0

GANGGUAN KECEMASAN (Anxiety Disorder)

>> Pengertian Kecemasan:

Pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya (Sutardjo Wiramihardja, 2005)

Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hamper setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan kehidupan seseorang. Kcemasan bias muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).

Kecemasan merupakan respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalamn baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun, namun cemas yang berlebihan apalagi yang sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya (Kaplan, dkk, 2007).

Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disetrai perubahan fisiologis dan psikologis (Kholil Rochman, 2004).

Menurut Namora Lumongga Lubis (2009), kecemasan adalah tanggapan dari suatu ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengelami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berfikir tenanting sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi. Sedangkan menurut Siti Sundari (2004), kecemasan merupakan suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancamab terhadap kesehatan.

Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik tingkah lau yang menyimpang maupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Gunarsa, 2008).

Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatasas yaitu kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya ketidakpastian dimasa yang akan dating serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

>> Gejala Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan. Individu-individu yang tergolong normal kadang kala mengalami kecemasan yang Nampak sehingga dapat disaksikan pada penampilan yang berupa gejala-gejala fisik maupun mental. Gejala tersebut lebih jelas pada individu yang mengalami gangguan mental. Lebih jelas lagi bagi individu yang mengidap penyakit mental parah.

Gejala-gejala yang bersifat fisik diantaranya adalah jari tangan dingin, detak jantung mekin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak nyenyak, dada sesak. Sedangkan gejala yang bersifat mental yaitu ketakukan merasa akan ditimpa bahaya, tidak dapat memusatkan perhatian, tidak tentram, ingin lari dari kenyataan (Sundari, 2004).

Menurut Kaplan dkk (2007), Kecemasan juga memiliki kharakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau waspada yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Gejala-gejala kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-masing individu. Takut dan cemas merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri sendiri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.

Kecemasan berasal dari perasaan tidak sadar yang berada didalam kepribadian sendiri, dan tidak berhubungan dengan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar ada. Kholil Lur Rochman, (2010) mengemukakan beberapa gejala-gejala dari kecemasan antara lain :

  1. Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap kejadian menimbulkan rasa takut dan cemas. Kecemasan tersebut merupakan bentuk ketidakberanian terhadap hal-hal yang tidak jelas.
  2.  Adanya emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam keadaan exited (heboh) yang memuncak, sangat irritable, akan tetapi sering juga dihinggapi depresi.
  3.  Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delusion of persecution (delusi yang dikejar-kejar).
  4.  Sering merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah, banyak berkeringat, gemetar, dan seringkali menderita diare.
  5. Muncul ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan tekanan jantung menjadi sangat cepat atau tekanan darah tinggi.

Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly (2005:164) mengklasifikasikan gejala-gejala kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :

  1. Gejala fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau tersinggung.
  2. Gejala behavioral dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan dependen.
  3. Gejala kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

>> Faktor-faktor Penyebab Kecemasan

Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian besar tergantunga pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwaperistiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan kecemasan. Menurut Savitri Ramaiah (2003:11) ada beberapa faktor yang menunujukkan reaksi kecemasan, diantaranya yaitu :

a.      Lingkungan: Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja. Sehingga individu tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

b.      Emosi yang ditekan: Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama

c.       Sebab-sebab fisik: Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

Zakiah Daradjat (Kholil Lur Rochman, 2010:167) mengemukakan beberapa penyebab dari kecemasan yaitu :

a.      Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran

b.      Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-kadang terlihat dalam bentuk yang umum.

c.       Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya. 

Kecemasan hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun penyebabnya. Musfir Az-Zahrani (2005), menyebutkan faktor yang memepengaruhi adanya kecemasan yaitu:

  1. Lingkungan keluarga: Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau penuh dengan kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua terhadap anak-anaknya, dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta kecemasan pada anak saat berada didalam rumah.
  2. Lingkungan Sosial: Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan individu. Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan adanya berbagai penilaian buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya kecemasan.

Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata dan sewaktu-waktu terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan berada di lingkungan yang baru dihadapi (Patotisuro Lumban Gaol, 2004: 24). Sedangkan Page (Elina Raharisti Rufaidah, 2009), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah :

  1. Faktor fisik: Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga memudahkan timbulnya kecemasan.
  2. Trauma atau konflik: Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.
  3. Lingkungan awal yang tidak baik: Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.

>> Jenis- Jenis kecemasan

Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsangan dari luar. Mustamir Pedak (2009) membagi kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu :

  1. Kecemasan Rasional: Merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian.Ketakutan ini dianggap sebagai suatu unsur pokok normal dari mekanisme pertahanan dasariah kita.
  2. Kecemasan Irrasional: Yang berarti bahwa mereka mengalami emosi ini dibawah keadaankeadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.
  3. Kecemasan Fundamental: Kecemasan fundamental merupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan ini disebut sebagai kecemasan eksistensial yang mempunyai peran fundamental bagi kehidupan manusia.

Sedangkan Kartono Kartini (2006: 45) membagi kecemasan menjadi dua jenis kecemasan, yaitu :

  1. Kecemasan Ringan: Kecemasan ringan dibagi menjadi dua kategori yaitu ringan sebentar dan ringan lama.Kecemasan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seseorang, karenakecemasan ini dapat menjadi suatu tantangan bagi seorang individu untuk mengatasinya.Kecemasan ringan yang muncul sebentar adalah suatu kecemasan yang wajar terjadi padaindividu akibat situasi-situasi yang mengancam dan individu tersebut tidak dapat mengatasinya, sehingga timbul kecemasan. Kecemasan ini akan bermanfaat bagi individu untuk lebihberhati-hati dalam menghadapi situasi-situasi yang sama di kemudian hari.Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang dapat diatasi tetapi karena individu tersebut tidak segera mengatasi penyebab munculnya kecemasan, maka kecemasan tersebutakan mengendap lama dalam diri individu.
  2. Kecemasan Berat: Kecemasan berat adalah kecemasan yang terlalu berat dan berakar secara mendalam dalam diriseseorang. Apabila seseorang mengalami kecemasan semacam ini maka biasanya ia tidakdapat mengatasinya. Kecemasan ini mempunyai akibat menghambat atau merugikanperkembangan kepribadian seseorang. Kecemasan ini dibagi menjadi dua yaitu kecemasanberat yang sebentar dan lama.Kecemasan yang berat tetapi munculnya sebentar dapat menimbulkan traumatis padaindividu jika menghadapi situasi yang sama dengan situasi penyebab munculnya kecemasan.Sedangakan kecemasan yang berat tetapi munculnya lama akan merusak kepribadian individu. Halini akan berlangsung terus menerus bertahun-tahun dan dapat meruak proses kognisiindividu. Kecemasan yang berat dan lama akan menimbulkan berbagai macam penyakitseperti darah tinggi, tachycardia (percepatan darah), excited (heboh, gempar)

>> Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki cirri kecemasan atau ketakutan yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat secara intensif ditampilkan dalam cara-cara yang jelas. Fitri Fauziah & Julianty Widuri (2007) membagi gangguan kecemasan dalam beberapa jenis, yaitu :

a.      Fobia Spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik

b.      Fobia Sosial merupakan suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya dievaluasi atau dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan, dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan.

c.       Gangguan Panik, Gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain ; sulit bernafas, jantung berdetak kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin, dan gemetar. Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau kecacatan.

 d.      Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder) Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat pervasif, disertai dengan berbagai simtom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata.

Sedangkan Sutardjo Wiramihardja (2005) membagi gangguan kecemasan yang terdiri dari :

a.      Panic Disorder: Panic Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan panic yang tidak diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi orang lain bukan merupakan masalah luar biasa. Ada beberapa simtom yang menandakan kondisi panik tersebut, yaitu nafas yang pendek, palpilasi (mulut yang kering) atau justru kerongkongan tidak bisa menelan, ketakutan akan mati, atau bahkan takut gila.

b.      Agrophobia: yaitu suatu ketakutan berada dalam suatu tempat atau situasi dimana ia merasa bahwa ia tidak dapat atau sukar menjadi baik secara fisik maupun psikologis untuk melepaskan diri. Orang-orang yang memiliki agrophobia takut pada kerumunan dan tempat-tempat ramai. 

>> Dampak Kecemasan

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi yang betul-betul mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh berlebihan dibandingkan dengan bahaya yang sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik (Cutler, 2004).

Yustinus Semiun (2006:321) membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa simtom, antara lain :

a.      Simtom suasana hati: Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

b.      Simtom kognitif: Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

c.       Simtom motor: Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup, kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom motor merupakan gambaran rangsangan kognitif yang tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa saja yang dirasanya mengancam. Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada tekanan perasaan ataupun tekanan jiwa.

Menurut Savitri Ramaiah (2005) kecemasan biasanya dapat menyebabkan dua akibat, yaitu :

  1. Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal atau menyesuaikan diri pada situasi. Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang mencukupi.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi yang sangat mengancam karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan tersebut ditandai dengan adanya beberapa gejala yang muncul seperti kegelisahan, ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, merasa tidak tenteram, sulit untuk berkonsentrasi, dan merasa tidak mampu untuk mengatasi masalah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah, kecemasan timbul karena individu melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya, kecemasan juga terjadi karena individu merasa berdosa atau bersalah karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Dari beberapa gejala, faktor, dan definisi diatas, kecemasan ini termasuk dalam jenis kecemasan rasional, karena kecemasan rasional merupakan suatu ketakutan akibat adanya objek yang memang mengancam. Adanya berbagai macam kecemasan yang dialami individu dapat menyebabkan adanya gangguan-gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan spesifik yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik. Sehingga dapat menyebabkan adanya dampak dari kecemasan yang berupa simtom kognitif, yaitu kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

>> Pengobatan

Jika ada bentuk yang ringan Gad adalah terapi terapan, yang mengajarkan, Bagaimana untuk menyingkirkan cemas pikiran. Terapi termasuk:

1.      Terapi perilaku kognitif: Terapis pekerjaan adalah untuk, untuk mengubah pola pikir pasien, yang memungkinkan Anda untuk lebih mudah menanggapi situasi, yang mengkhawatirkan. Hal ini dapat mengurangi gejala kecemasan.

2.      Terapi perilaku: Terapis mengajarkan teknik relaksasi pasien, termasuk pernapasan glubokmu, relaksasi otot dan visualisasi. Menjelajahi bagaimana rasslableniââ dapat membantu pasien mengontrol kecemasan. Melainkan, bereaksi dengan kecemasan dan ketegangan, pasien yang belajar untuk tetap tenang. Dokter juga dapat mengekspos pasien untuk dampak yang kecil, yang menyebabkan kecemasan dan ketegangan. Ini akan memungkinkan untuk melakukan terapi dan langsung mengamati pasien dalam tidak menguntungkan bagi lingkungan.

Kelompok dukungan: Bergabung dengan kelompok self-help atau dukungan ini sering sangat berguna. Bentuk dukungan memungkinkan Anda untuk berbagi pengalaman dan belajar, bagaimana orang lain telah diatasi dengan GAD.

Biofeedback: Biofeedback bekerja dengan melampirkan sensor untuk tubuh. Terapis yang mencoba untuk menangkap sinyal dari tubuh, rangsangan, dan menentukan pengobatan, untuk mengurangi kecemasan.

 1.      Terapi Obat-Obatan

Obat bisa diresepkan untuk gejala, yang parah dan mengganggu pekerjaan. Obat dapat membantu meringankan gejala. Penting untuk dicatat, bahwa mengambil obat-obatan yang banyak tidak dapat tiba-tiba dihentikan, penghapusan mereka harus secara bertahap. Anda harus berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum Anda berhenti minum obat apapun. Obat-obatan dapat mencakup:

  • Benzodiazepin — untuk bersantai tubuh dan mengganggu tegangan dalam menanggapi mengganggu pikiran. Obat-obat ini harus diambil di bawah kendali, karena mereka dapat menyebabkan kecanduan; Obat-obatan untuk mengurangi kecemasan:
  • Buspirone — obat penenang, yang didasarkan pada;
  • Alprazolam — dapat ditunjuk untuk jangka waktu yang pendek;
  • Antidepresan (paling sering inhibitor reuptake serotonin [SSRI’S]) — untuk mengendalikan pikiran gelisah. Beberapa antidepresan dapat menyebabkan kerusakan pada perubahan suasana hati dan perilaku, termasuk pikiran bunuh diri pada beberapa pasien (langka);
  • Beta blocker-dapat digunakan, untuk mengurangi gejala fisik kecemasan

>> Pencegahan

Saat ini, metode untuk pencegahan gangguan kecemasan umum tidak diketahui. Deteksi dini dan pengobatan dapat mengurangi risiko komplikasi parah psikologis. Beberapa bukti menunjukkan, bahwa olahraga dapat mengurangi gejala gangguan kecemasan umum. Untuk lebih jauh mengurangi gejala kecemasan, hal ini diperlukan untuk menghindari kafein, nikotin, dan berlebihan penggunaan obat-obatan untuk pilek.

(Sumber: dari berbagai jurnal tentang Kecemasan & Gangguan Kecemasan)

0

Faktor Risiko Hipertensi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita hipertensi. berikut adalah beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi:

1. Kebiasaan Merokok

Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. (Armilawaty, 2007)

Penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Women’s Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek  yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari. (Bowman, 2007)

2. Kebiasaan Makan 

Kebiasaan makan adalah cara seseorang atau kelompok orang memilih dan memakanya sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, budaya dan sosial. Kebiasaan makan dinamakan pula, kebiasaan pangan. (Harper, 1996)

Pola konsumsi dan kebiasaan makan di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah lingkungan alami, bahan makanan yang tersedia, pertumbuhan ekonomi, adanya pantangan/tabu dan pendidikan. Namun pada dasarnya dua faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan makan manusia, yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia dan faktor instrinsik yang berasal dari dalam diri manusia.

Kebiasaan menu makanan yang hanya terdiri dari sumber karbohidrat seperti nasi, umbi-umbian atau kacang-kacangan dan sayuran tergolong kebiasaan menu rendah. Kebiasaan menu ini terdapat lebih banyak bahan makanan yang mengandung zat penghambat absorbsi besi, seperti fitrat, serat, tanin dan fosfat dalam menu makanan. Biasanya menu seperti ini dikonsumsi oleh keluarga yang berpenghasilan rendah yang tidak mampu mengusahakan makanan hewani.

Peningkatan kemakmuran biasanya juga akan diikuti oleh perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan. Kebiasaan makan di kota telah bergeser dari kebiasaan makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran, kebiasaan makan berat seperti instan food (makanan siap saji) yang komposisinya banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam yang tinggi tetapi miskin akan serat, sehingga mempunyai mutu gizi yang tidak seimbang. Sejalan dengan bertambahnya kesibukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari, berimbas pada jenis penyediaan makanan, yang dikenal dengan sebutan fast food (makanan cepat saji).

Terdapat banyak jenis makanan siap saji di pasaran antara lain KFC, McDonalds, Hamburger, Pizza, Spageti, Hot dog dan masih banyak lagi yang lain. Sesuai dengan namanya fast food, jenis makanan ini memiliki beberapa kelebihan antara lain penyajian cepat sehingga tidak menghabiskan waktu dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, higienis, dianggap sebagai makanan bergengsi, makanan modern dan makanan gaul. Sayangnya dibalik itu terdapat kekurangan yakni komposisi bahan makanannya kurang memenuhi standar makanan sehat berimbang, antara lain kandungan lemak jenuh berlebihan karena unsur hewani lebih banyak dibanding nabati, kurang sehat, kurang vitamin, terlalu banyak sodium. Penyajian fast food biasanya dilengkapi dengan minuman ringan (soft drink). Minuman jenis tersebut dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam urat dan menyebabkan hipertensi, karies gigi, karena kandungan gula yang berlebih.

Selain fast food, saat ini banyak jenis makanan yang dikemas dalam bentuk makanan ringan atau snack terbuat dari umbi-umbian, kentang, jagung dengan bumbu masak berupa kripik/chips, anak-anak sangat menyukai jenis ini sehingga terkadang menyebabkan anak tidak mau makan makanan utama (nasi) yang disiapkan di rumah. Chips/kripik termasuk jenis makanan berkalori tinggi, tetapi kurang kandungan vitamin dan protein sehingga disebut junk food (makanan sampah). (Irianto, 2007)

3. Konsumsi Alkohol

Alkohol merupakan salah satu faktor risiko yang memicu timbulnya hipertensi bahkan memicu timbulnya thrombosis. Orang yang sudah kecanduan alkohol akan lebih sering mengalami gangguan metabolisme karena berkurangnya cairan di dalam tubuh.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 86/Men.Kes/Per/IV/77, yang dimaksud dengan minuman keras adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat, yang meliputi :

1)      Minuman Keras Golongan A

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 1% sampai dengan 5%.

2)      Minuman Keras Golongan B

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 5% sampai dengan 20%.

3)      Minuman Keras Golongan C

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 20% sampai dengan 55%. (Nurwijaya, 2009)

Alkohol dalam jumlah besar terbukti bisa meningkatkan tekanan darah. Kenaikan tekanan darah ini disebabkan alkohol dalam darah dapat merangsang pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) yang membuat pembuluh darah menyempit dan juga menyebabkan penumpukan natrium dalam darah. Jika kadar alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah sedikit atau sedang, justru akan dapat menurunkan risiko penggumpalan darah yang dapat mengakibatkan stroke. Alkohol dalam jumlah tidak berlebihan dapat memicu produksi High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol yang baik yang dapat melindungi arteri dari penyempitan atau plak. Dikatakan sedang, jika alkohol dikonsumsi tidak lebih dari satu gelas per hari, dikatakan berat jika alkohol dikonsumsi lebih dari satu gelas per hari. (Marliani, 2007)

Berbagai penelitian telah dilakukan misalnya oleh Hull (1996) yang menyatakan bahwa orang yang minum minuman beralkohol 1,4 liter/hari sangat tinggi risikonya menderita hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali. Peminum alkohol juga dapat meningkatkan risiko menderita penyakit stroke.

Penelitian yang dilakukan oleh Nuriyadin (2005), tentang studi faktor risiko kejadian hipertensi yang berobat di Puskesmas Wawonii Kabupaten Konawe menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol lebih dari satu gelas per hari, memberikan risiko sebesar 1,2 kali lebih besar menderita hipertensi dibandingkan responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol kurang dari satu gelas per hari.

4. Pola asupan garam dalam diet

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. (Shapo, 2003)

Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Cara menormalkannya yaitu cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. (Widayanto, 2010)

Mengurangi konsumsi natrium/sodium sangat dianjurkan. Sumber natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan monosodium glutamate  (MSG), dan  sodium karbonat. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masak-memasak masyarakat kita yang umumnya boros menggunakan garam. (Sianturi, 2003)

0

Hipetensi

1. Pengertian Hipertensi

Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris “Hypertension”. Kata Hypertension itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yakni “hyper” yang berarti super atau luar biasa dan “tension” yang berarti tekanan atau tegangan. Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yakni penyakit tekanan darah tinggi. Selain itu dikenal juga dengan istilah “High Blood Pressure” yang berarti tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah tenaga yang dipakai oleh darah yang dipompa dari jantung untuk melawan tahanan darah. Tekanan darah adalah sejumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah keseluruh tubuh. Jika tekanan darah seseorang meningkat dengan tajam dan kemudian tetap tinggi, orang tersebut dapat dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi. (Bangun, 2006)

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur dengan spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah merokok atau minum kopi. (Wade, 2003)

Ada berbagai macam batasan tingginya tekanan darah untuk dapat disebut hipertensi. Menurut WHO 1993 dan JNC VI menetapkan batasan hipertensi adalah tekanan darah menetap 140/90 mmHg diukur pada waktu istirahat. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi jika tekanan darah sistoliknya lebih besar daripada 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Tekanan darah yang ideal adalah jika tekanan sistoliknya  120 mmHg dan diastoliknya 80 mmHg. (Bruner & Suddarth, 2002)

Secara umum seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/90 mmHg). Tekanan darah normal (normotensif) sangat dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yaitu untuk mengangkat oksigen  dan zat gizi. (Astawan, 2005) Penulisan tekanan darah seperti 110/70 mmHg adalah didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung. Nilai yang lebih tinggi (sistolik) menunjukan fase darah yang sedang di pompa oleh jantung, dan nilai yang lebih rendah (diastolik) menunjukan fase darah kembali ke jantung.

Hipertensi adalah kelainan yang sering ditemukan pada manusia yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah sistemik, tekanan darah yang normal pada manusia diukur pada posisi berbaring dan duduk dimana tekanan darahnya adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik.

Penderita hipertensi yang sangat heterogen membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mozaik, diderita oleh orang banyak yang datang dari berbagai subkelompok, berisiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon, dan genetik, maupun yang bersifat eksogen seperti rokok, nutrisi dan stressor. (Kodim, 2005)

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokan menjadi 2  golongan, yaitu :

a)       Hipertensi Primer atau hipertensi esensial

Hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya atau idiopatik yang meliputi kurang lebih 90 % dari seluruh kasus hipertensi.

b)      Hipertensi Sekunder atau hipertensi renal

Hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain yang meliputi kurang lebih 10 % dari seluruh kasus hipertensi.

Sekitar 50 % dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya dan hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya, oleh karena itu upaya penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. (Susalit, 2002)

Sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi padahal sesungguhnya tidak. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, pendarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang biasa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang diketahui. Menurut  The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2. (Yogiantoro, 2006)

Hipertensi selanjutnya dapat memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah) dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi. (Bangun, 2006)

2.  Epidemiologi

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. (Yogiantoro, 2006) Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. (Armilawaty, 2007)

Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan  masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan  kesehatan. Baik dari segi case finding maupun penatalaksanaan  pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa  Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian  Jaya sebesar 0,6% sedangkan angka prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. (Wade, 2003)

Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran penderita hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan mencapai puncaknya pada kelompok umur ≥ 65 tahun yaitu sebesar  31,48%. Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar 41,98%. (Oktora, 2007)

3.  Etiologi Hipertensi

Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan pasti. Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal, gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Penyebab paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang tidak terobati. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. (Sharma, 2008) Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara  lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi. (Yogiantoro, 2006)

Faktor lingkungan merupakan faktor yang paling berperan dalam perjalanan munculnya penyakit hipertensi. Faktor ini meliputi intake garam yang berlebihan, obesitas, pekerjaan, alkoholisme, stresor psikogenik dan tempat tinggal. Semakin banyak seseorang terpapar faktor-faktor tersebut maka semakin besar kemungkinan seseorang menderita hipertensi, juga seiring bertambahnya umur seseorang. (Fauci et al, 2002)

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang ditetapkan sebagai penyebab langsung hipertensi esensial. Berbeda dengan hipertensi sekunder yang saat ini telah banyak ditemukan penyebabnya secara langsung, beberapa di antaranya adalah : sleep-apnea, drug-induced atau drug-related hypertension, penyakit ginjal kronik. Aldosteronisme primer, penyakit renovaskular, terapi steroid jangka lama dan sindrom Cushing. (Elliot dan Simpson, 2000)

4.  Klasifikasi

Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata dua kali pengukuran pada masing-masing kunjungan.

1)        Klasifikasi menurut The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988)

The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988) mengklasifikasikan tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan darah yang dimaksud adalah rata-rata dua atau lebih pengukuran dan dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda.

Tekanan darah diastolik :

< 85 mmHg                        = tekanan darah normal

85-89 mmHg                      = tekanan darah ringan

90-105 mmHg                    = tekanan darah sedang

106-114 mmHg                  = tekanan darah berat

> 115 mmHg                      = tekanan darah berbahaya

Tekanan darah sistolik :

< 140 mmHg                      = tekanan darah normal

140-159 mmHg                  = Bordeline Isolated Systolic Hypertension

> 160 mmHg                      = Isolated Systolic Hypertension

2)       Klasifikasi Menurut WHO

Menurut WHO (World Health Organization) tekanan darah dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu :

  1. Normatensif (tekanan darah normal) yaitu jika tekanan darah sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
  2. Bordeline Hypertension (tekanan darah perbatasan) yaitu tekanan darah sistolik 141-149 mmHg dan tekanan darah diastolik 91-94 mmHg.
  3. Hypertension (tekanan darah tinggi) yakni jika tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 160 mmHg dan terkanan darah diastolik lebih atau sama dengan 95 mmHg.

3)       Klasifikasi menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee on The Prevention, Detection, Evalution of High Blood Pressure (2003). Batasan yang digunakan adalah untuk individu diatas umur 18 tahun, tidak dalam pengobatan antihipertensi dan tidak dalam keadaan sakit mendadak.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Untuk yang berumur 18 tahun atau lebih

KATEGORI

SISTOLIK (mmHg)

DIASTOLIK (mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi Stadium I

140-159

90-99

Hipertensi Stadium II

> 160

> 100

Sumber : JNC VII 2003

5.  Mekanisme Hipertensi

                        Tekanan darah tinggi merupakan bahaya terselubung karena tidak menampakan gejala yang nyata. Tekanan darah tergantung dari jantung sebagai pompa dan hambatan pembuluh arteri. Selama 24 jam, tekanan  darah tidak tetap. Tekanan darah yang paling rendah terjadi jika tubuh dalam keadaan istirahat dan akan naik sewaktu mengadakan latihan atau olahraga. Tubuh seseorang memiliki suatu mekanisme yang dapat mengatur tekanan darah, sehingga dapat menyuplai sel-sel darah dan oksigen yang cukup. Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostenin II dari angiostenin I oleh Angiostensi I-Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam pengaturan tekanan darah. Hormon renin yang diproduksi oleh ginjal akan diubah menjadi angiostenin I. ACE yang terdapat di dalam paru-paru, angiostenin I diubah menjadi Angiostenin II. Angiostenin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikan tekanan darah melalui dua cara.

Pertama adalah meningkatkan sekresi hormon Antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitary) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. ADH yang meningkat, akan menghasilkan sedikit urin untuk diekskresikan kelur tubuh, sehingga menjadi pekat dan osmolalitasnya tinggi. Volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler untuk mengencerkannya, akibatnya volume darah meningkat yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Cara kedua adalah dengan menstimulasi sekresi aldosteron dari kortek adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang akan mengurangi eksresi NaCl (garam) dengan cara mengabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada giliranya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. (Astawan, 2005)

Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume sirkulasi darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi.

Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadang-kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun. (Sharma, 2008)

6.  Komplikasi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan  penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan risiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun.

Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ  vital. Penyebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal.

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Komplikasi pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Perdarahan yang sering terjadi di otak disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.

Risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien hipertensi ditentukan tidak hanya tingginya tekanan darah tetapi juga telah atau belum adanya kerusakan organ target serta faktor risiko lain seperti merokok, dislipidemia dan diabetes melitus. (Susalit, 2002)

Tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari 50 tahun, merupakan faktor risiko kardiovaskular yang penting. Selain itu dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali. (Ridjab, 2005)

7.  Faktor Risiko Hipertensi

                        Risiko adalah ukuran statistik dari peluang untuk terjadinya suatu keadaan yang tidak di inginkan dimasa datang. Faktor risiko adalah suatu keadaan atau ciri tertentu pada seseorang atau kelompok yang mempunyai hubungan dengan peluang terjadinya suatu penyakit, cacat, kematian. (Rochjati, 1992)

Faktor-faktor yang dapat dimasukkan sebagai risiko hipertensi menurut Bustan (1997) seperti : umur, ras, keadaan geografik, seks, kegemukan, stress, personlity tipe A, diet, diabeter melitus, komposisi air, alkohol, rokok, kopi serta pil KB.

8.  Lima (5) tahap Pencegahan Penyakit Hipertensi (Five Level Prevention)

          1. Health Promotion

Promosi kesehatan (Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. (Noor, 2000)

Menurut Noor (2000), promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:

a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agen-agen penyakit.

b. Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi asupan alkohol, berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat badan dan mengatasi stres yang baik.

2. Spesific protection

Pencegahan khusus (spesific protection) merupakan rangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan pada pejamu dan/atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu (Noor, 2000) dengan berbagai upaya seperti: perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti: makan dengan teratur (3x sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agen penyakit pada saat masuk ke dalam tubuh.

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment

Menurut Noor (2000), diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt Treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini yaitu sebagai berikut:

a. Meluasnya penyakit atau terjadinya tidak menular.

b. Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

c.Melakukan screening (pencarian penderita hipertensi) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit hipertensi.

d. Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit hipertensi sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.

4. Disability Limitation

Menurut Noor (2000), pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab penyakit.

Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan dan kematian akibat penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan upaya seperti: mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihan dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit hipertensi tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu.

5. Rehabilitation

Menurut Noor (2000), rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (Disability Limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit hipertensi yaitu sebagai berikut:

a. Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit hipertensi.

b. Rehabilitasi mental dari penderita hipertensi, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada di sekitarnya karena pernah menderita penyakit hipertensi.

c. Rehabilitasi sosial bagi penderita hipertensi, sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdayaguna.

1

Karies Gigi

a.      Pengertian Karies Gigi

Umumnya, penyakit yang menyerang gigi dimulai dengan adanya plak gigi.  Plak timbul dari sisa makanan yang mengendap pada lapisan gigi yang kemudian berinteraksi dengan bakteri yang banyak terdapat dalam mulut, seperti Streptococcus mutans.  Plak akan melarutkan lapisan email pada gigi yang lama kelamaan lapisan tersebut menipis.  Terjadinya plak sangat singkat, yaitu hanya 10-15 menit setelah makan.  Plak yang menumpuk kemudian membentuk karies gigi yang akhirnya merusak email hingga melubangi gigi (Besford, 1996).

Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan demineralisasi (larutnya mineral email) dan  terus berjalan ke bagian yang lebih dalam dari gigi sehingga terjadi kavitasi (pembentukan lubang) yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus) (Schuurs, 1993).

Karies gigi adalah penghancuran terlokalisasi dari jaringan gigi oleh mikroorganisme (Pine, 1997).  Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan (Kidd & Bechal,1991).

Newburn dalam Darwita (2004) mendefinisikan karies gigi sebagai penyakit bakterial yang menyerang gigi dimana bagian organik dari gigi mengalami destruksi, sedangkan bagian anorganiknya mengalami dekalsifikasi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karies gigi adalah suatu proses kronis regresif , dimana prosesnya terjadi terus berjalan ke bagian  yang lebih dalam dari gigi sehingga membentuk lubang yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, pada proses ini terjadi demineralisasi yang disebabkan oleh adanya interaksi kuman, karbohidrat yang sesuai pada permukaan gigi dan waktu.

b.      Proses Terjadinya Karies Gigi

Karies gigi adalah penyakit multifaktor yang merupakan hasil kombinasi dari 4 faktor utama yaitu inang dan gigi, mikroorganisme di dalam plak, substrat dan waktu (Pine, 1997).

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Schuurs, 1993).

Biasanya karies terlihat berwarna cokelat kehitaman atau noda-noda putih yang bila diraba dengan sonde, email belum tersangkut. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi akan timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Lama-kelamaan bagian karies ini akan terasa kasar serta diikuti dengan tertahannya sonde. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.  Karies yang berwarna cokelat kehitaman lebih lama menimbulkan lubang pada gigi sedangkan noda yang berwarna putih lebih cepat menimbulkan lubang (Tarigan, 1995).

c.       Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi

1)   Mikroorganisme              

Peran bakteri dalam menyebabkan terjadinya karies sangatlah besar. Bakteri yang sangat dominan dalam karies gigi adalah Streptococcus mutans. Bakteri ini sangat kariogen karena mampu membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.  Akibatnya bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain.

Streptococcus mutans berperan dalam proses awal karies yaitu lebih dulu masuk lapisan luar email. Selanjutnya Lactobacillus acidophilus mengambil alih peranan pada karies yang lebih merusakkan gigi.  Mikroorganisme menempel di gigi bersama plak.  Plak terdiri dari mikroorganisme (70 %) dan bahan antar sel (30 %).  Plak akan tumbuh bila ada karbihidrat, sedang karies akan terjadi bila ada plak dan karbohidrat (Suwelo, 1992).

2)   Substrat

Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari yang menempel pada gigi. Seringnya mengkonsumsi gula akan menambah pertumbuhan plak dan menambah jumlah Streptococcus mutans didalamnya.

Sukrosa merupakan gula yang kariogen, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Sukrosa merupakan gula yang paling banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama (Kidd & Bechal,1991).

3)   Inang atau Gigi

Faktor- faktor dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan karies, yaitu :

a)  Bentuk

Variasi morfologi gigi juga mempengaruhi resistensi gigi terhadap karies.  Gigi dengan fissure (lekukan) yang dalam lebih mudah terserang karies. Hal demikian memudahkan masuknya makanan di daerah itu yang sulit dibersihkan.

b)  Posisi

Gigi yang berjejal dan susunannya tidak teratur lebih sukar dibersihkan.  Hal ini cenderung meningkatkan penyakit periodontal dan karies. Gigi geligi berjejal (crowding) dan saling tumpang tindih (over lapping) akan mendukung terjadinya karies, karena daerah tersebut sulit dibersihkan.  Gigi yang mempunyai permukaan dan bentuk yang tidak teratur dapat mengakibatkan sisa-sisa makanan terselip dan bertahan sehingga produksi asam oleh bakteri berlangsung cepat dan mengakibatkan terjadinya pembusukan gigi yang memicu timbulnya gigi berlubang.

c)  Struktur

Komposisi gigi sulung terdiri dari email dan dentin.  Dentin adalah lapisan di bawah email.  Permukaan email lebih banyak mengandung mineral dan bahan-bahan organik dengan air yang relatif lebih sedikit.  Permukaan email terluar lebih tahan karies dibanding lapisan di bawahnya, karena lebih keras dan lebih padat.  Struktur email sangat menentukan dalam proses terjadinya karies (Suwelo, 1992).

Keberadaan flour dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan lingkungannya merangsang efek anti karies (Kidd & Bechal, 1991).

4)  Waktu

Waktu menjadi salah satu faktor penting, karena meskipun ada ketiga faktor sebelumnya proses pembentukan karies gigi relatif lambat dan secara klinis terlihat kehancuran dari email lebih dari empat tahun (Pine, 1997).

Saliva berperan dalam menjaga kelestarian gigi.  Banyak ahli menyatakan, bahwa saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia (produksi ludah yang kurang) dimana akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat (Suwelo, 1992).

Sekresi kelenjar anak-anak masih bersifat belum konstan, karena kelenjarnya masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan.  Saliva berfungsi sebagai pelicin, pelindung, penyangga, pembersih, pelarut dan anti bakteri. Sekresi air ludah yang sedikit atau tidak ada sama sekali memiliki persentase karies yang tinggi (Suwelo, 1992).

Berikut peranan aliran saliva dalam memelihara kesehatan gigi:

a)      Aliran saliva yang baik akan cenderung membersihkan mulut termasuk melarutkan gula serta mengurangi potensi kelengketan makanan.  Dengan kata lain, sebagai pelarut dan pelumas.

b)      Aliran saliva memiliki efek buffer (menjaga supaya suasana dalam mulut tetap netral), yaitu saliva cenderung mengurangi keasaman plak yang disebabkan oleh gula.

c)      Saliva mengandung antibodi dan anti bakteri, sehingga dapat mengendalikan beberapa bakteri di dalam plak.  Namun jumlah saliva yang berkurang akan berperan sebagai pemicu timbulnya kerusakan gigi (Besford, 1996).

Faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan proses terjadinya karies, antara lain :

a)      Letak geografis

Perbedaan prevalensi karies ditemukan pada penduduk yang geografis letak kediamannya berbeda seperti lamanya matahari bersinar, suhu, cuaca, air, keadaan tanah, dan jarak dari laut.  Kandungan flour 1 ppm dalam air akan berpengaruh terhadap penurunan karies (Suwelo, 1992).

b)      Pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemeliharaan kesehatan gigi

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.  Pengetahuan/ kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang diterimanya. Sikap itu belum merupakan tindakan, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan (Notoatmodjo, 2003).

Tindakan atau praktek yaitu suatu respon seseorang terhadap rangsangan dari luar subyek, bisa bersifat positif atau tindakan secara langsung dan bersifat negatif atau sudah tampak dalam tindakan nyata (Notoatmodjo, 2003).

d.  Faktor-faktor yang Meningkatkan Karies Gigi

1)      Diabetes Melitus

Diabetes Melitus dapat meningkatkan terjadinya jumlah penderita karies.  Tetapi bila seorang penderita telah menyadari keadaannya dan menjalankan diet, keberadaan karies bahkan akan terjadi lebih sedikit dibandingkan rata-rata.

2)   Xerostomia

Xerostomia merupakan penyakit kurang produksi ludah.  Hal ini jelas merupakan faktor predisposisi.

e.       Jenis Karies Gigi Berdasarkan Tempat Terjadinya

1)      Karies Insipiens

Karies Insipiens merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkeras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email.

2)      Karies Superfisialis

Karies Superfisialis merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan kadang-kadang terasa sakit.

3)      Karies Media

Karies Media merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa.  Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis.

4)      Karies Profunda

Karies Profunda merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun.  Apabila tidak segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-karies lainnya (Schuurs, 1993).

f.       Pencegahan Karies Gigi

Pencegahan karies gigi bertujuan untuk mempertinggi taraf hidup dengan memperpanjang kegunaan gigi di dalam mulut.

Pencegahan karies gigi meliputi :

1)      Konsumsi vitamin dan mineral yang menguatkan gigi

Tindakan ini ditujukan pada kesempurnaan struktur email dan dentin atau gigi pada umumnya.  Ada beberapa vitamin dan zat mineral yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan dan kekerasan gigi.  Vitamin dan mineral tersebut adalah vitamin A, C dan D serta mineral Ca, P, F dan Mg.  Selain usia anak-anak dan dewasa, para ibu hamil pun perlu diberikan makanan yang mengandung unsur-unsur yang dapat menguatkan email dan dentin sebelum agar tidak terjadi pengapuran pada gigi bayinya.

2)      Kebersihan mulut dan gigi yang harus diperhatikan supaya tetap sehat.

Menggosok gigi merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi dalam rangka tindakan pencegahan karies gigi. Walaupun kegiatan menggosok gigi merupakan kegiatan yang sudah umum namun masih ada kekeliruan baik dalam pengertiannya maupun dalam pelaksanaannya (Besford, 1996).

Melakukan penyikatan gigi yang baik adalah dengan frekuensi dan waktu sesuai yang disarankan Manson (1995) yaitu dua kali, pagi hari sesudah makan dan malam hari sebelum tidur atau yang disarankan Be Kien Nio (1982) yaitu tiga kali sehari setiap kali setelah makan dan malam sebelum tidur (Chemiawan, 2004).

3)      Pemeriksaan berkala 6 bulan sekali

Pemeriksaan gigi pada dokter gigi atau pelayanan kesehatan yang ada perlu dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali untuk mencegah terjadinya karies gigi.

4)      Pengaturan konsumsi makanan yang mengandung banyak gula

Frekuensi dari konsumsi makanan yang mengandung banyak gula harus sangat dikurangi khususnya konsumsi makanan kecil yang dilakukan antara jam-jam makan (waktu senggang).

5)      Penggunaan fluor

Penggunaan fluor merupakan metode yang paling efektif untuk menghambat kehidupan bakteri yang ada pada plak dalam mulut sehingga dapat mencegah terjadinya karies gigi.  Penggunaan fluor dapat diberikan dalam bentuk fluoridasi air minum, fluoridasi garam dapur, fluoridasi air susu, tablet hisap fluor, pasta gigi dan larutan fluor untuk berkumur (Tarigan, 1995).

0

Penyakit Campak

1.      Pengertian

Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus campak, 90 % anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak (Depkes RI, 2008).

2.      Cara dan Masa Penularan

  1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
  2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit (Depkes RI, 2008)

3.      Etiologi

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxopiridae dengan masa inkubasi rata-rata 10 hari. Virus campak berasal dari sekresi yang keluar dari hidung dan tenggorokan, saat penderita campak bersin, batuk atau bernafas. Penyakit campak hanya menyerang manusia sehingga secara bertahap dapat direduksi, eliminasi dan akhirnya dapat dieradikasi (Depkes, 2006).

Orang-orang yang rentan terkena campak adalah;

  1. Anak berumur lebih dari 1 tahun
  2. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi
  3. Remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua (Chaudhry dan Harvey, 2001).

4.      Patogenesis

Virus campak menginfeksi dengan invasi pada epitel traktus respiratorius mulai dari hidung sampai traktus respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa respiratorius segera disusul dengan viremia pertama dimana virus menyebar dalam leukosit pada sistem retikuloendotelial. Setelah terjadi nekrosis pada sel retikuloendotelial sejumlah virus terlepas kembali dan terjadilah viremia kedua.

Sel yang paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan yang terinfeksi termasuk timus. kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah terjadi viremia kedua seluruh mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga menyebabkan timbulnya gejala batuk dan korisa. Campak dapat secara langsung menyebabkan croup, bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan respiratorius seperti edema dan hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia. Setelah beberapa hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak koplik dan kemudian timbul ruam pada kulit. Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan penyakit menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat reaksi hipersensitivitas host pada virus campak (Tommy, 2000).

5.      Manifestasi Klinis

Setelah masa tunas selama 10-11 hari penyakit diawali dengan demam dan malaise. Dalam waktu 24 jam terjadi korisa, konjungtivitis dan batuk. Keluhan tersebut semakin menghebat hingga mencapai puncaknya pada hari ke empat dengan munculnya erupsi kulit. Kira-kira dua hari sebelum timbul ruam tampak bercak koplik pada selaput mukosa pipi yang berhadapan dengan molar. Dalam tiga hari lesi semakin bertambah dan mengenai seluruh mukosa. Demam menurun dan bercak koplik menghilang pada akhir hari kedua setelah tirnbul ruam. Ruam berupa eupsi makulopapular yang kemerahan menjalar dari kepala (muka, dahi, garis batas rambut, telinga dan leher bagian atas) menuju ke ekstrimitas dalam 3 sampai 4 hari. Dalam 3 sampai 4 hari berikutnya ruam rnemudar sesuai urutan terjadinya. Komplikasi yang terjadi pada penderita campak dapat disebabkan oleh perluasan infeksi virus, infeksi sekunder oleh bakteri atau keduanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia obstruktif aringitis dan laryng trakeo bronchitis (Tommy, 2000).

6.      Lima Pencegahan (Five Level Prevention) Penyakit Campak

        a.      Health Promotion

Promosi kesehatan (health promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahap ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat (Noor, 2000).

Promosi kesehatan dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dalam berbagai upaya seperti :

1)        Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agent-agent penyakit khususnya penyakit infeksi seperti virus campak serta memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak.

2)        Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti tata cara dalam melakukan hygiene perorangan maupun hygiene masyarakat.

3)        Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar anggota rumah tangga dan lain-lain.

4)        Peningkatan kesegaran jasmani seperti; membiasakan diri melakukan olahraga secara teratur (Noor, 2000).

          b.      Spesifik Protection

Pencegahan khusus merupakan serangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan kepada penjamu dan atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit tertentu ( Noor, 2000).

Pencegahan khusus (spesifik protection) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Dapat melakukan modifikasi lingkungan seperti; perbaikan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dalam hal ini sarana air bersih, jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan tempat pembuangan sampah.

2)      Perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti ; makan dengan teratur (3 kali sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit pada saat masuk kedalam tubuh.

3)      Pemberian imunisasi campak ini juga bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh anak balita melalui anti gen yang dimasukan kedalam tubuh berupa virus campak yang telah di lemahkan. Sehingga dengan masuknya anti gen tersebut kedalam tubuh di harapkan dapat memberikan atau meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap virus campak jika menyerangnya (Noor, 2000).

c.       Early Diagnosis and Prompt Treatment

Diagnosis dini dan pengobatan dini (early diagnosis and prompt treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat kedua ini yaitu sebagai berikut :

1)      Meluasnya penyakit/terjadinya wabah pada penyakit menular.

2)      Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

Diagnosis dini dan terapi awal (early diagnosis and prompt treatment) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui; pemeriksaan berkala disarana pelayanan kesehatan untuk memastikan bahwa seseorang benar tidak menderita penyakit campak dan gangguan kesehatan lainnya.

2)      Melakukan screening (pencarian penderita penyakit campak) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit campak.

3)      Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit campak sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya (Noor, 2000).

        d.      Disability Limitation

Pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab tertentu. Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan akibat penyakit campak dapat dilakukan dengan upaya seperti : mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihanpun dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit campak tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi jika penderita mengalami penyakit campak dan disertai dengan infeksi oleh agent lainnya (Noor, 2000).

      e.       Rehabilitation

Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (disability limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi (rehabilitation) yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit campak yaitu sebagai berikut :

1)      Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit campak.

2)      Rehabilitasi mental/psycho rehabilitation dari penderita campak, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada disekitarnya karena pernah menderita penyakit campak.

3)      Rehabilitasi sosial bagi penderita campak sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdaya guna (Noor, 2000).

3

Bahaya Rokok dan Kehamilan

Banyak orang yang tidak peduli bahkan tidak tahu tentang bahaya merokok. mungkin mereka tahu, tapi pura-pura tidak tahu. contohnya beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan salah satu teman yang merupakan seorang perokok berat. dia bahkan menjalin hubungan dengan teman saya yang juga mahasiswa kesehatan masyarakat yang tahu tentang seluk beluk bahaya merokok. sudah sering ia diberitahu sama pacranya untuk berhenti merokok tapi ia tetap saja menjalankan aktfitas yang merugikan itu. dalam hal ini, sang pacar juga salah kerena dia tidak mampu berbagi ilmunya, memberikan sugesti pada sang pacar agar ia berhenti merokok, padahal itu adalah bidangnya.

saya sedikit terusik dengan kalimat yang dia lotarkan, “saya tidak suka jika orang lain melarang saya untuk berhenti pada sesuatau itu (rokok), dimana sesuatu itu saya anggap/yakini BENAR. Saya merokok itu untuk diri saya sendiri bukan untuk orang lain.” sungguh pernyataan yang SALAH. menganggap merokok adalah tindakan yang benar? Merokok itu benar sekalipun hanya untuk konsumsi pribadi?????? oh.. saya hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan tersebut. sebuah konsep pemikiran yang SALAH BESAR.

setelah ia berkata begitu, kemudian kita beradu argumen satu sama lain, dan dia tetap menempatkan dirinya pada posisi yang benar. iya, dia sendiri yang meletakkan dirinya pada posisi itu, bukan orang lain. *senyum kecut*

melihat hai itu, saya merasa sangat miris sekaligus kasihan sama mereka, para perokok. yang mereka tahu adalah merokok untuk diri sendiri, bukan untuk anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. yang mereka tahu tokok itu untuk kepuasan pribadi, bukan untuk kepuasan anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. itulah mengapa saya menyebut mereka para perokok sebagai orang teregois yang pernah hidup dimuka bumi ini. mereka hanya mementingkan kepuasan pribadi dengan mengesampingkan kepentingan orang lain yang ada disekitarnya.

saya selalu bertanya pada diri saya sendiri, apakah mereka tahu tentang bahaya merokok, atau pura-pura tidak tahu, atau memang benar tidak tahu?

asap rokok itu bahkan lebih berbahaya dari pada puntung rokoknya sendiri, linting rokoknya sendiri. mereka mungkin tidak tahu kalau yang banyak menghirup asap rokok itu orang lain yang ada disekitarnya bukan dirinya sendiri. sungguh miris.

~berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang Rokok:

Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 4000 bahan kimiawi. Unsur-unsur penting lain tar, nikotin, karbon monooksida, benzopyrin, anomia, arzenikum. Diantara sekian banyak zat berbahaya ini, ada 3 yang paling penting, yakni tar, nikotin, dan karbon monooksida karena dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti BBLR, kanker, penyakit jantung koroner, stroke, impotensi, gangguan kehamilan dan janin (Abu Umar, 2005 dalam Susianti, 2007).

Merokok adalah perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Asap rokok berdampak pada pertumbuhan janin melalui beberapa mekanisme, beberapa bahan asap rokok misalnya nikotin, CO, dan polyclyclic aromatic hydrocarbons, diketahui dapat menembus plasenta (Ebrahim et. Al, 2004).

1.      Kandungan Rokok

Menurut WHO dalam Fatimah (2006), kandungan zat yang terdapat dalam rokok yang dapat mempengaruhi kesehatan, khususnya kesehatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

  • Kandungan racun pada rokok

pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang ada dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen lainnya yang terkondensasi. Dengan demikian, komponen asap rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari begian gas (85%) dan bagian partikel.

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Kandungan racun rokok itu antara lain sebagai berikut:

1)      Tar

Tar adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan substansi hidrokarbon yang bersikap lengket dan menempel pada paru-paru. Kadar tar pada rokok antara 0,5-35 mg per batang. Tar merupakan suatu zat karsinogen yang tdapat menimbulkan kanker pada jalan nafas dan paru-paru.

Tar terbentuk selama pemanasan tembakau. Tar merupakan kumpulan berbegai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambah dalam proses pertanian dan industri sigaret. Tar juga merupakan hidrokarbon aromatik polissiklik yang ada dalam asap rokok, tergolong dalam zat karsinogen yaitu zat yang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Pemaparan menahun hidrokarbon aromatik (benzena) dapat menghasilkan efek toksik yang sangat serius yang paling nyata yaitu kerusakan pada sumsum tulang yang berbahaya dan tidak terduga, anemia aplastik, leukopenia, pansitopenia atau trombositopenia. Pada perkembangan sumsum tulang belakang tapak menjadi paling sensitif terhadap benzena. Gejala permulaan keracunan benzena kronis yaitu sakit kepala, kelemahan, dan kehilangan nafsu makan.

2)      Nikotin

Nikotin adalah alkoid toksis yang terdapat dalam tembakau. Sebatang rokok berisi 1-3 mg nikotin. Nikotin diserap melalui paru-paru den kecepatan absorpsinya hampir sama dengan masuknya nikotin secara intravena. Nikotin masuk kedalam otak dengan cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Depat melewati barier di otak dan diedarkan keseluruh bagian otak, kemudian menurun secara cepat, setelah beredar keseluruh bagian tubuh dalam waktu 15-20 menit pada waktu penghisapan terakhir.

Efek bifasik dari nikotin pada dosis rendah menyebabkan rangsangan ganglionik yang eksitasi,tetapi pada dosis tinggi yang menyebabkan blokade gangbionik setelah eksitasi sepintas. Efek yang diakibatkan oleh nikotin berhubungan langsung dengan jumlah nikotin yang diisap, dengan gejala: BBLR, keguhuran, lahir tdak cukup bulan, lahir mati dan kematian neonatal, selain peningkatan insidensi perdarahan selama kehamilan, absopsi plasenta, plasenta previa, dan ruptur membran prematur atau tertunda.

Laporan pusat penelitian menunjukkan bahwa pertama, nikotin adalah sebuah vasokonstriktor, jadi menyempitkan pembulih darah plasenta. Kedua, merokok meningkatkan viskositas darah sehingga darah agak kental sehingga lebih menghambat aliran darah.

3)      Karbon Monooksida

Karbon monooksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna. Kandungannya di dalam asap rokok 2-6%. Karbon monooksida pada paru-paru mempunyai daya pengikat (anfinitas) dengan hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari pada daya ikat oksigen (O2) dengan Hb.

Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbon monooksida (CO) dalam bentuk COHb (Carboly Haemoglobin), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan oksigen yang pada akhirnya sel tubuh akan kekurangan oksigen. Pengurangan oksigen jangka panjang dapat mengakibatkan pembuluh darah terganggu karena menyempit dan mengeras. Bila menyerang pembuluh darah jantung, maka akan terjadi serangan jantung.

4)      Radikal Bebas (NOx, SO2)

Radikal bebas merupakan suatu atom, molekul, senyawa yang dapat berdiri sendiri mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan diorbit terluarnya. NOx merupakan oksidator yang cukup kuat yang dapat menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga fungsinya terganggu.

Bahaya radikal bebas terhadap eritrosit adalah dengan merusak struktur membran eritrosit sehingga plastitasis membran terganggu dan mudah pecah. Keadaan ini dapatmenyebabkan menurunkan jumlah eritrosit yang dapat menyebabkan anemia.

~Merokok dan kehamilan 

Merokok merupakan perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Akibat karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin dalam darah yang mengakibatkan mengurangi kerja haemoglobin yang seharusnya mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Merokok juga menghambat penyerapan vitamin B dan C serta asam folat (B9) yang berperan dalam pembentukan darah (Curtis, 2008).

pada ibu hamil, pengaruh nikotin yang terkandung dalam rokok menimbulkan kontraksi pada pembuluh darah, akibatnya aliran darah ke tali pusar janin akan berkurang sehingga mengurangi kemampuna distribusi zay yang yang diperlukan oleh janin. Selain itu, karbon monooksida dari asap rokok akan mengikat Hb dalam darah yang menyebabkan distribusi zat makanan dan oksigen yang disuplai ke janin terganggu, senhinggan terjadinya anemia dan melahirkan bayi prematur (Amiruddin, 2006).

***

sangat disayangkan jika ada orang yang masih merokok. bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang-orang yang mereka sayangi, keluarga, lingkungan, dsbg. bukah sedah banyak kampanye/ penyuluhan anti rokok, tapi kenapa mata hati dan pikiran mereka belum terbuka & sadar? sedih.. 😦

Manusia berhak mendapatkan kesehatan yang optimal, dan berhak mendapatkan udara bersih dan sehat tanpa racun asap rokok yang melayang-layang di udara 😦

“Jika anda tidak ingin mati, maka matikanlah rokok anda.”

(Menteri Kesehatan RI dalam kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2013)

0

Hubungan Personal Hygiene dengan Kanker Leher Rahim

Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan psikis.

Personal hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan daerah kewanitaan meliputi kebiasaan memakai sembarang sabun dan membasuh vagina, pemilihan pakaian dalam yakni memakai pakaian dalam yang ketat dan berbahan sintetis, sering menggunakan WC umum, serta kebiasaan membilas vagina dari arah yang salah yaitu dari arah anus ke arah depan vagina (Wikipedia, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa personal hygiene dapat mempengaruhi terjadinya perubahan keasaman didaerah vagina.  Ketidakseimbangan PH vagina dipicu oleh dua hal yaitu faktor ekstern dan faktor intern.  Faktor intern antara lain dipicu oleh pil kontrasepsi yang mengandung estrogen, trauma akibat pembedahan, terlalu lama menggunakan antibiotik, kortikosteroid dan imunosupresan pada penderita asma dan kanker.  Sedangkan faktor ekstern antara lain kurangnya personal hygiene yang ditandai dengan sering menggunakan pakaian dalam yang ketat, menggunakan WC umum yang tercemar bakteri Chlamydia (Prasetyowati, dkk, 2009).

Masalah tentang kanker leher rahim sangat menjadi perhatian bersama terutama bagi kaum wanita karena sangat penting dan dampaknya luas mencakup berbagai kehidupan dan menjadi parameter terhadap khalayak ramai masyarakat terutama wanita. Di Indonesia banyak wanita yang mengalami kanker leher rahim karena hawa di tanah air lembab sehingga mudah terinfeksi jamur candida yang menyebabkan kanker leher rahim (Nurhayati,dkk. 2010).

Bau busuk dan penggetahan vagina kadang-kadang disebabkan oleh keringat, tampon yang tertinggal, darah lama infeksi, infeksi lipatan kulit, semen dan smegma lama dan gangguan lain yang sejenis. karena keinginan besar (normal) untuk menghindari timbulnya bau busuk dan penggetahan, banyak wanita menggunakan bedak khusus, deodorant, obat pembersih, dan produk lain yang diperdagangkan. Produk-produk ini tidak hanya menyebabkan wanita membuang uang percuma tetapi juga membahayakan. Antiseptik dan deodorant yang digunakan disekitar vulva menyebabkan luka-luka dan iritasi, alergi dan ruam. ironisnya antiseptik dan deodorant tersebut malah dapat menyebabkan kanker leher rahim (Sukartia,2012).

Motivasi dapat mempengaruhi seseorang melakukan perawatan daerah kewanitaan. Motivasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri dan luar diri seseorang. Motivasi akan meningkat apabila faktor-faktor yang mempengaruhi bernilai baik. Dalam hal ini jika personal Hygiene yang dilakukan dengan benar dapat mengurangi resiko terjadinya kanker leher rahim bagi kaum wanita. Pada prinsipnya tidak dibenarkan membersihkan rambut di daerah kewanitaan dengan cara mencabutnya, sebab apabila kita mencabut rambut kemaluan maka akan timbul lubang pada bekas cabutan tersebut dan hal ini dapat menjadi jalan masuk bagi kuman/bakteri dan jamur yang dapat mengakibatkan timbulnya iritasi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kanker leher rahim (Inong, 2008).

Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek Personal Hygiene Menurut L.Green bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh :

  • Faktor Pendahulu

faktor pendahulu adalah yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang.

  • Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin adalah faktor yang meningkatkan tingkat pendapatan dan ketersediaan sarana kebersihan.

  • Faktor penguat

faktor penguat adalah faktor yang dipengaruhi oleh teman sebaya, media massa, dan dari pembinaan tenaga kesehatan.

Dari analisa green dalam Sukartia 2012, bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • Pengetahuan

Pengetahuan seseorang tentang hubungan personal hygiene dengan kanker leher rahim merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

  • Sikap

Sikap terhadap kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap materi tentang kanker leher rahim. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya reaksi terhadap stibulus tertentu, yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. sikap terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap pengetahuan tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu penghayatan terhadap pengetahuan tersebut.

  • Tindakan

Suatu sikap yang baik terhadap kejadian kanker leher rahim belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan diperluka faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon dari sikap tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu respon terhadap sikap tersebut (Sukartia, 2012).

Kebersihan organ reproduksi bagian luar merupakan bagian dari kebersihan diri.  Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari cara membersihkan organ genitalia sesudah BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) yang benar yaitu dari arah depan ke belakang.  Hal ini dilakukan untuk mencegah berpindahnya kuman dari anus ke vagina.  Selain itu, area vagina harus selalu dalam keadaan kering, karena kelembaban dapat menyebabkan kuman, bakteri, dan jamur tumbuh subur sehingga sering kali berlanjut menyebabkan kanker leher rahim (Soekodo dalam Hidayati, dkk 2010).

Dalam faktor personal hygiene yaitu kebiasaan penggunaan WC umum banyak mengakibatkan berbagai penyakit yaitu salah satunya adalah kejadian kanker leher rahim. Kebiasaan menggunakan WC umum cukup beresiko dikarenakan virus HPV (Human Papilloma Virus) yang akan menyebabkan iritasi dan kemudian meningkat dengan sendirinya jika tidak ada penanggulangan sedini mungkin dalam kasus ini. Sesuai pendapat Bustan (2007), bahwa kejadian kanker leher rahim salah satunya dipengaruhi oleh personal hygiene organ genital kurang. Semakin baik kondisi personal hygiene organ genital seseorang maka resiko kejadian kanker leher rahim lebih rendah dibandingkan dengan responden dengan personal hygiene organ genital buruk.

1

Kanker Leher Rahim

1.      Pengertian Penyakit Kanker dan Kanker Leher Rahim

Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan utnuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan oleh agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan ataupun diwariskan (mutasi germline) (Riono, 2006).

Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantungan pada lokasinya dan karakter dari keganasan apakah ada metastasis. Sebuah diagnosis yang menentukan biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi (Riono,2006).

Kanker leher rahim adalah kanker yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks) yaitu suatu daerah yang terdapat pada organ reproduksi wanita, yang merupakan pintu masuk ke arah rahim (uterus), dengan vagina (Marjikoen, 2007).

Kanker serviks adalah jenis kanker yang biasanya tumbuh lambat pada wanita dan mempengaruhi mulut rahim, bagian yang menyambung antara rahim dan vagina. Kanker serviks dapat berasal dari leher rahim ataupun dari mulut rahim, kanker ini tumbuh dan berkembang dari serviks yang dapat menembus keluar dari serviks sehingga tumbuh di luar serviks bahkan dapat tumbuh terus sampai dinding panggul (Andrijono, 2005).

Oleh karena itu kanker serviks merupakan momok yang menakutkan bagi kaum perempuan di Indonesia karena selain belum ada obatnya, kanker jenis ini masih menjadi pembunuh nomor satu perempuan pengidap kanker tersebut. Kanker serviks hingga sekarang belum ada obatnya dan sangat ditakuti kaum perempuan tapi hal ini bisa dihindari dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (Pramono, 2006).

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Kanker ini dapat hadir dengan pendarahan vagina, tetapi gejala kanker ini tidak terlihat sampai kanker memasuki stadium yang lebih jauh (Wikipedia, 2012).

Dalam serviks terdapat 2 jenis sel yaitu sel skuamos dan glandular atau sel endoserviks. Pada kanker serviks, sel-sel bertindak secara tidak normal terus membesar dan membentuk benjolan atau tumor. Biasanya sel-sel ganas tersebut berasal dari squamo columnar juntion. Penyebab terbanyak dari kanker leher rahim adalah 99 % dari HPV (human papilloma virus) yang disebarkan lewat perilaku seks yang tidak sehat (Lusa, 2009).

90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi leher rahim dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran rahim yang menuju ke dalam rahim. Kanker leher rahim terjadi jika sel-sel leher rahim menjadi abnormal dan membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bias bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker leher rahim. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun (Aziz M.F, 2006).

2.      Epidemiologi

Berdasarkan laporan WHO, kanker leher rahim ditemukan paling banyak pada usia setelah 40 tahun dan lesi derajat tinggi pada umumnya dapat dideteksi sepuluh tahun sebelum terjadi kanker dengan puncak terjadinya displasia leher rahim pada usia 35 tahun. Di Indonesia terjadi peningkatan kejadian kanker dalam jangka waktu 10 tahun. Peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik dari peringkat 12 menjadi peringkat 6. Diperkirakan terdapat 190.000 penderita baru dan 1/5 akan meninggal akibat penyakit kanker. Namun akibat kanker bisa dikurangi 3-35 % bila dilakukan tindakan preventif, skrining dan deteksi dini (Dalimartha, 2004).

Berbagai macam tumor ganas ginekologik, kanker leher rahim masih menduduki peringkat pertama di Indonesia. Dalam kurun waktu tiga tahun, diantara 5 jenis kanker terbanyak pada wanita sebagai peringkat pertama adalah kanker leher rahim. Umur penderita antara 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Secara nasional melacak (mendeteksi dini) setiap wanita sekali saja setelah melewati usia 30 tahun dan menyediakan sarana penanganannya, untuk berhenti sampai usia 60 tahun. Yang penting dalam pelacakan ini adalah cakupannya (coverage) (Winknjosatro, 2005).

3.      Etiologi

Penyebab langsung dari kanker leher rahim belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar), diantaranya yang penting jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin dari pada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama pada usia yang sangat muda (<16 tahun), insiden meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (hygiene seksual) yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18 dan akhirnya kebiasaan merokok (Winknjosatro, 2005).

Penyebab kanker serviks adalah multifaktor, yang dibedakan atas faktor risiko mayor, faktor risiko minor dan ko-faktor (Suwiyoga, 2007). Pada faktor mayor kanker leher rahim sekitar 90% terdapatnya virus HPV (Human Papilloma Virus). Infeksi HPV resiko tinggi merupakan awal dari pathogenesis kanker leher rahim sedangkan HPV resiko tinggi merupakan karsinogen kanker leher rahim dan awal dari karsinogenesis kanker leher rahim uteri. Penelitian yang dilakukan oleh International Agensi for Risert on Cancer (IARC) terhadap 1000 sampel dari 22 negara mendapatkan adanya infeksi HPV  pada sejumlah 99,7% kanker leher rahim (Andrijono, 2007).

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar). Pada umumnya, kanker bermula pada saat sel sehat mengalami mutasi genetic yang mengubahnya dari sel normal menjadi sel abnormal. Sel sehat tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang teratur. Sel kanker tumbuh dan bertambah banyak tanpa control dan mereka tidak mati. Adanya akumulasi sel abnormal akan membentuk suatu masa (tumor). Sel kanker menginvasi jaringan sekitar dapat berkembang dan tersebar di tempat lain didalam tubuh (metastasis) (Yuliadi, 2008).

Kanker leher rahim paling sering bermula dengan sel datar, tipis yang membentuk dasar selviks (sel skuamosa). Karsinoma sel skuamosa merupakan 80% dari kasus kanker leher rahim. Kanker leher rahim dapat juga terjadi pada sel kelenjar yang membentuk bagian atas dari cerviks. Dapat disebut dengan adenocarsinoma, prevalensi kanker ini yaitu 15% dari kanker leher rahim. Kadang-kadang kedua tipe sel ditemukan pada kanker leher rahim. Terdapat kanker lain pada sellain di serviks namun persentasenya sangat kecil (Yuliadi, 2008).

4.      Gejala dan Tanda

Pasien mungkin saja tidak mengalami gejala kanker leher rahim apapun kanker leher rahim dini biasanya tidak memberikan gejala dan tanda. Semakin kanker berkembang, semakin terlihatlah tanda dan gejala dari kanker leher rahim. Gejala-gejala kanker leher rahim tersebut dapat berupa :

  1. Keputihan. Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium praklinik (karsinoma insitu dan mikro invasif) belum dijumpai gejala-gejala yang spesifik bahkan sering tidak dijumpai gejala. Awalnya, keluar cairan mukus yang encer, keputihan seperti krem tidak gatal, kemudian menjadi merah muda lalu kecoklatan dan sangat berbau bahkan sampai dapat tercium oleh seisi rumah penderita. Bau ini timbul karena ada jaringan nekrosis (Aziz,M.F.,Saifuddin,A.B., 2006).
  2. Perdarahan pervaginam. Awal stadium invasif, keluhan yang timbul adalah perdarahan di luar siklus haid, yang dimulai sedikit-sedikit yang makin lama makin banyak atau perdarahan terjadi di antara 2 masa haid. Perdarahan terjadi akibat terbukanya pembuluh darah disertai dengan pengeluaran sekret berbau busuk, bila perdarahan berlanjut lama dan semakin sering akan menyebabkan penderita menjadi sangat anemis dan dan dapat terjadi shock, dijumpai pada penderita kanker serviks stadium lanjut (Aziz,M.F. dan Saifuddin,A.B., 2006).
  3. Perdarahan kontak. Keluhan ini sering dijumpai pada awal stadium invasif, biasanya timbul perdarahan setelah bersenggama. Hal ini terjadi akibat trauma pada permukaan serviks yang telah mengalami lesi (Rasjidi Imam, 2008).
  4. Nyeri. Rasa nyeri ini dirasakan di bawah perut bagian bawah sekitar panggul yang biasanya unilateral yang terasa menjalar ke paha dan ke seluruh panggul. Nyeri bersifat progresif sering dimulai dengan “Low Back Pain” di daerah lumbal, menjalar ke pelvis dan tungkai bawah, gangguan miksi dan berat badan semakin lama semakin menurun khususnya pada penderita stadium lanjut.
  5. Konstipasi. Apabila tumor meluas sampai pada dinding rektum, kemudian terjadi keluhan konstipasi dan fistula rectoingional (Thomas, R.,2002).
  6. Gejala-gejala lain. Semakin lanjut dan bertambah parahnya penyakit, penderita akan menjadi kurus, anemis karena perdarahan terus-menerus, malaise, nafsu makan hilang, syok dan dapat sampai meninggal dunia (Rahmat, Y, 2001).

5.      Upaya Pencegahan

Kanker leher rahim merupakan suatu penyakit yang ganas, sehingga sangat penting untuk dikenali gejala-gejalanya yang timbul. Gejala yang ditimbulkan mulai dari asymtomatik, artinya tidak bergejala yang biasanya terdapat pada kanker leher rahim stadium dini atau fase awal. Jika pada fase awalnya dapat terdeteksi dengan pemeriksaan medis, kemungkinan besar penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang optimal. Usaha pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan kanker.

Beberapa upaya pencegahan sekunder/deteksi dini terhadap kanker leher rahim kini telah tersedia. Seperti misalnya tes Pap (Papanicolaou) Smear, IVA (Infeksi Visual dengan Asam Asetat), dan Kolposkopi. Test Pap Smear (TPS) merupakan upaya deteksi dini yang sudah dikenal luas, pemeriksaan ini bersifat relative murah, mudah, tidak sakit, dan efektif. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukkan ke dalama liang senggama, mungkin saat itu anda akan merasa tidak nyaman. Spekulum berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas.

Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pencegahan primer, sekunder, dan tersier :

  1. Pencegahan primer. Pencegahan primer harus dilakukan dengan menghindari faktor risiko seperti tidak merokok dan juga dengan vaksinasi. Kelompok yang berisiko juga harus melakukan tes paps smear secara rutin. Pencegahan primer juga dilakukan dengan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat mengenai penyebab dan faktor risiko terjadinya kanker leher rahim. Keberhasilan program penyuluhan dilanjutkan dengan skrining (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).
  2. Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder dilakukan dengan cara deteksi dini terhadap kanker. Artinya penyakit harus ditemukan pada saat pra kanker. Salah satu bentuk pencegahan sekunder adalah dengan melakukan tes paps smear secara teratur. Paps smear adalah semata-mata alat screening dan peranannya terutama pada wanita-wanita yang asimtomatis. Pemeriksaan pap smear berguna untuk mendeteksi adanya kanker leher rahim pada stadium dini, khususnya pada wanita yang telah melakukan hubungan seksual (Grunberg A.G., Vischjager P., 2005). Bagi wanita yang berisiko tinggi sebaiknya menjalani paps smear lebih sering (dua kali setahun) dan dilakukan secara teratur selama dua tahun. Jika hasilnya negative, maka pemeriksaan selanjutnya setiap 3 tahun sekali sampai usia 65 tahun. Bila ada lesi pada serviks harus dilakukan biopsi sebab lesi dapat menunjukkan hasil paps smear negative. Penting sekali untuk melakukan pemeriksaan sel-sel hasil biopsi. Jika terdapat sel-sel tidak normal, segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  3. Pencegahan tersier. Pencegahan tertier dapat dilakukan berupa penyuluhan terhadap pasangan penderita kanker leher rahim khususnya yang telah menjalani histerektomi total agar tetap memperlakukan pasangannya sebagaimana biasanya, sehingga keharmonisan hubungan suami istri tetap terjaga. Konseling dapat dilakukan terhadap penderita stadium lanjut agar faktor psikologis tidak memperburuk keadaan (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).

6.      Diagnosa Kanker Leher Rahim

Kanker leher rahim pada masa prakanker atau stadium awal tidak menimbulkan gejala sehingga dengan membuat diagnosis sedini mungkin dan memulai pengobatan yang sesuai, hasil yang diperoleh akan lebih baik sehingga jumlah wanita yang meninggal akibat kanker leher rahim dapat berkurang. Adapun diagnosis dini pada kanker leher rahim dapat dilakukan dengan pemeriksaan  fisik, test pap smear, kolposkopi, konisasi, dan biopsi.

  1. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan serviks merupakan prosedur mutlak yang perlu dilakukan untuk melihat perubahan portio vaginalis dan mengambil bahan apusan untuk pemeriksaan sitologi ataupun biopsi. Setelah biopsi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi bimanual vagina dan rektum untuk mengetahui luas massa tumor pada serviks dan rektum.
  2. Test Paps Smear. Tes Pap merupakan salah satu pemeriksaan sel leher rahim untuk mengetahui perubahan sel, sampai mengarah pada pertumbuhan sel kanker sejak dini. Apusan sitologi pap diterima secara universal sebagai alat skrining kanker leher rahim. Metode ini peka terhadap pemantauan derajat perubahan pertumbuhan epitel leher rahim. Pemeriksaan Tes Pap dianjurkan secara berkala meskipun tidak ada keluhan terutama bagi yang berisiko (1-2 kali setahun). Berkat teknik Tes Pap, angka kematian turun sampai 75% (Rasjidi Imam, 2008).
  3. Kolposkopi. Kolposkopi adalah alat ginekologi yang digunakan untuk melihat perubahan stadium dan luas pertumbuhan abnormal epitel serviks. Metode ini mampu mendeteksi pra karsinoma leher rahim dengan akurasi diagnostik cukup tinggi (Erich B., 1991). Kolposkopi hanya digunakan selektif pada sitologi Tes Pap abnormal yaitu displasia dan karsinoma in situ atau kasus yang mencurigakan maligna. Kombinasi kolposkopi dan tes Pap memberikan ketepatan diagnostic lebih kuat. Sensitivitas tes Pap dan kolposkopi masing-masing 55% dan 95% dan spesifisitas masing-masing 78,1% dan 99,7% (Erich B.,1991).
  4. Konisasi. Jika pemeriksaan kolposkopi tidak memuaskan maka konisasi harus dilakukan yaitu pengawasan endoserviks dengan serat asetat selulosa di mana daerah abnormal ternyata masuk ke dalam kanalis servikalis (Erich B., 1991).
  5. Biopsi. Biopsi memerlukan prosedur diagnostik yang penting sekalipun sitologi apusan serviks menunjukkan karsinoma. Spesimen diambil dari daerah tumor yang berbatasan dengan jaringan normal. Jaringan yang diambil diawetkan dengan formalin selanjutnya diproses melalui beberapa tahapan hingga jaringan menjadi sediaan yang siap untuk diperiksa secara mikroskopis (Aziz, M.F., 2002)

 

7.      Terapi Kanker Leher Rahim

Bila diagnosa histopatologik telah dibuat, maka pengobatan harus segera dilakukan dan pilihan pengobatan tergantung pada beberapa faktor yaitu:

  1. Letak dan luas lesi
  2. Usia dan jumlah anak serta keinginan menambah anak
  3. Adanya patologi lain dalam uterus
  4. Keadaan sosial ekonomi
  5. Fasilitas

Pengobatan kanker leher rahim tergantung pada tingkatan stadium klinis. Secara umum dapat digolongkan ke dalam tiga golongan terapi ( Indriyani D. , 1991) yaitu:

  1. Operasi. Operasi dilakukan pada stadium klinis І dan П, meliputi histerektomi radikal, histerektomi ekstrafasial dan limpadenotomi. Pada stadium klinis П, di samping operasi, dilakukan juga terapi radiasi untuk mengurangi risiko penyakit sentral yang terus berlanjut.
  2. Radioterapi. Terapi radiasi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Terapi radiasi dilakukan pada Stadium klinis Ш. Selain radiasi terkadang diberikan pula kemoterapi sebagai kombinasi terapi.
  3. Kemoterapi. Kemoterapi dilakukan bila terapi radiasi tidak mungkin diberikan karena metastase sudah sangat jauh. Umumnya diberikan pada Stadium klinis ІV B dan hanya bersifat paliatif.
0

Rumah Sakit

1.    Pengertian Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Rumah sakit merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pelayanan kesehatan.

Rumah sakit merupakan salah satu jaringan pelayanan kesehatan yang penting, sarat dengan tugas, beban, masalah dan harapan yang digantungkan kepadanya. Perkembangan jumlah rumah sakit di Indonesia, yang diikuti pula dengan perkembangan pola penyakit, perkembangan teknologi kedokteran dan kesehatan serta perkembangan harapan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit sehingga dibutuhkannya suatu sistem yang baik yang dapat mengatur dan mengelola segala sumber rumah sakit dengan sebaik-baiknya (Aditama, 2003).

Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan dengan memberdayakan berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik untuk pemulohan dan pemeliharaan kesehatan yang baik (Aditama, 2003).

Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 44/2009 pasal 3 bertujuan :

  1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit, dan sumber daya manusia dirumah sakit.
  3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
  4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit dan rumah sakit.

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfuingsi melakukan upaya kesehatan dasar, kesehatan rujukan dan atau upaya kesehatan penunjang. Upaya keseatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarajan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Aditama, 2003).

2.    Tugas Pokok Rumah Sakit

Berdasarkan Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang  Rumah Sakit disebutkan bahwa tugas pokok rumah sakit adalah melaksanakan upaya pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakn secara  serasi dan terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan rujukan.

3.    Fungsi Rumah Sakit

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit disebutkan bahwa rumah sakit mempunyai fungsi sebagai :

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Abdullah (2007), memaparkan bahwa fungsi rumah sakit adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan pelayanan medis
  2. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis
  3. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
  4. Menyelenggarakan pelayanan rujukan
  5. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
  6. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
  7. Menyelenggarakan administrasi umum
  8. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sementara

4.    Bentuk Pelayanan Rumah Sakit

Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut dalam memenuhi kenginan  pelanggan. Kualitas pelayanan yang baik bagi pasien dikaitkan dengan kesembuhan dari penyakit, meningkatnya derajad kesehatan/kesegaran yang dipengaruhi oleh kecepatan pelayanan, kepuasan terhadap lingkungan fisik dan tarif yang dianggap memadai. Kualitas pelayanan yang buruk lebih disebabkan oleh petugas yang bermuka cemberut, betapapun sangat cekatan dan profesionalnya petugas tersebut dalam memberikan pelayanan (Palitturi, 2005).

Pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini sudah bersifat padat, modal, padat karya, dan padat teknologi dalam menghadapi persaingan global. Dalam hal ini rujukan medik (pusat rujukan) untuk pusat-pusat pelayanan yang ada di wilayah kerjanya. Sifat pengayoman sangat erat kaitannya dengan klasifikasi rumah sakit (Aditama, 2003).

5.    Klasifikasi Rumah Sakit

Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria (Siregar, 2004) :

  • Kepemilikan

Kepemilikan ini mencakup kepemilikan pemerintah pusat, pemerintah daerah, militer, dan BUMN.

  • Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan yang meliputi rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.

  • Lama Tinggal

Lama tinggal di rumah sakit terdiri dari : rumah sakit perawatan jangka pendek, yakni kurang dari 30 hari, dan rumah sakit perawatan jangka panjang yakni lebuih dari 30 hari.

  • Kapasitas Tempat

Kapasitas tempat tidur ini rumah sakit dikelompokan berdasarkan jumlah tempat tidurnya, yakni kurang dari 50 tempat tidur, 50-99 tempat tidur, 209-299 tempat tidur, 300-399 tempat tidur dan 500 tempat  tidur atau lebih.

  • Afitiliasi Pendidikan

Pengelompokan berdasarkan afiliasi pendidikan meliputi : rumah sakit pendidikan dan rumah sakit non pendidikan.

  • Status Akreditasi

Pengelompokan rumah sakit ini didasarkan status terakreditasi, meliputi rumah sakit terakreditasi dan rumah sakit belum terakreditasi.

Klasifikasi rumah sakit umum pemerintah, meliputi :

  1. Rumah sakit umum kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan sub spesialis luas. Oleh pemerintah, rumah sakit kelas A ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi (top referral hospital) atau disebut pula rumah sakit pusat.
  2. Rumah sakit umum kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesisalis luas dan sub spesialis terbatas. Direncanakan rumah sakit kelas B didirikan setiap ibu kota provinsi yang menampung palayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten. Rumah sakit pendidikan yang ridak termaksud kelas A juga klasifikasikan sebagai rumah sakit kelas B.
  3. Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. Pada saat ini ada empat macam pelayanan spesialis ini disediakan yakni pelayanan penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan kesehatan anak serta pelayanan kebidanan dan kandungan. Direncanakan rumah sakit kelas C ini akan didirikan disetiap ibu kota kabupaten yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
  4. Rumah sakit umum kelas D adalah rumah sakit yang bersifat trasisi karena pada suatu saatakan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C. Pada saat ini kemampuan rumah sakit kelas D hanyalah memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedikteran gigi. Sama halnya denga rumah sakit kelas C, rumah sakit kelas D ini juga menampung pelayanan rujukan yang berasal dari puskesmas.
  5. Rumah sakit umum kelas E adalah rumah sakit khusus (spesialis hospital) yang menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja. Pada saat ini banyak rumah sakit kelas E yang telah ditemukan. Misalnya rumah sakit jiwa, rumah sakit kusta, rumah sakit paru, rumah sakit kanker, rumah sakit jantung, rumah sakit ibu dan anak, dan lain sebagainya.

6.    Penampilan Rumah Sakit yang Memuaskan

Pada hakikatnya rumah sakit adalah salah satu industri jasa, dalam hal ini industri jasa kesehatan, oleh karena itu Rumah Sakit harus patuh pada kaidah-kaidah bisnis serta memerlukan sistim administrasi yang bagus. Ada dua alasan mengapa rumah sakit memerlukan sistim administrasi yang baik antara lain ; (1) rumah sakit merawat manusia, (2) Banyaknya profesional yang bekerja di rumah sakit antara lain dokter, perawat, apoteker, radiologis ahli gizi dan lainnya yang menuntut pengaturan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing (Sugiarto, 2002).

Rumah sakit pada masa lalu berbeda dengan yang sekarang. Dulu rumah sakit condong untuk kepentingan sosial. Sesuai dengan perkembangan jaman kini rumah sakit lebih berorientasi kepada bisnis tanpa melupakan fungsi sosialnya. Karena persaingan semakin ketat maka sangatlah dituntut performa rumah sakit yang dapat memuaskan pelanggannya (Sugiarto, 2002), adalah sebagai berikut :

  • Petugas Keamanan

Petugas keamanan yang lebih populer disebut dengan satpam tidak berfungsi sebagai pemicu rasa takut, fungsinya sebagai petugas yang bertanggung jawab atas keamanan di lingkungan rumah sakit dengan segala fasilitas yang dimiliki termasuk pula terhadap pasien yang berobat, serta membantu memperlancar kerja perawatan yang bersifat darurat.

  • Petugas Parkir

Petugas parkir disini adalah petugas parkir yang terlatih tentang cara dan kesantunan dalam menghadapi mobil yang menuju rumah sakit, mereka hendaknya tidak memberikan pelayanan yang berbeda. Petugas parkir harus tetap sopan dan santun terhadap para pengendara yang akan memarkirkan mobilnya.

  • Petugas Informasi

Petugas Informasi inilah yang pertama kali dijumpai pengunjung, pasien ataupun calon pasien, karena itu pada jam buka dan jam pelayanan para petugas informasi harus selalu siap ditempat, sehingga seseorang yang ingin mendapatkan informasi tentang rumah sakit tidak akan kecewa karena informasi yang diinginkan tidak diperoleh.

  • Petugas Tata Usaha Rumah Sakit

Pekerjaan tata usaha rumah sakit berkaitan dengan masalah administrasi perkantoran dan administrasi lainnya. Pasien memerlukan bantuan Petugas Tata Usaha Rumah Sakit Dalam pembuatan nota billing yang mungkin dapat digunakan oleh pasien untuk meminta penggantian biaya yang telah dikeluarkannya kepada perusahaan asuransi dimana pasien tersebut menjadi anggotanya atau kepada  kantornya.

  • Pegawai Apotik

Pegawai apotik mempunyai arti penting dalam memberikan pelayanan setelah pemeriksaan yang diberikan oleh dokter. Biasanya para pasien tidak sabar untuk meperoleh obat-obatan agar sesegera mungkin mengurangi dan menyembuhkan penyakitnya.

  • Petugas Laboratorium

Dalam melakukan pekerjaanya Petugas laboratorium tidak pernah berhubungan langsung dengan pasiennya, karena itu objektivitas dan kerahasiaan penemuan di laboratorium dapat terjamin. Keberhasilan petugas laboratorium dimata pasien adalah dalam hal kecepatan penyampaian hasil.

  • Petugas Rumah Tangga

Petugas ini dalam dunia perhotelan disebut dengan housekeeper sedangkan di Rumah Sakit sering disebut Petugas kerumahtanggaan yang salah satu fungsinya adalah memberikan pelayanan kebersihan rawat inap, lobi, koridor dan tempat-tempat umum lainnya, suasana bersih membuat orang nyaman untuk tinggal, hal ini dapat membantu proses penyembuhan. Membersihkan rawat inap dilakukan pada saat pasien tidak berada dalam ruangan tersebut, tetapi jika memungkinkan meninggalkan ruangan. Petugas kerumahtanggaan mencari saat sepi pengunjung dan menyampaikan permohonan maaf karena mengganggu kenyamanan pasien.

  • Petugas Kafetaria

Hampir setiap Rumah Sakit memiliki kafetaria yang dapat digunakan oleh karyawan, perawat, dokter dan pengunjung. Para petugas harus bersikap ramah dalam melayani mereka. Kesan baik yang diperoleh para pengunjung akan menjadikan iklan yang baik bagi Rumah Sakit yang bersangkutan.

  • Dokter

Kebanyakan orang menganggap pekerjaan dokter adalah pekerjaan yang mulia yang membanggakan dan diminati banyak orang. Dokter adalah seseorang yang telah dilatih dalam bidang medis maupun kedokteran. Profesi dokter memiliki tanggung jawab yang tinggi, dengan munculnya banyak dokter dan rumah sakit swasta baru, persaingan dibidang ini semakin tajam. Rumah sakit dan atau dokter yang akan menang dalam persaingan ini adalah yang dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasien sehingga si pasien akan bercerita atau merekomendasikan calon pasien yang lain untuk menggunakan fasilitas Rumah Sakit atau mengunjungi dokter tersebut. Dokter harus ramah dan sopan dalam memberikan pelayanan disamping itu dalam memberikan diagnosa haruslah didukung oleh peralatan diagnostik yang canggih.

  • Perawat

Profesi perawat adalah profesi yang membanggakan yang diminati oleh kaum muda. Perawat juga memegang kunci keberhasilan atas penyembuhan pasien. Frekuensi perawat dalam berhubungan dengan pasien justru lebih banyak dibandingkan dokter. Dalam memberikan pelayanan perawat sangatlah dituntut pelayanan dengan penuh kasih, tegur, sapa dan salam, disamping penguasaan ilmu dan skill yang tinggi untuk dapat memberikan kualitas pelayanan keperawatan yang memuaskan.