakat yang membutuhkannya (Winardi, 2002).