0

#Pengingat: SHALAT KETIKA DADA TERASA SEMPIT

Shalat merupakan penyejuk mata, membawa kebahagiaan, dan kegembiraan.

Benarlah bila shalat bagi suatu kamu merupakan ketenangan dan ketentraman. Shalat membawa rasa aman dan damai, bahkan ia merupakan kenikmatan yang luar biasa., kesenangan yang banyak, sehinngga Nabi Muhammad SAW bersabda, “dan dijadikan bagiku yang dapat menyejukkan pandanganku dalam shalat.” (HR. Ahmad dalam musnadnya no. 13758 dengan sanad hasan).

Suatu ketika orang-orang mulia terdahulu dikelilingi malapetaka. Lalu mereka mendirikan shalat, maka ALLAH SWT pun segera menghilangkan malapetaka atas diri mereka.

Terjadi pula sejarah kaum Afdzadz, ketika mereka dirundung masalah, dan wajah mereka terlihat murung. Lalu mereka segera mendirikan shalat dengan khusyuk. Maka kekuatan, keinginan, dan semangat mereka kembali berkobar.

Shalat khauf diwajibkan untuk melewati masa yang genting. Tatkala korban berjatuhan, hilangnya nyawa dengan tepasan pedang tajam, maka yang paling kokoh dan mendatangkan ketenangan hanyalah shalat yang khusyuk.

Shalat merupakan penolong yang tak pernah luntur, bekal yang tak pernah berkurang, penolong untuk memperbaharui kekuatan, dan bekal untuk kebutuhan hati.

Bila kita renungkan. Shalat lima waktu yang dilaksanakan sehari semalam merupakan lautan keagungan dan kenikmatan. Shalat merupakan penghapus dosa dan pengangkat derajat disisi ALLAH SWT. Shalat merupakan obat yang ampuh bagi setiap tragedi yang menimpa, obat mujarab bagi setiap penyakit, penuang kesucian keyakinan diri dan memenuhi ruang dengan keridhaan.

Adapun mereka yang jauh dari mesjid dan suka meninggalkan shalat, maka keruhlah kehidupan mereka. Jika senantiasa diselimuti kesedihan dari satu kesulitan pada kesulitan yang lain, sebagimana firman ALLAH SWT, “dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka, dan ALLAH menghapus segala amalnya.” (QS. Muhammad [47]: 8).

Shalat merupakan ruh dan embun kesegaran, dan tempat berteduh ketika hijrah. Shalat merupakan sentuhan lembut bagi hati yang lelah dan bakhil. Shalat juga merupakan bekal perjalanan dan sebagai support bagi jiwa.

Shalat dapat menghidupkan hati, membuka hati, pengikat ikatan, memudahkan urusan, pemberi cahaya, melahirkan kemuliaan, penghibur, ketenangan, dan kedamaian.

Shalat merupakan kediaman bagi hati, ketenangan jiwa, rasa amansaat dating rasa takut yang tiba-tiba, sebagai pengokoh setelah rasa takut dan bimbang. Sebagaimana dirasakan Urwah bin Zubair ketika terkena kanker kulit pada kakinya. Para tabib mengisyaratkan untuk memotong kakinya agar penyakit tersebut tidak menyebar keseluruh tubuh.

Maka ia pun mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Pada saat itulah mereka memotong kulitnya dengan pisau, memotong tulangnya dengan gergaji, namun ia khusyuk tanpa berpaling. Kemudian kakinya dimasukkan dalam minyak panas yang dipakai untuk mengeringkan lukanya. Setelah satu jam lamanya, ia pun selesai dari shalat dan bertanya, “apakah kalian sudah selesai?”

Itulah shalat yang dapat menghilangkan kesedihan, melapangkan dada, dan mengikatkan diri dengan ALLAH SWT. Shalat bukan bukan sekedar ucapan yang dilantunkan lidah, tanpa pemahaman akal, dan tanpa khusyuk dalam hati. Shalat bukan pula gerakan yang dilakukan anggota tubuh belaka, bukan seperti shalat orang-orang yang tergesa-gesa, begitu cepat seperti patukan ayam.

Shalat yang dilakukan orang-orang shaleh seperti Abu Muslim Al-Khaulani atau Ibrahim At-Taimi inilah, shalat yang dapat menghilangkan kesedihan. Sampai-sampai ketika sujud dan hinggaplah burung dipunggungnya, ia seperti batang pohon. Atau Abdullah bin Zubair, ketika sujud hinggaplah burung-burung di punggungnya dan burung-burung itu mengira ranting pohon.

Shalat yang dapat menghilangkan kesedihan. Seperti shalat Hatim bin Al-Asham, yang ditanya, “bagaimana Anda Shalat?, Ia menjawab, “aki tunaikan perintah, berjalan dengan tenang, memasukkan niat, mengagungkan-Nya, membaca dengan tartil, ruku dengan khusyuk, sujud dengan tawadhu’, mengucapkan salam dengan sunnah, dan aku serahlan shalat itu dengan ikhlas kepada ALLAH SWT. Dan aku pun merasa takut, bila shalatku tidak diterima.”

Maka benar dalam mendirikan shalat, niscaya Dia akan menghilangkan segala kesedihan, dan membaguskan derajad Anda di akhirat.

sujud-shalat-2

(Dikutip dari: La Tahzan for Women, Karya Nabil bin Muhammad Mahmud)

0

Siapakah Suami Sung Najeong – Reply 1994?

Reply 1994, season ke-2 dari Reply 1997. Kisah kedua drama ini berbeda, settingan tahunnya berbeda, walupun alurnya sama — alur maju-mundur. tapi inti dari ceritanya sama-sama tentang cinta.

ni drama makin bikin orang nervous karena nebak-nebak berhadiah (?) siapa yang jadi suami Sung Najeong. dan akhirnya nama suami Najeong terungkap di episode 4. KIM JEA JOON.

oke. gw bakal sedikit menganalisis siapa suami Najeong (dari sejauh ep 1-4 yang sudah gw tonton).

  • Kandidat pertama yang gw yakin suami Najeong adalah Sseureki aka TRASH (itu nickname nya — kita pada belum tahu siapa nama asli doi. doi mahasiswa kedokteran yang paling pinter di sekolah tapi kelakuannya berbeda saat di rumah –>> sangat jorok. untung-untungan lah dia mandi 1 kali dalam 2 minggu. lol). kenapa dia? pertama, doi orang yang paling dekat sama Najeong sudah seperti kakak kandung Najeong. Najeong dapat melakukan segalanya  kepada Trash seperti memarahinya, make fun padanya, membuat jengkel, tidur bareng (maksudnya bukan tidur seperti suami-istri), peluk-pelukan, cium, dll. begitu pula sebaliknya. kedua, pas episode 1 saat Najeong direkam disaat hari pernikahannya itu, yang terlihat hanya sepatu suaminya kan? nah pas Najeong sakit masuk RS (ep 2), si Trash muncul yang pertama di-shoot itu kakinya. mulai dari situ gw mulan kebayang dan yakin dia yang bakal jadi suami Najeong. apalagi pas Najeong sedih keinget kakak kandungnya yang meninggal, si Trash rela bela-belain cari – beli boneka yang sama sepeti boneka yang dikasi si kakaknya yang sudah almarhum itu. trus, Najeong confess ke dia, walaupun seketika ekspersinya berubah karena dia anggap sebagai ‘APRIL FOOL” tapi tetep dia terlihat kaget dan seperti ingin merespon ucapan Najeong itu. gw keinget sama Reply 1997, yang akhirnya jadi suami Sung Siwon itu orang yang paling deket sama dia, yang dapat melakukan apapun terhadapnya, yang dia dapat melakukan apapun padanya.dalam kasus yang sama, gw yakin si Trash yang bakal jdi suami Najeong.
  • Kandidat kedua adalah Chillbong. (nickname / nama aslinya belum sepenuhnya terungkap. baru last namanya–>> JOON. dia adalah seorang pitcher baseball. sangat tampan, tapi sayang dia merupakan anak dari keluarga broken-home. dia adalah sepupu Binggrae yang ngekos di rumah Najeong). kenapa gw pikir dia suami Najeong? pertama kerena namanya JOON, dimana nama suami Najeong, Kim Jae JOON. pas ep 4 saat di rumah kos, dia dipanggil sama Binggrae, “Chillbong” berulang kali, tapi dia gak merespon. nah pas dipanggil JOON dia langsung merespon. apa hubungannya dengan Najeong? kembali saat 2013, Najeong dapat kiriman paket, tertulis nama suaminya. saat Najeong manggil dengan sebutan “SUAMI” berulang-ulang kali, dia gak noleh. tapi pas dia nyebut nama nya “KIM JEA JOON” semua orang langsung noleh termasuk Chillbong. melihat dari reaksi yang sama disaat yang berbeda (1994 dan 2013), kurasa itu merupakan suatu habit/ kebiasaan orang itu. Chillbong gak merespon ketika seseorang memanggil nicknamenya itu kecuali memanggil nama aslinya, dan suami Najeong hanya merespon jika dipanggil dengan mana aslinya. you got it, kan? 😀 trus pas 2013, dia dan ke 4 orang pria lainnya datang ke apartemen Najeong, dia doang yang pakai baju casual than other guys. trus, dia lay down di sofa dan disuruh tidur di kamar dia langsung pergi menuju kamar tidur. trus pas gw liat 0 ep alias episode pengenalan Reply 1994, disebutkan si Chillbong bakal memulai kisah cintanya di rumah kos itu dimana dia menemukan orang yang dapat membuatnya tertawa setiap saat dia melihatnya dan terus memikirkannya. on the other hand, gw malah ngerasa tentang cinta nya bertepuk sebelah tangan ke Najeong (Najeong nya suka sama Trash oppa tapi gak tau deh si oppa suka apa enggak sama Najeong).
  • Kandidat ketiga adalah Binggrea (nama aslinya belum terungkap. tapi yang jelas dia memiliki nama keluarga yang sama dengan Chilbong krn kedua orang tua mereka menikahi pria yang memiliki nama blakang yang sama. Binggrae adalah mahasiswa kedokteran – junior Trash di kampus. dia orangnya imut, selalu tersenyum, tapi malas masuk kampus alias sering nge-skip kelas nya). kandidat ketiga ini merupakan kandidat suami Najeong yang paling lemah menurut gw. gw belum mendapatkan sesuatu yang berarti/ hints dia bakal jadi suami Najeong. tapi kenapa gw masukkan dia sebagai kandidat suami Najeong? (gw jg binggung hehehe *lah*). kanapa? karena berdasarkan cuplikan ep 5 pas akhir dari ep 4, dia bakal berdua nonton sesuatu sama Najeong. nah disitu ada quote yang menarik, kira-kira seperti ini “ada kata yang tidak bisa diungkapkan dengan baik dengan berbagai keterampilan, tapi MATA berkata “AKU CINTA KAMU”, itu sudah lebih dari pada cukup.” nah dicuplikan itu terlihat mata Binggrae menatap ke Najeong penuh arti saat Trash oppa datang menghampiri Najeong. disamping itu, nama dia katanya sama dengan nama Chilbang. berati ada JOON nya juga dong (dan otomatis nama depan mereka juga sama)? berarti dia juga termasuk salah satu kandidat suami Najeong berdasarkan nama suami Najeong, KIM JAE JOON.
  • sedangkan Haitai dan Sam Cheonpo gak masuk hitungan calon suami Najeong (you will know if you watch) 😀

intinya sama seperti Reply 1997, makin kesini, certanya makin membingungkan, makin bikin penasaran siapa yang akhirnya jadi suami Najeong. Hal yang sudah pasti adalah nama suami Najeong: KIM JAE JOON. yang lainya kita hanya bisa menebak-nebak sampai episode terakhir. sama seperti Repy 1997, penulis-sutradara Reply 1994 tetap bikan kita nunggu/menanti-nanti hingga akhir episode cerita akhirnya seperti apa (siapa yang bakal jadi suami Najeong. 🙂

Baca lebih lanjut

0

Hati-hati dalam berucap!

“Because even the smallest of words can be the ones to hurt you, or save you.” – Natsuki Takaya

Bisa saja hanya dengan satu kata, seseorang menyakiti hati orang lain. Bahkan dia tidak mengetahui ternyata kata yang ia lontarkan telah menyakiti hati orang lain tersebut atau tidak.

“Apakah dia mengira hanya bercanda dan tidak berfikir tentang perasaan orang lain?”

atau “dia tahu dan sengaja mengatakannya untuk mempermalukan orang yang menjadi objeknya??”

“ataukah dia pura-pura tidak tahu bahwa itu akan menyakiti hati orang lain???”

Dan satu kata yang telah dilontarkan seseorang, entah dia tahu atau tidak tahu akan menyakiti perasaan.

Jadi ingat kata AA Gym, “hati akan selalu resah dan tak tenang jika selalu memperdulikan omongan orang terhadap dirikita. hanya kepada Allah lah kita bergantung dan peduli akan apa kehendaknya, Insya Allah akan tenang dan damai.”
Semoga saya terus belajar dengan apa yang saya dapatkan yang terjadi dalam hidupku ini, agar bisa menjadi manusia yang selalu memperbaiki diri untuk menjadi lebih baih dari waktu ke waktu..
Aamiin..
2x
0

Hubungan Personal Hygiene dengan Kanker Leher Rahim

Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan psikis.

Personal hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan daerah kewanitaan meliputi kebiasaan memakai sembarang sabun dan membasuh vagina, pemilihan pakaian dalam yakni memakai pakaian dalam yang ketat dan berbahan sintetis, sering menggunakan WC umum, serta kebiasaan membilas vagina dari arah yang salah yaitu dari arah anus ke arah depan vagina (Wikipedia, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa personal hygiene dapat mempengaruhi terjadinya perubahan keasaman didaerah vagina.  Ketidakseimbangan PH vagina dipicu oleh dua hal yaitu faktor ekstern dan faktor intern.  Faktor intern antara lain dipicu oleh pil kontrasepsi yang mengandung estrogen, trauma akibat pembedahan, terlalu lama menggunakan antibiotik, kortikosteroid dan imunosupresan pada penderita asma dan kanker.  Sedangkan faktor ekstern antara lain kurangnya personal hygiene yang ditandai dengan sering menggunakan pakaian dalam yang ketat, menggunakan WC umum yang tercemar bakteri Chlamydia (Prasetyowati, dkk, 2009).

Masalah tentang kanker leher rahim sangat menjadi perhatian bersama terutama bagi kaum wanita karena sangat penting dan dampaknya luas mencakup berbagai kehidupan dan menjadi parameter terhadap khalayak ramai masyarakat terutama wanita. Di Indonesia banyak wanita yang mengalami kanker leher rahim karena hawa di tanah air lembab sehingga mudah terinfeksi jamur candida yang menyebabkan kanker leher rahim (Nurhayati,dkk. 2010).

Bau busuk dan penggetahan vagina kadang-kadang disebabkan oleh keringat, tampon yang tertinggal, darah lama infeksi, infeksi lipatan kulit, semen dan smegma lama dan gangguan lain yang sejenis. karena keinginan besar (normal) untuk menghindari timbulnya bau busuk dan penggetahan, banyak wanita menggunakan bedak khusus, deodorant, obat pembersih, dan produk lain yang diperdagangkan. Produk-produk ini tidak hanya menyebabkan wanita membuang uang percuma tetapi juga membahayakan. Antiseptik dan deodorant yang digunakan disekitar vulva menyebabkan luka-luka dan iritasi, alergi dan ruam. ironisnya antiseptik dan deodorant tersebut malah dapat menyebabkan kanker leher rahim (Sukartia,2012).

Motivasi dapat mempengaruhi seseorang melakukan perawatan daerah kewanitaan. Motivasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri dan luar diri seseorang. Motivasi akan meningkat apabila faktor-faktor yang mempengaruhi bernilai baik. Dalam hal ini jika personal Hygiene yang dilakukan dengan benar dapat mengurangi resiko terjadinya kanker leher rahim bagi kaum wanita. Pada prinsipnya tidak dibenarkan membersihkan rambut di daerah kewanitaan dengan cara mencabutnya, sebab apabila kita mencabut rambut kemaluan maka akan timbul lubang pada bekas cabutan tersebut dan hal ini dapat menjadi jalan masuk bagi kuman/bakteri dan jamur yang dapat mengakibatkan timbulnya iritasi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kanker leher rahim (Inong, 2008).

Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek Personal Hygiene Menurut L.Green bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh :

  • Faktor Pendahulu

faktor pendahulu adalah yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang.

  • Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin adalah faktor yang meningkatkan tingkat pendapatan dan ketersediaan sarana kebersihan.

  • Faktor penguat

faktor penguat adalah faktor yang dipengaruhi oleh teman sebaya, media massa, dan dari pembinaan tenaga kesehatan.

Dari analisa green dalam Sukartia 2012, bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • Pengetahuan

Pengetahuan seseorang tentang hubungan personal hygiene dengan kanker leher rahim merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

  • Sikap

Sikap terhadap kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap materi tentang kanker leher rahim. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya reaksi terhadap stibulus tertentu, yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. sikap terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap pengetahuan tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu penghayatan terhadap pengetahuan tersebut.

  • Tindakan

Suatu sikap yang baik terhadap kejadian kanker leher rahim belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan diperluka faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon dari sikap tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu respon terhadap sikap tersebut (Sukartia, 2012).

Kebersihan organ reproduksi bagian luar merupakan bagian dari kebersihan diri.  Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari cara membersihkan organ genitalia sesudah BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) yang benar yaitu dari arah depan ke belakang.  Hal ini dilakukan untuk mencegah berpindahnya kuman dari anus ke vagina.  Selain itu, area vagina harus selalu dalam keadaan kering, karena kelembaban dapat menyebabkan kuman, bakteri, dan jamur tumbuh subur sehingga sering kali berlanjut menyebabkan kanker leher rahim (Soekodo dalam Hidayati, dkk 2010).

Dalam faktor personal hygiene yaitu kebiasaan penggunaan WC umum banyak mengakibatkan berbagai penyakit yaitu salah satunya adalah kejadian kanker leher rahim. Kebiasaan menggunakan WC umum cukup beresiko dikarenakan virus HPV (Human Papilloma Virus) yang akan menyebabkan iritasi dan kemudian meningkat dengan sendirinya jika tidak ada penanggulangan sedini mungkin dalam kasus ini. Sesuai pendapat Bustan (2007), bahwa kejadian kanker leher rahim salah satunya dipengaruhi oleh personal hygiene organ genital kurang. Semakin baik kondisi personal hygiene organ genital seseorang maka resiko kejadian kanker leher rahim lebih rendah dibandingkan dengan responden dengan personal hygiene organ genital buruk.

1

Kanker Leher Rahim

1.      Pengertian Penyakit Kanker dan Kanker Leher Rahim

Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan utnuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan oleh agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan ataupun diwariskan (mutasi germline) (Riono, 2006).

Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantungan pada lokasinya dan karakter dari keganasan apakah ada metastasis. Sebuah diagnosis yang menentukan biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi (Riono,2006).

Kanker leher rahim adalah kanker yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks) yaitu suatu daerah yang terdapat pada organ reproduksi wanita, yang merupakan pintu masuk ke arah rahim (uterus), dengan vagina (Marjikoen, 2007).

Kanker serviks adalah jenis kanker yang biasanya tumbuh lambat pada wanita dan mempengaruhi mulut rahim, bagian yang menyambung antara rahim dan vagina. Kanker serviks dapat berasal dari leher rahim ataupun dari mulut rahim, kanker ini tumbuh dan berkembang dari serviks yang dapat menembus keluar dari serviks sehingga tumbuh di luar serviks bahkan dapat tumbuh terus sampai dinding panggul (Andrijono, 2005).

Oleh karena itu kanker serviks merupakan momok yang menakutkan bagi kaum perempuan di Indonesia karena selain belum ada obatnya, kanker jenis ini masih menjadi pembunuh nomor satu perempuan pengidap kanker tersebut. Kanker serviks hingga sekarang belum ada obatnya dan sangat ditakuti kaum perempuan tapi hal ini bisa dihindari dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (Pramono, 2006).

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Kanker ini dapat hadir dengan pendarahan vagina, tetapi gejala kanker ini tidak terlihat sampai kanker memasuki stadium yang lebih jauh (Wikipedia, 2012).

Dalam serviks terdapat 2 jenis sel yaitu sel skuamos dan glandular atau sel endoserviks. Pada kanker serviks, sel-sel bertindak secara tidak normal terus membesar dan membentuk benjolan atau tumor. Biasanya sel-sel ganas tersebut berasal dari squamo columnar juntion. Penyebab terbanyak dari kanker leher rahim adalah 99 % dari HPV (human papilloma virus) yang disebarkan lewat perilaku seks yang tidak sehat (Lusa, 2009).

90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi leher rahim dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran rahim yang menuju ke dalam rahim. Kanker leher rahim terjadi jika sel-sel leher rahim menjadi abnormal dan membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bias bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker leher rahim. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun (Aziz M.F, 2006).

2.      Epidemiologi

Berdasarkan laporan WHO, kanker leher rahim ditemukan paling banyak pada usia setelah 40 tahun dan lesi derajat tinggi pada umumnya dapat dideteksi sepuluh tahun sebelum terjadi kanker dengan puncak terjadinya displasia leher rahim pada usia 35 tahun. Di Indonesia terjadi peningkatan kejadian kanker dalam jangka waktu 10 tahun. Peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik dari peringkat 12 menjadi peringkat 6. Diperkirakan terdapat 190.000 penderita baru dan 1/5 akan meninggal akibat penyakit kanker. Namun akibat kanker bisa dikurangi 3-35 % bila dilakukan tindakan preventif, skrining dan deteksi dini (Dalimartha, 2004).

Berbagai macam tumor ganas ginekologik, kanker leher rahim masih menduduki peringkat pertama di Indonesia. Dalam kurun waktu tiga tahun, diantara 5 jenis kanker terbanyak pada wanita sebagai peringkat pertama adalah kanker leher rahim. Umur penderita antara 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Secara nasional melacak (mendeteksi dini) setiap wanita sekali saja setelah melewati usia 30 tahun dan menyediakan sarana penanganannya, untuk berhenti sampai usia 60 tahun. Yang penting dalam pelacakan ini adalah cakupannya (coverage) (Winknjosatro, 2005).

3.      Etiologi

Penyebab langsung dari kanker leher rahim belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar), diantaranya yang penting jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin dari pada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama pada usia yang sangat muda (<16 tahun), insiden meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (hygiene seksual) yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18 dan akhirnya kebiasaan merokok (Winknjosatro, 2005).

Penyebab kanker serviks adalah multifaktor, yang dibedakan atas faktor risiko mayor, faktor risiko minor dan ko-faktor (Suwiyoga, 2007). Pada faktor mayor kanker leher rahim sekitar 90% terdapatnya virus HPV (Human Papilloma Virus). Infeksi HPV resiko tinggi merupakan awal dari pathogenesis kanker leher rahim sedangkan HPV resiko tinggi merupakan karsinogen kanker leher rahim dan awal dari karsinogenesis kanker leher rahim uteri. Penelitian yang dilakukan oleh International Agensi for Risert on Cancer (IARC) terhadap 1000 sampel dari 22 negara mendapatkan adanya infeksi HPV  pada sejumlah 99,7% kanker leher rahim (Andrijono, 2007).

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar). Pada umumnya, kanker bermula pada saat sel sehat mengalami mutasi genetic yang mengubahnya dari sel normal menjadi sel abnormal. Sel sehat tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang teratur. Sel kanker tumbuh dan bertambah banyak tanpa control dan mereka tidak mati. Adanya akumulasi sel abnormal akan membentuk suatu masa (tumor). Sel kanker menginvasi jaringan sekitar dapat berkembang dan tersebar di tempat lain didalam tubuh (metastasis) (Yuliadi, 2008).

Kanker leher rahim paling sering bermula dengan sel datar, tipis yang membentuk dasar selviks (sel skuamosa). Karsinoma sel skuamosa merupakan 80% dari kasus kanker leher rahim. Kanker leher rahim dapat juga terjadi pada sel kelenjar yang membentuk bagian atas dari cerviks. Dapat disebut dengan adenocarsinoma, prevalensi kanker ini yaitu 15% dari kanker leher rahim. Kadang-kadang kedua tipe sel ditemukan pada kanker leher rahim. Terdapat kanker lain pada sellain di serviks namun persentasenya sangat kecil (Yuliadi, 2008).

4.      Gejala dan Tanda

Pasien mungkin saja tidak mengalami gejala kanker leher rahim apapun kanker leher rahim dini biasanya tidak memberikan gejala dan tanda. Semakin kanker berkembang, semakin terlihatlah tanda dan gejala dari kanker leher rahim. Gejala-gejala kanker leher rahim tersebut dapat berupa :

  1. Keputihan. Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium praklinik (karsinoma insitu dan mikro invasif) belum dijumpai gejala-gejala yang spesifik bahkan sering tidak dijumpai gejala. Awalnya, keluar cairan mukus yang encer, keputihan seperti krem tidak gatal, kemudian menjadi merah muda lalu kecoklatan dan sangat berbau bahkan sampai dapat tercium oleh seisi rumah penderita. Bau ini timbul karena ada jaringan nekrosis (Aziz,M.F.,Saifuddin,A.B., 2006).
  2. Perdarahan pervaginam. Awal stadium invasif, keluhan yang timbul adalah perdarahan di luar siklus haid, yang dimulai sedikit-sedikit yang makin lama makin banyak atau perdarahan terjadi di antara 2 masa haid. Perdarahan terjadi akibat terbukanya pembuluh darah disertai dengan pengeluaran sekret berbau busuk, bila perdarahan berlanjut lama dan semakin sering akan menyebabkan penderita menjadi sangat anemis dan dan dapat terjadi shock, dijumpai pada penderita kanker serviks stadium lanjut (Aziz,M.F. dan Saifuddin,A.B., 2006).
  3. Perdarahan kontak. Keluhan ini sering dijumpai pada awal stadium invasif, biasanya timbul perdarahan setelah bersenggama. Hal ini terjadi akibat trauma pada permukaan serviks yang telah mengalami lesi (Rasjidi Imam, 2008).
  4. Nyeri. Rasa nyeri ini dirasakan di bawah perut bagian bawah sekitar panggul yang biasanya unilateral yang terasa menjalar ke paha dan ke seluruh panggul. Nyeri bersifat progresif sering dimulai dengan “Low Back Pain” di daerah lumbal, menjalar ke pelvis dan tungkai bawah, gangguan miksi dan berat badan semakin lama semakin menurun khususnya pada penderita stadium lanjut.
  5. Konstipasi. Apabila tumor meluas sampai pada dinding rektum, kemudian terjadi keluhan konstipasi dan fistula rectoingional (Thomas, R.,2002).
  6. Gejala-gejala lain. Semakin lanjut dan bertambah parahnya penyakit, penderita akan menjadi kurus, anemis karena perdarahan terus-menerus, malaise, nafsu makan hilang, syok dan dapat sampai meninggal dunia (Rahmat, Y, 2001).

5.      Upaya Pencegahan

Kanker leher rahim merupakan suatu penyakit yang ganas, sehingga sangat penting untuk dikenali gejala-gejalanya yang timbul. Gejala yang ditimbulkan mulai dari asymtomatik, artinya tidak bergejala yang biasanya terdapat pada kanker leher rahim stadium dini atau fase awal. Jika pada fase awalnya dapat terdeteksi dengan pemeriksaan medis, kemungkinan besar penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang optimal. Usaha pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan kanker.

Beberapa upaya pencegahan sekunder/deteksi dini terhadap kanker leher rahim kini telah tersedia. Seperti misalnya tes Pap (Papanicolaou) Smear, IVA (Infeksi Visual dengan Asam Asetat), dan Kolposkopi. Test Pap Smear (TPS) merupakan upaya deteksi dini yang sudah dikenal luas, pemeriksaan ini bersifat relative murah, mudah, tidak sakit, dan efektif. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukkan ke dalama liang senggama, mungkin saat itu anda akan merasa tidak nyaman. Spekulum berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas.

Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pencegahan primer, sekunder, dan tersier :

  1. Pencegahan primer. Pencegahan primer harus dilakukan dengan menghindari faktor risiko seperti tidak merokok dan juga dengan vaksinasi. Kelompok yang berisiko juga harus melakukan tes paps smear secara rutin. Pencegahan primer juga dilakukan dengan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat mengenai penyebab dan faktor risiko terjadinya kanker leher rahim. Keberhasilan program penyuluhan dilanjutkan dengan skrining (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).
  2. Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder dilakukan dengan cara deteksi dini terhadap kanker. Artinya penyakit harus ditemukan pada saat pra kanker. Salah satu bentuk pencegahan sekunder adalah dengan melakukan tes paps smear secara teratur. Paps smear adalah semata-mata alat screening dan peranannya terutama pada wanita-wanita yang asimtomatis. Pemeriksaan pap smear berguna untuk mendeteksi adanya kanker leher rahim pada stadium dini, khususnya pada wanita yang telah melakukan hubungan seksual (Grunberg A.G., Vischjager P., 2005). Bagi wanita yang berisiko tinggi sebaiknya menjalani paps smear lebih sering (dua kali setahun) dan dilakukan secara teratur selama dua tahun. Jika hasilnya negative, maka pemeriksaan selanjutnya setiap 3 tahun sekali sampai usia 65 tahun. Bila ada lesi pada serviks harus dilakukan biopsi sebab lesi dapat menunjukkan hasil paps smear negative. Penting sekali untuk melakukan pemeriksaan sel-sel hasil biopsi. Jika terdapat sel-sel tidak normal, segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  3. Pencegahan tersier. Pencegahan tertier dapat dilakukan berupa penyuluhan terhadap pasangan penderita kanker leher rahim khususnya yang telah menjalani histerektomi total agar tetap memperlakukan pasangannya sebagaimana biasanya, sehingga keharmonisan hubungan suami istri tetap terjaga. Konseling dapat dilakukan terhadap penderita stadium lanjut agar faktor psikologis tidak memperburuk keadaan (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).

6.      Diagnosa Kanker Leher Rahim

Kanker leher rahim pada masa prakanker atau stadium awal tidak menimbulkan gejala sehingga dengan membuat diagnosis sedini mungkin dan memulai pengobatan yang sesuai, hasil yang diperoleh akan lebih baik sehingga jumlah wanita yang meninggal akibat kanker leher rahim dapat berkurang. Adapun diagnosis dini pada kanker leher rahim dapat dilakukan dengan pemeriksaan  fisik, test pap smear, kolposkopi, konisasi, dan biopsi.

  1. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan serviks merupakan prosedur mutlak yang perlu dilakukan untuk melihat perubahan portio vaginalis dan mengambil bahan apusan untuk pemeriksaan sitologi ataupun biopsi. Setelah biopsi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi bimanual vagina dan rektum untuk mengetahui luas massa tumor pada serviks dan rektum.
  2. Test Paps Smear. Tes Pap merupakan salah satu pemeriksaan sel leher rahim untuk mengetahui perubahan sel, sampai mengarah pada pertumbuhan sel kanker sejak dini. Apusan sitologi pap diterima secara universal sebagai alat skrining kanker leher rahim. Metode ini peka terhadap pemantauan derajat perubahan pertumbuhan epitel leher rahim. Pemeriksaan Tes Pap dianjurkan secara berkala meskipun tidak ada keluhan terutama bagi yang berisiko (1-2 kali setahun). Berkat teknik Tes Pap, angka kematian turun sampai 75% (Rasjidi Imam, 2008).
  3. Kolposkopi. Kolposkopi adalah alat ginekologi yang digunakan untuk melihat perubahan stadium dan luas pertumbuhan abnormal epitel serviks. Metode ini mampu mendeteksi pra karsinoma leher rahim dengan akurasi diagnostik cukup tinggi (Erich B., 1991). Kolposkopi hanya digunakan selektif pada sitologi Tes Pap abnormal yaitu displasia dan karsinoma in situ atau kasus yang mencurigakan maligna. Kombinasi kolposkopi dan tes Pap memberikan ketepatan diagnostic lebih kuat. Sensitivitas tes Pap dan kolposkopi masing-masing 55% dan 95% dan spesifisitas masing-masing 78,1% dan 99,7% (Erich B.,1991).
  4. Konisasi. Jika pemeriksaan kolposkopi tidak memuaskan maka konisasi harus dilakukan yaitu pengawasan endoserviks dengan serat asetat selulosa di mana daerah abnormal ternyata masuk ke dalam kanalis servikalis (Erich B., 1991).
  5. Biopsi. Biopsi memerlukan prosedur diagnostik yang penting sekalipun sitologi apusan serviks menunjukkan karsinoma. Spesimen diambil dari daerah tumor yang berbatasan dengan jaringan normal. Jaringan yang diambil diawetkan dengan formalin selanjutnya diproses melalui beberapa tahapan hingga jaringan menjadi sediaan yang siap untuk diperiksa secara mikroskopis (Aziz, M.F., 2002)

 

7.      Terapi Kanker Leher Rahim

Bila diagnosa histopatologik telah dibuat, maka pengobatan harus segera dilakukan dan pilihan pengobatan tergantung pada beberapa faktor yaitu:

  1. Letak dan luas lesi
  2. Usia dan jumlah anak serta keinginan menambah anak
  3. Adanya patologi lain dalam uterus
  4. Keadaan sosial ekonomi
  5. Fasilitas

Pengobatan kanker leher rahim tergantung pada tingkatan stadium klinis. Secara umum dapat digolongkan ke dalam tiga golongan terapi ( Indriyani D. , 1991) yaitu:

  1. Operasi. Operasi dilakukan pada stadium klinis І dan П, meliputi histerektomi radikal, histerektomi ekstrafasial dan limpadenotomi. Pada stadium klinis П, di samping operasi, dilakukan juga terapi radiasi untuk mengurangi risiko penyakit sentral yang terus berlanjut.
  2. Radioterapi. Terapi radiasi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Terapi radiasi dilakukan pada Stadium klinis Ш. Selain radiasi terkadang diberikan pula kemoterapi sebagai kombinasi terapi.
  3. Kemoterapi. Kemoterapi dilakukan bila terapi radiasi tidak mungkin diberikan karena metastase sudah sangat jauh. Umumnya diberikan pada Stadium klinis ІV B dan hanya bersifat paliatif.
2

Kepercayaan Pasien Akan Pelayanan Kesehatan

Menurut Sunanti (2006), kepercayaan merupakan elemen penting yang berpengaruh pada kualitas suatu hubungan. Kepercayaan konsumen terhadap penyedia jasa akan meningkatkan nilai hubungan yang terjalin dengan penyedia jasa. Tingginya kepercayaan akan dapat berpengaruh terhadap menurunnya kemungkinan untuk melakukan perpindahan terhadap penyedia jasa lain.

Menurut Mohamad (2009), membangun kepercayaan ini jauh lebih penting dari sekadar menyediakan ruang yang mewah dan teknologi yang canggih. Judarwanto (2007) menganalisis, bahwa kepercayaan pasien terhadap dokter adalah kunci utama keberhasilan penanganan suatu penyakit. Sebagian besar indikasi berobat ke luar negeri adalah bukan karena keterbatasan alat dan kemampuan dokter, tetapi karena permintaan keluarga pasien. Secanggih apapun sarana medis atau sepintar apapun dokternya tidak akan berarti bila tidak ada rasa percaya. Saat ini masyarakat kita kurang percaya terhadap mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia. Mereka yang berpenghasilan menengah keatas lebih memilih menjalankan pengobatan di luar negeri.

Penelitian Ariawan (2002) menyimpulkan bahwa rumah sakit yang mampu menghargai pasiennya akan dapat meningkatkan kepercayaan pasien yang dilayaninya. Tinggi rendahnya kepercayaan pasien dipengaruhi oleh tinggi rendahnya intensitas komunikasi. Keterpaksaan yang dirasakan pasien akan berpengaruh negatif terhadap kepercayaan pasien. Dengan demikian pihak rumah sakit yang senantiasa membangun komunikasi yang berkualitas dengan pasien akan meningkatkan kepercayaan pasien, sebaliknya apabila pihak rumah sakit tidak melakukan komunikasi dengan baik maka dimungkinkan kepercayaan pasien tidak terbentuk dengan baik.

Menurut Morgan dan Hunt (2008) aspek kepercayaan dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan tingkat keyakinan pasien terhadap kemampuan pihak rumah sakit untuk memenuhi harapan-harapan pasien atau sejauh mana pasien percaya terhadap keahlian yang dimiliki pihak rumah sakit. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan keyakinan pasien terhadap kredibilitas Rumah Sakit, jaminan pelayanan serta niat baik dari pihak Rumah Sakit.

Kepercayaan terhadap petugas kesehatan di Rumah Sakit merupakan salah satu faktor dari kepercayaan terhadap Rumah Sakit secara umum. Menurut Susilowati (2011) kepercayaan merupakan poin penting bagi seorang perawat. Pelayanan keperawatan yang baik saat ini bisa diukur melalui kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Masyarakat sudah bisa menilai standar praktik yang diberikan perawat, kemudian etika serta profesionalismenya. Bila standar itu tidak terpenuhi, maka masyarakat tidak percaya lagi.

Beberapa fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat mulai kurang merasa dilayani oleh pelayanan kesehatan. Rendahnya kepercayaan masyarakat ini, biasanya terjadi berdasarkan pengalaman nyata mereka sendiri akan pelayanan keperawatan yang pernah mereka terima menumbuhkan kepercayaan, perawat harus menyadari terlebih dulu hal apa yang menjadi kekuatan serta kelemahannya, dengan begitu akan dimulai pergerakan ke arah kapabilitas yang lebih tinggi. Para perawat masa kini mestilah bisa menjawab rasa ketidakpercayaan tersebut melalui upaya-upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat dengan bekerja berdasarkan nilai-nilai yang dihayati, nilai dasar sebagai manusia, melayani dengan alturisme yang tinggi, dan selalu sadar diri dengan apa yang akan dilakukan (Susilowati, 2011).