0

Faktor Risiko Hipertensi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita hipertensi. berikut adalah beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi:

1. Kebiasaan Merokok

Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. (Armilawaty, 2007)

Penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Women’s Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek  yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari. (Bowman, 2007)

2. Kebiasaan Makan 

Kebiasaan makan adalah cara seseorang atau kelompok orang memilih dan memakanya sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, budaya dan sosial. Kebiasaan makan dinamakan pula, kebiasaan pangan. (Harper, 1996)

Pola konsumsi dan kebiasaan makan di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah lingkungan alami, bahan makanan yang tersedia, pertumbuhan ekonomi, adanya pantangan/tabu dan pendidikan. Namun pada dasarnya dua faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan makan manusia, yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia dan faktor instrinsik yang berasal dari dalam diri manusia.

Kebiasaan menu makanan yang hanya terdiri dari sumber karbohidrat seperti nasi, umbi-umbian atau kacang-kacangan dan sayuran tergolong kebiasaan menu rendah. Kebiasaan menu ini terdapat lebih banyak bahan makanan yang mengandung zat penghambat absorbsi besi, seperti fitrat, serat, tanin dan fosfat dalam menu makanan. Biasanya menu seperti ini dikonsumsi oleh keluarga yang berpenghasilan rendah yang tidak mampu mengusahakan makanan hewani.

Peningkatan kemakmuran biasanya juga akan diikuti oleh perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan. Kebiasaan makan di kota telah bergeser dari kebiasaan makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran, kebiasaan makan berat seperti instan food (makanan siap saji) yang komposisinya banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam yang tinggi tetapi miskin akan serat, sehingga mempunyai mutu gizi yang tidak seimbang. Sejalan dengan bertambahnya kesibukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari, berimbas pada jenis penyediaan makanan, yang dikenal dengan sebutan fast food (makanan cepat saji).

Terdapat banyak jenis makanan siap saji di pasaran antara lain KFC, McDonalds, Hamburger, Pizza, Spageti, Hot dog dan masih banyak lagi yang lain. Sesuai dengan namanya fast food, jenis makanan ini memiliki beberapa kelebihan antara lain penyajian cepat sehingga tidak menghabiskan waktu dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, higienis, dianggap sebagai makanan bergengsi, makanan modern dan makanan gaul. Sayangnya dibalik itu terdapat kekurangan yakni komposisi bahan makanannya kurang memenuhi standar makanan sehat berimbang, antara lain kandungan lemak jenuh berlebihan karena unsur hewani lebih banyak dibanding nabati, kurang sehat, kurang vitamin, terlalu banyak sodium. Penyajian fast food biasanya dilengkapi dengan minuman ringan (soft drink). Minuman jenis tersebut dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam urat dan menyebabkan hipertensi, karies gigi, karena kandungan gula yang berlebih.

Selain fast food, saat ini banyak jenis makanan yang dikemas dalam bentuk makanan ringan atau snack terbuat dari umbi-umbian, kentang, jagung dengan bumbu masak berupa kripik/chips, anak-anak sangat menyukai jenis ini sehingga terkadang menyebabkan anak tidak mau makan makanan utama (nasi) yang disiapkan di rumah. Chips/kripik termasuk jenis makanan berkalori tinggi, tetapi kurang kandungan vitamin dan protein sehingga disebut junk food (makanan sampah). (Irianto, 2007)

3. Konsumsi Alkohol

Alkohol merupakan salah satu faktor risiko yang memicu timbulnya hipertensi bahkan memicu timbulnya thrombosis. Orang yang sudah kecanduan alkohol akan lebih sering mengalami gangguan metabolisme karena berkurangnya cairan di dalam tubuh.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 86/Men.Kes/Per/IV/77, yang dimaksud dengan minuman keras adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat, yang meliputi :

1)      Minuman Keras Golongan A

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 1% sampai dengan 5%.

2)      Minuman Keras Golongan B

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 5% sampai dengan 20%.

3)      Minuman Keras Golongan C

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 20% sampai dengan 55%. (Nurwijaya, 2009)

Alkohol dalam jumlah besar terbukti bisa meningkatkan tekanan darah. Kenaikan tekanan darah ini disebabkan alkohol dalam darah dapat merangsang pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) yang membuat pembuluh darah menyempit dan juga menyebabkan penumpukan natrium dalam darah. Jika kadar alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah sedikit atau sedang, justru akan dapat menurunkan risiko penggumpalan darah yang dapat mengakibatkan stroke. Alkohol dalam jumlah tidak berlebihan dapat memicu produksi High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol yang baik yang dapat melindungi arteri dari penyempitan atau plak. Dikatakan sedang, jika alkohol dikonsumsi tidak lebih dari satu gelas per hari, dikatakan berat jika alkohol dikonsumsi lebih dari satu gelas per hari. (Marliani, 2007)

Berbagai penelitian telah dilakukan misalnya oleh Hull (1996) yang menyatakan bahwa orang yang minum minuman beralkohol 1,4 liter/hari sangat tinggi risikonya menderita hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali. Peminum alkohol juga dapat meningkatkan risiko menderita penyakit stroke.

Penelitian yang dilakukan oleh Nuriyadin (2005), tentang studi faktor risiko kejadian hipertensi yang berobat di Puskesmas Wawonii Kabupaten Konawe menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol lebih dari satu gelas per hari, memberikan risiko sebesar 1,2 kali lebih besar menderita hipertensi dibandingkan responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol kurang dari satu gelas per hari.

4. Pola asupan garam dalam diet

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. (Shapo, 2003)

Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Cara menormalkannya yaitu cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. (Widayanto, 2010)

Mengurangi konsumsi natrium/sodium sangat dianjurkan. Sumber natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan monosodium glutamate  (MSG), dan  sodium karbonat. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masak-memasak masyarakat kita yang umumnya boros menggunakan garam. (Sianturi, 2003)

0

Hipetensi

1. Pengertian Hipertensi

Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris “Hypertension”. Kata Hypertension itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yakni “hyper” yang berarti super atau luar biasa dan “tension” yang berarti tekanan atau tegangan. Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yakni penyakit tekanan darah tinggi. Selain itu dikenal juga dengan istilah “High Blood Pressure” yang berarti tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah tenaga yang dipakai oleh darah yang dipompa dari jantung untuk melawan tahanan darah. Tekanan darah adalah sejumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah keseluruh tubuh. Jika tekanan darah seseorang meningkat dengan tajam dan kemudian tetap tinggi, orang tersebut dapat dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi. (Bangun, 2006)

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur dengan spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah merokok atau minum kopi. (Wade, 2003)

Ada berbagai macam batasan tingginya tekanan darah untuk dapat disebut hipertensi. Menurut WHO 1993 dan JNC VI menetapkan batasan hipertensi adalah tekanan darah menetap 140/90 mmHg diukur pada waktu istirahat. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi jika tekanan darah sistoliknya lebih besar daripada 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Tekanan darah yang ideal adalah jika tekanan sistoliknya  120 mmHg dan diastoliknya 80 mmHg. (Bruner & Suddarth, 2002)

Secara umum seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/90 mmHg). Tekanan darah normal (normotensif) sangat dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yaitu untuk mengangkat oksigen  dan zat gizi. (Astawan, 2005) Penulisan tekanan darah seperti 110/70 mmHg adalah didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung. Nilai yang lebih tinggi (sistolik) menunjukan fase darah yang sedang di pompa oleh jantung, dan nilai yang lebih rendah (diastolik) menunjukan fase darah kembali ke jantung.

Hipertensi adalah kelainan yang sering ditemukan pada manusia yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah sistemik, tekanan darah yang normal pada manusia diukur pada posisi berbaring dan duduk dimana tekanan darahnya adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik.

Penderita hipertensi yang sangat heterogen membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mozaik, diderita oleh orang banyak yang datang dari berbagai subkelompok, berisiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon, dan genetik, maupun yang bersifat eksogen seperti rokok, nutrisi dan stressor. (Kodim, 2005)

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokan menjadi 2  golongan, yaitu :

a)       Hipertensi Primer atau hipertensi esensial

Hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya atau idiopatik yang meliputi kurang lebih 90 % dari seluruh kasus hipertensi.

b)      Hipertensi Sekunder atau hipertensi renal

Hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain yang meliputi kurang lebih 10 % dari seluruh kasus hipertensi.

Sekitar 50 % dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya dan hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya, oleh karena itu upaya penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. (Susalit, 2002)

Sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi padahal sesungguhnya tidak. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, pendarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang biasa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang diketahui. Menurut  The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2. (Yogiantoro, 2006)

Hipertensi selanjutnya dapat memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah) dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi. (Bangun, 2006)

2.  Epidemiologi

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. (Yogiantoro, 2006) Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. (Armilawaty, 2007)

Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan  masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan  kesehatan. Baik dari segi case finding maupun penatalaksanaan  pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa  Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian  Jaya sebesar 0,6% sedangkan angka prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. (Wade, 2003)

Hasil penelitian Oktora (2007) mengenai gambaran penderita hipertensi yang dirawat inap di bagian penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2005 didapatkan penderita hipertensi meningkat secara nyata pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebesar 24,07% dan mencapai puncaknya pada kelompok umur ≥ 65 tahun yaitu sebesar  31,48%. Jika dibandingkan antara pria dan wanita didapatkan wanita lebih banyak menderita hipertensi yaitu sebesar 58,02% dan pria sebesar 41,98%. (Oktora, 2007)

3.  Etiologi Hipertensi

Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan pasti. Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal, gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Penyebab paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang tidak terobati. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. (Sharma, 2008) Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara  lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi. (Yogiantoro, 2006)

Faktor lingkungan merupakan faktor yang paling berperan dalam perjalanan munculnya penyakit hipertensi. Faktor ini meliputi intake garam yang berlebihan, obesitas, pekerjaan, alkoholisme, stresor psikogenik dan tempat tinggal. Semakin banyak seseorang terpapar faktor-faktor tersebut maka semakin besar kemungkinan seseorang menderita hipertensi, juga seiring bertambahnya umur seseorang. (Fauci et al, 2002)

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang ditetapkan sebagai penyebab langsung hipertensi esensial. Berbeda dengan hipertensi sekunder yang saat ini telah banyak ditemukan penyebabnya secara langsung, beberapa di antaranya adalah : sleep-apnea, drug-induced atau drug-related hypertension, penyakit ginjal kronik. Aldosteronisme primer, penyakit renovaskular, terapi steroid jangka lama dan sindrom Cushing. (Elliot dan Simpson, 2000)

4.  Klasifikasi

Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata dua kali pengukuran pada masing-masing kunjungan.

1)        Klasifikasi menurut The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988)

The National Committee On The Detection and Treatmet of Hypertension (1988) mengklasifikasikan tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan darah yang dimaksud adalah rata-rata dua atau lebih pengukuran dan dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda.

Tekanan darah diastolik :

< 85 mmHg                        = tekanan darah normal

85-89 mmHg                      = tekanan darah ringan

90-105 mmHg                    = tekanan darah sedang

106-114 mmHg                  = tekanan darah berat

> 115 mmHg                      = tekanan darah berbahaya

Tekanan darah sistolik :

< 140 mmHg                      = tekanan darah normal

140-159 mmHg                  = Bordeline Isolated Systolic Hypertension

> 160 mmHg                      = Isolated Systolic Hypertension

2)       Klasifikasi Menurut WHO

Menurut WHO (World Health Organization) tekanan darah dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu :

  1. Normatensif (tekanan darah normal) yaitu jika tekanan darah sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
  2. Bordeline Hypertension (tekanan darah perbatasan) yaitu tekanan darah sistolik 141-149 mmHg dan tekanan darah diastolik 91-94 mmHg.
  3. Hypertension (tekanan darah tinggi) yakni jika tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 160 mmHg dan terkanan darah diastolik lebih atau sama dengan 95 mmHg.

3)       Klasifikasi menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee on The Prevention, Detection, Evalution of High Blood Pressure (2003). Batasan yang digunakan adalah untuk individu diatas umur 18 tahun, tidak dalam pengobatan antihipertensi dan tidak dalam keadaan sakit mendadak.

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Untuk yang berumur 18 tahun atau lebih

KATEGORI

SISTOLIK (mmHg)

DIASTOLIK (mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi Stadium I

140-159

90-99

Hipertensi Stadium II

> 160

> 100

Sumber : JNC VII 2003

5.  Mekanisme Hipertensi

                        Tekanan darah tinggi merupakan bahaya terselubung karena tidak menampakan gejala yang nyata. Tekanan darah tergantung dari jantung sebagai pompa dan hambatan pembuluh arteri. Selama 24 jam, tekanan  darah tidak tetap. Tekanan darah yang paling rendah terjadi jika tubuh dalam keadaan istirahat dan akan naik sewaktu mengadakan latihan atau olahraga. Tubuh seseorang memiliki suatu mekanisme yang dapat mengatur tekanan darah, sehingga dapat menyuplai sel-sel darah dan oksigen yang cukup. Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostenin II dari angiostenin I oleh Angiostensi I-Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam pengaturan tekanan darah. Hormon renin yang diproduksi oleh ginjal akan diubah menjadi angiostenin I. ACE yang terdapat di dalam paru-paru, angiostenin I diubah menjadi Angiostenin II. Angiostenin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikan tekanan darah melalui dua cara.

Pertama adalah meningkatkan sekresi hormon Antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitary) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. ADH yang meningkat, akan menghasilkan sedikit urin untuk diekskresikan kelur tubuh, sehingga menjadi pekat dan osmolalitasnya tinggi. Volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler untuk mengencerkannya, akibatnya volume darah meningkat yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Cara kedua adalah dengan menstimulasi sekresi aldosteron dari kortek adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang akan mengurangi eksresi NaCl (garam) dengan cara mengabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada giliranya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. (Astawan, 2005)

Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume sirkulasi darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi.

Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadang-kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun. (Sharma, 2008)

6.  Komplikasi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan  penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan risiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun.

Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ  vital. Penyebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal.

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Komplikasi pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Perdarahan yang sering terjadi di otak disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.

Risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien hipertensi ditentukan tidak hanya tingginya tekanan darah tetapi juga telah atau belum adanya kerusakan organ target serta faktor risiko lain seperti merokok, dislipidemia dan diabetes melitus. (Susalit, 2002)

Tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari 50 tahun, merupakan faktor risiko kardiovaskular yang penting. Selain itu dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali. (Ridjab, 2005)

7.  Faktor Risiko Hipertensi

                        Risiko adalah ukuran statistik dari peluang untuk terjadinya suatu keadaan yang tidak di inginkan dimasa datang. Faktor risiko adalah suatu keadaan atau ciri tertentu pada seseorang atau kelompok yang mempunyai hubungan dengan peluang terjadinya suatu penyakit, cacat, kematian. (Rochjati, 1992)

Faktor-faktor yang dapat dimasukkan sebagai risiko hipertensi menurut Bustan (1997) seperti : umur, ras, keadaan geografik, seks, kegemukan, stress, personlity tipe A, diet, diabeter melitus, komposisi air, alkohol, rokok, kopi serta pil KB.

8.  Lima (5) tahap Pencegahan Penyakit Hipertensi (Five Level Prevention)

          1. Health Promotion

Promosi kesehatan (Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. (Noor, 2000)

Menurut Noor (2000), promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:

a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agen-agen penyakit.

b. Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi asupan alkohol, berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat badan dan mengatasi stres yang baik.

2. Spesific protection

Pencegahan khusus (spesific protection) merupakan rangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan pada pejamu dan/atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu (Noor, 2000) dengan berbagai upaya seperti: perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti: makan dengan teratur (3x sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agen penyakit pada saat masuk ke dalam tubuh.

3. Early Diagnosis and Prompt Treatment

Menurut Noor (2000), diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt Treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini yaitu sebagai berikut:

a. Meluasnya penyakit atau terjadinya tidak menular.

b. Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

c.Melakukan screening (pencarian penderita hipertensi) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit hipertensi.

d. Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit hipertensi sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.

4. Disability Limitation

Menurut Noor (2000), pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab penyakit.

Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan dan kematian akibat penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan upaya seperti: mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihan dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit hipertensi tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu.

5. Rehabilitation

Menurut Noor (2000), rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (Disability Limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit hipertensi yaitu sebagai berikut:

a. Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit hipertensi.

b. Rehabilitasi mental dari penderita hipertensi, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada di sekitarnya karena pernah menderita penyakit hipertensi.

c. Rehabilitasi sosial bagi penderita hipertensi, sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdayaguna.

1

Karies Gigi

a.      Pengertian Karies Gigi

Umumnya, penyakit yang menyerang gigi dimulai dengan adanya plak gigi.  Plak timbul dari sisa makanan yang mengendap pada lapisan gigi yang kemudian berinteraksi dengan bakteri yang banyak terdapat dalam mulut, seperti Streptococcus mutans.  Plak akan melarutkan lapisan email pada gigi yang lama kelamaan lapisan tersebut menipis.  Terjadinya plak sangat singkat, yaitu hanya 10-15 menit setelah makan.  Plak yang menumpuk kemudian membentuk karies gigi yang akhirnya merusak email hingga melubangi gigi (Besford, 1996).

Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan demineralisasi (larutnya mineral email) dan  terus berjalan ke bagian yang lebih dalam dari gigi sehingga terjadi kavitasi (pembentukan lubang) yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus) (Schuurs, 1993).

Karies gigi adalah penghancuran terlokalisasi dari jaringan gigi oleh mikroorganisme (Pine, 1997).  Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan (Kidd & Bechal,1991).

Newburn dalam Darwita (2004) mendefinisikan karies gigi sebagai penyakit bakterial yang menyerang gigi dimana bagian organik dari gigi mengalami destruksi, sedangkan bagian anorganiknya mengalami dekalsifikasi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karies gigi adalah suatu proses kronis regresif , dimana prosesnya terjadi terus berjalan ke bagian  yang lebih dalam dari gigi sehingga membentuk lubang yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, pada proses ini terjadi demineralisasi yang disebabkan oleh adanya interaksi kuman, karbohidrat yang sesuai pada permukaan gigi dan waktu.

b.      Proses Terjadinya Karies Gigi

Karies gigi adalah penyakit multifaktor yang merupakan hasil kombinasi dari 4 faktor utama yaitu inang dan gigi, mikroorganisme di dalam plak, substrat dan waktu (Pine, 1997).

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Schuurs, 1993).

Biasanya karies terlihat berwarna cokelat kehitaman atau noda-noda putih yang bila diraba dengan sonde, email belum tersangkut. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi akan timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Lama-kelamaan bagian karies ini akan terasa kasar serta diikuti dengan tertahannya sonde. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.  Karies yang berwarna cokelat kehitaman lebih lama menimbulkan lubang pada gigi sedangkan noda yang berwarna putih lebih cepat menimbulkan lubang (Tarigan, 1995).

c.       Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi

1)   Mikroorganisme              

Peran bakteri dalam menyebabkan terjadinya karies sangatlah besar. Bakteri yang sangat dominan dalam karies gigi adalah Streptococcus mutans. Bakteri ini sangat kariogen karena mampu membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.  Akibatnya bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain.

Streptococcus mutans berperan dalam proses awal karies yaitu lebih dulu masuk lapisan luar email. Selanjutnya Lactobacillus acidophilus mengambil alih peranan pada karies yang lebih merusakkan gigi.  Mikroorganisme menempel di gigi bersama plak.  Plak terdiri dari mikroorganisme (70 %) dan bahan antar sel (30 %).  Plak akan tumbuh bila ada karbihidrat, sedang karies akan terjadi bila ada plak dan karbohidrat (Suwelo, 1992).

2)   Substrat

Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari yang menempel pada gigi. Seringnya mengkonsumsi gula akan menambah pertumbuhan plak dan menambah jumlah Streptococcus mutans didalamnya.

Sukrosa merupakan gula yang kariogen, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Sukrosa merupakan gula yang paling banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama (Kidd & Bechal,1991).

3)   Inang atau Gigi

Faktor- faktor dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan karies, yaitu :

a)  Bentuk

Variasi morfologi gigi juga mempengaruhi resistensi gigi terhadap karies.  Gigi dengan fissure (lekukan) yang dalam lebih mudah terserang karies. Hal demikian memudahkan masuknya makanan di daerah itu yang sulit dibersihkan.

b)  Posisi

Gigi yang berjejal dan susunannya tidak teratur lebih sukar dibersihkan.  Hal ini cenderung meningkatkan penyakit periodontal dan karies. Gigi geligi berjejal (crowding) dan saling tumpang tindih (over lapping) akan mendukung terjadinya karies, karena daerah tersebut sulit dibersihkan.  Gigi yang mempunyai permukaan dan bentuk yang tidak teratur dapat mengakibatkan sisa-sisa makanan terselip dan bertahan sehingga produksi asam oleh bakteri berlangsung cepat dan mengakibatkan terjadinya pembusukan gigi yang memicu timbulnya gigi berlubang.

c)  Struktur

Komposisi gigi sulung terdiri dari email dan dentin.  Dentin adalah lapisan di bawah email.  Permukaan email lebih banyak mengandung mineral dan bahan-bahan organik dengan air yang relatif lebih sedikit.  Permukaan email terluar lebih tahan karies dibanding lapisan di bawahnya, karena lebih keras dan lebih padat.  Struktur email sangat menentukan dalam proses terjadinya karies (Suwelo, 1992).

Keberadaan flour dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi dan lingkungannya merangsang efek anti karies (Kidd & Bechal, 1991).

4)  Waktu

Waktu menjadi salah satu faktor penting, karena meskipun ada ketiga faktor sebelumnya proses pembentukan karies gigi relatif lambat dan secara klinis terlihat kehancuran dari email lebih dari empat tahun (Pine, 1997).

Saliva berperan dalam menjaga kelestarian gigi.  Banyak ahli menyatakan, bahwa saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia (produksi ludah yang kurang) dimana akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat (Suwelo, 1992).

Sekresi kelenjar anak-anak masih bersifat belum konstan, karena kelenjarnya masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan.  Saliva berfungsi sebagai pelicin, pelindung, penyangga, pembersih, pelarut dan anti bakteri. Sekresi air ludah yang sedikit atau tidak ada sama sekali memiliki persentase karies yang tinggi (Suwelo, 1992).

Berikut peranan aliran saliva dalam memelihara kesehatan gigi:

a)      Aliran saliva yang baik akan cenderung membersihkan mulut termasuk melarutkan gula serta mengurangi potensi kelengketan makanan.  Dengan kata lain, sebagai pelarut dan pelumas.

b)      Aliran saliva memiliki efek buffer (menjaga supaya suasana dalam mulut tetap netral), yaitu saliva cenderung mengurangi keasaman plak yang disebabkan oleh gula.

c)      Saliva mengandung antibodi dan anti bakteri, sehingga dapat mengendalikan beberapa bakteri di dalam plak.  Namun jumlah saliva yang berkurang akan berperan sebagai pemicu timbulnya kerusakan gigi (Besford, 1996).

Faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan proses terjadinya karies, antara lain :

a)      Letak geografis

Perbedaan prevalensi karies ditemukan pada penduduk yang geografis letak kediamannya berbeda seperti lamanya matahari bersinar, suhu, cuaca, air, keadaan tanah, dan jarak dari laut.  Kandungan flour 1 ppm dalam air akan berpengaruh terhadap penurunan karies (Suwelo, 1992).

b)      Pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemeliharaan kesehatan gigi

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.  Pengetahuan/ kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang diterimanya. Sikap itu belum merupakan tindakan, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan (Notoatmodjo, 2003).

Tindakan atau praktek yaitu suatu respon seseorang terhadap rangsangan dari luar subyek, bisa bersifat positif atau tindakan secara langsung dan bersifat negatif atau sudah tampak dalam tindakan nyata (Notoatmodjo, 2003).

d.  Faktor-faktor yang Meningkatkan Karies Gigi

1)      Diabetes Melitus

Diabetes Melitus dapat meningkatkan terjadinya jumlah penderita karies.  Tetapi bila seorang penderita telah menyadari keadaannya dan menjalankan diet, keberadaan karies bahkan akan terjadi lebih sedikit dibandingkan rata-rata.

2)   Xerostomia

Xerostomia merupakan penyakit kurang produksi ludah.  Hal ini jelas merupakan faktor predisposisi.

e.       Jenis Karies Gigi Berdasarkan Tempat Terjadinya

1)      Karies Insipiens

Karies Insipiens merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkeras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email.

2)      Karies Superfisialis

Karies Superfisialis merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan kadang-kadang terasa sakit.

3)      Karies Media

Karies Media merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa.  Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis.

4)      Karies Profunda

Karies Profunda merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun.  Apabila tidak segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-karies lainnya (Schuurs, 1993).

f.       Pencegahan Karies Gigi

Pencegahan karies gigi bertujuan untuk mempertinggi taraf hidup dengan memperpanjang kegunaan gigi di dalam mulut.

Pencegahan karies gigi meliputi :

1)      Konsumsi vitamin dan mineral yang menguatkan gigi

Tindakan ini ditujukan pada kesempurnaan struktur email dan dentin atau gigi pada umumnya.  Ada beberapa vitamin dan zat mineral yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan dan kekerasan gigi.  Vitamin dan mineral tersebut adalah vitamin A, C dan D serta mineral Ca, P, F dan Mg.  Selain usia anak-anak dan dewasa, para ibu hamil pun perlu diberikan makanan yang mengandung unsur-unsur yang dapat menguatkan email dan dentin sebelum agar tidak terjadi pengapuran pada gigi bayinya.

2)      Kebersihan mulut dan gigi yang harus diperhatikan supaya tetap sehat.

Menggosok gigi merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi dalam rangka tindakan pencegahan karies gigi. Walaupun kegiatan menggosok gigi merupakan kegiatan yang sudah umum namun masih ada kekeliruan baik dalam pengertiannya maupun dalam pelaksanaannya (Besford, 1996).

Melakukan penyikatan gigi yang baik adalah dengan frekuensi dan waktu sesuai yang disarankan Manson (1995) yaitu dua kali, pagi hari sesudah makan dan malam hari sebelum tidur atau yang disarankan Be Kien Nio (1982) yaitu tiga kali sehari setiap kali setelah makan dan malam sebelum tidur (Chemiawan, 2004).

3)      Pemeriksaan berkala 6 bulan sekali

Pemeriksaan gigi pada dokter gigi atau pelayanan kesehatan yang ada perlu dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali untuk mencegah terjadinya karies gigi.

4)      Pengaturan konsumsi makanan yang mengandung banyak gula

Frekuensi dari konsumsi makanan yang mengandung banyak gula harus sangat dikurangi khususnya konsumsi makanan kecil yang dilakukan antara jam-jam makan (waktu senggang).

5)      Penggunaan fluor

Penggunaan fluor merupakan metode yang paling efektif untuk menghambat kehidupan bakteri yang ada pada plak dalam mulut sehingga dapat mencegah terjadinya karies gigi.  Penggunaan fluor dapat diberikan dalam bentuk fluoridasi air minum, fluoridasi garam dapur, fluoridasi air susu, tablet hisap fluor, pasta gigi dan larutan fluor untuk berkumur (Tarigan, 1995).

0

Penyakit Campak

1.      Pengertian

Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus campak, 90 % anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak (Depkes RI, 2008).

2.      Cara dan Masa Penularan

  1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
  2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit (Depkes RI, 2008)

3.      Etiologi

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxopiridae dengan masa inkubasi rata-rata 10 hari. Virus campak berasal dari sekresi yang keluar dari hidung dan tenggorokan, saat penderita campak bersin, batuk atau bernafas. Penyakit campak hanya menyerang manusia sehingga secara bertahap dapat direduksi, eliminasi dan akhirnya dapat dieradikasi (Depkes, 2006).

Orang-orang yang rentan terkena campak adalah;

  1. Anak berumur lebih dari 1 tahun
  2. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi
  3. Remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua (Chaudhry dan Harvey, 2001).

4.      Patogenesis

Virus campak menginfeksi dengan invasi pada epitel traktus respiratorius mulai dari hidung sampai traktus respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa respiratorius segera disusul dengan viremia pertama dimana virus menyebar dalam leukosit pada sistem retikuloendotelial. Setelah terjadi nekrosis pada sel retikuloendotelial sejumlah virus terlepas kembali dan terjadilah viremia kedua.

Sel yang paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan yang terinfeksi termasuk timus. kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah terjadi viremia kedua seluruh mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga menyebabkan timbulnya gejala batuk dan korisa. Campak dapat secara langsung menyebabkan croup, bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan respiratorius seperti edema dan hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia. Setelah beberapa hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak koplik dan kemudian timbul ruam pada kulit. Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan penyakit menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat reaksi hipersensitivitas host pada virus campak (Tommy, 2000).

5.      Manifestasi Klinis

Setelah masa tunas selama 10-11 hari penyakit diawali dengan demam dan malaise. Dalam waktu 24 jam terjadi korisa, konjungtivitis dan batuk. Keluhan tersebut semakin menghebat hingga mencapai puncaknya pada hari ke empat dengan munculnya erupsi kulit. Kira-kira dua hari sebelum timbul ruam tampak bercak koplik pada selaput mukosa pipi yang berhadapan dengan molar. Dalam tiga hari lesi semakin bertambah dan mengenai seluruh mukosa. Demam menurun dan bercak koplik menghilang pada akhir hari kedua setelah tirnbul ruam. Ruam berupa eupsi makulopapular yang kemerahan menjalar dari kepala (muka, dahi, garis batas rambut, telinga dan leher bagian atas) menuju ke ekstrimitas dalam 3 sampai 4 hari. Dalam 3 sampai 4 hari berikutnya ruam rnemudar sesuai urutan terjadinya. Komplikasi yang terjadi pada penderita campak dapat disebabkan oleh perluasan infeksi virus, infeksi sekunder oleh bakteri atau keduanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia obstruktif aringitis dan laryng trakeo bronchitis (Tommy, 2000).

6.      Lima Pencegahan (Five Level Prevention) Penyakit Campak

        a.      Health Promotion

Promosi kesehatan (health promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahap ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat (Noor, 2000).

Promosi kesehatan dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dalam berbagai upaya seperti :

1)        Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agent-agent penyakit khususnya penyakit infeksi seperti virus campak serta memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak.

2)        Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti tata cara dalam melakukan hygiene perorangan maupun hygiene masyarakat.

3)        Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar anggota rumah tangga dan lain-lain.

4)        Peningkatan kesegaran jasmani seperti; membiasakan diri melakukan olahraga secara teratur (Noor, 2000).

          b.      Spesifik Protection

Pencegahan khusus merupakan serangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan kepada penjamu dan atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit tertentu ( Noor, 2000).

Pencegahan khusus (spesifik protection) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Dapat melakukan modifikasi lingkungan seperti; perbaikan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dalam hal ini sarana air bersih, jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan tempat pembuangan sampah.

2)      Perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti ; makan dengan teratur (3 kali sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit pada saat masuk kedalam tubuh.

3)      Pemberian imunisasi campak ini juga bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh anak balita melalui anti gen yang dimasukan kedalam tubuh berupa virus campak yang telah di lemahkan. Sehingga dengan masuknya anti gen tersebut kedalam tubuh di harapkan dapat memberikan atau meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap virus campak jika menyerangnya (Noor, 2000).

c.       Early Diagnosis and Prompt Treatment

Diagnosis dini dan pengobatan dini (early diagnosis and prompt treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat kedua ini yaitu sebagai berikut :

1)      Meluasnya penyakit/terjadinya wabah pada penyakit menular.

2)      Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

Diagnosis dini dan terapi awal (early diagnosis and prompt treatment) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui; pemeriksaan berkala disarana pelayanan kesehatan untuk memastikan bahwa seseorang benar tidak menderita penyakit campak dan gangguan kesehatan lainnya.

2)      Melakukan screening (pencarian penderita penyakit campak) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit campak.

3)      Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit campak sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya (Noor, 2000).

        d.      Disability Limitation

Pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab tertentu. Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan akibat penyakit campak dapat dilakukan dengan upaya seperti : mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihanpun dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit campak tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi jika penderita mengalami penyakit campak dan disertai dengan infeksi oleh agent lainnya (Noor, 2000).

      e.       Rehabilitation

Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (disability limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi (rehabilitation) yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit campak yaitu sebagai berikut :

1)      Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit campak.

2)      Rehabilitasi mental/psycho rehabilitation dari penderita campak, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada disekitarnya karena pernah menderita penyakit campak.

3)      Rehabilitasi sosial bagi penderita campak sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdaya guna (Noor, 2000).

0

Surveilans Epidemiologi

~Tinjauan Tentang Surveilans Epidemiologi

1.      Pengertian

Surveilans menurut WHO adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Sehingga dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan (Masrochah, 2006).

Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah kabupaten/kota, propinsi dan Pusat (Azwar, 2003).

2.      Manfaat dan tujuan surveilans epidemiologi

Manfaat surveilans epidemiologi (a).Deteksi Perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya (b).Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit (c).Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan tempat (d).Identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya (e).Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi (f).Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis (g).Mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya (h).Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa datang (i).Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan. Inti kegiatan surveilans pada akhirnya adalah bagaimana data yang sudah dikumpul, dianalisis, dan dilaporkan ke stakeholder atau pemegang kebijakan untuk ditindaklanjuti dalam pembuatan program intervensi yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia (HIMAPID FKM UNHAS, 2008).

Tujuan surveilans epidemiologi tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat secara menyeluruh (Buton, 2008).

 

3.      Ruang lingkup penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan

Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa sebab, oleh karena itu secara operasional diperlukan tatalaksana secara integratif dengan ruang lingkup permasalahan sebagai berikut :

a.      Surveilans epidemiologi penyakit menular

Merupakan analisis terus menerus dan sistematika terhadap penyakit menular dan faktor resiko untuk upaya pemberantasan penyakit menular.

b.      Surveilans epidemiologi penyakit tidak menular

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.

c.       Surveilans epidemiologi kesehatan lingkungan dan perilaku

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor resiko untuk mendukung program penyehatan lingkungan.

d.      Surveilans epidemiologi masalah kesehatan

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan factor resiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.

e.       Surveilans epidemiologi kesehatan matra

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra (Depkes RI, 2003).

4.      Penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan

Penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan wajib dilakukan oleh setiap instansi kesehatan pemerintah, instansi kesehatan propinsi, instansi kesehatan kabupaten/kota dan lembaga masyarakat dan swasta baik secara fungsional atau struktural.

Mekanisme kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terus menerus dengan mekanisme sebagai berikut :

a. Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta informasi terkait lainnya.

b. Perekaman, pelaporan dan pengolahan data

c. Analisis dan intreprestasi data

d. Studi epidemiologi

e. Penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkannya

f. Membuat rekomendasi dan alternatif tindak lanjut.

g. Umpan balik.

Jenis penyelenggaraan surveilans epidemiologi adalah sebagai berikut :

  • Penyelenggaraan berdasarkan metode pelaksanaan

1)      Surveilans epidemiologi rutin terpadu, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap beberapa kejadian, permasalahan dan atau faktor resiko kesehatan.

2)      Surveilans epidemiologi khusus, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap suatu kejadian, permasalahan , faktor resiko atau situasi khusus kesehatan

3)      Surveilans sentinel, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada populasi dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi atau wilayah yang lebih luas.

4)      Studi epidemiologi, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada periode tertentu serta populasi atau wilayah tertentu untuk mengetahui lebih mendalam gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau factor resiko kesehatan.

  • Penyelenggaraan berdasarkan aktifitas pengumpulan data

1)      Surveilans aktif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemilogi dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

2)      Surveilans pasif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

  • Penyelenggaraan berdasarkan pola pelaksanaan

1)      Pola kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau bencana

2)      Pola selain kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk keadaan di luar KLB dan atau wabah dan atau bencana,

  • Penyelenggaraan berdasarkan kualitas pemeriksaan

1)      Bukti klinis atau tanpa peralatan pemeriksaan, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan klinis atau tidak menggunakan peralatan pendukung pemeriksaan.

2)      Bukti laboratorium atau dengan peralatan khusus, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemerksaan laboratorium atau peralatan pendukung pemeriksaan lainnya.

5.      Komponen sistem

Setiap penyelenggaraan surveilans epidemiologi penyakit dan masalah kesehatan lainnya terdiri dari beberapa komponen yang menyusun bangunan sistem surveilans yang terdiri atas komponen sebagai berikut

  1. Tujuan yang jelas dan dapat diukur
  2. Unit surveilans epidemiologi yang terdiri dari kelompok kerja surveilans epidemiologi dengan dukungan tenaga profesional.
  3. Konsep surveilans epidemiologi sehingga terdapat kejelasan sumber dan cara-cara memperoleh data, cara mengolah data, cara-cara melakukan analisis, sarana penyebaran atau pemanfaatan data dan informasi epidemiologi serta mekanisme kerja surveilans epidemiologi.
  4. Dukungan advokasi peraturan perundang-undangan, sarana dan anggaran.
  5. Pelaksanaan mekanisme kerja surveilans epidemiologi
  6. Jejaring surveilans epidemiologi yang dapat membangun kerjasama dan pertukaran data dan informasi epidemiologi, analisis, dan peningkatan kemampuan surveilans epidemiologi.
  7. Indikator kinerja : Penyelenggaraan surveilans epidemiologi dilakukan melalui jejaring surveilans epidemiologi antara unit-unit surveilans dengan sumber data, antara unit-unit surveilans dengan pusat-pusat penelitian dan kajian, program intervensi kesehatan dan unit-unit surveilans lainnya.

6.      Langkah-langkah kegiatan surveilans

Kegiatan surveilans meliputi :

a.      Pengumpulan data

Pengumpulan data merupakan awal dari rangkaian kegiatan untuk memproses data selanjutnya. Data yang dikumpulkan memuat informasi epidemiologis yang dilaksanakan secara teratur dan terus menerus dan dikumpulkan tepat waktu. Pengumpulan data dapat bersifat pasif yang bersumber dari rumah sakit, puskesmas dan lain-lain, maupun aktif yang diperoleh dari kegiatan survey. Untuk mengumpulkan data diperlukan sistem pencatatan dan pelaporan yang baik. Secara umum pencatatan di puskesmas adalah hasil kegiatan kunjungan pasien dan kegiatan luar gedung (Budioro, 2007).

Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi terhadap orang-orang yang dianggap penderita campak atau population at risk melalui kunjungan rumah (active surveillance) atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan sarana pelayanan kesehatan yaitu dari laporan rutin poli umum setiap hari, laporan bulanan puskesmas desa dan puskesmas pembantu, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan harian dari laboratorium dan laporan dari masyarakat serta petugas kesehatan lain (pasive surveillance). Atau dengan kata lain,  data dikumpulkan dari unit kesehatan sendiri dan dari unit kesehatan yang paling rendah, misalnya laporan dari pustu, posyandu, barkesra, poskesdes. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik wawancara dan atau pemeriksaan (Arias, 2010).

Sumber data surveilans epidemiologi meliputi : (1).Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (2).Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta laporan dari kantor pemerintah dan masyarakat. (3).Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan masyarakat. (4).Data geografi yang dapat diperoleh dari Unit Meteorologi dan Geofisika. (5).Data laboratorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (6).Data Kondisi lingkungan. (7).Laporan wabah. (8).Laporan Penyelidikan wabah/KLB. (9).Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan. (10).Studi epidemiologi dan hasil penelitian lainnya. (11).Data hewan dan vektor sumber penularan penyakit yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat. (11).Laporan kondisi pangan. (12).Data dan informasi penting lainnya (Budioro, 2007).

b.      Pengolahan dan penyajian data

Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik (histogram, poligon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan komputer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data diantaranya dengan menggunakan program (software) seperti epid info, SPSS, lotus, excel dan lain-lain (Budioro, 2007).

c.       Analisis data

Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena akan dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit. Kegiatan ini menghasilkan ukuran-ukuran epidemiologi seperti rate, proporsi, rasio dan lain-lain untuk mengetahui situasi, estimasi dan prediksi penyakit (Noor, 2000).

Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data bulanan atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan atau penurunan dan mencari hubungan penyebab penyakit campak dengan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian campak (Arias, 2010).

d.      Penyebarluasan informasi

Penyebarluasan informasi dapat dilakukan ke tingkat atas maupun ke bawah. Dalam rangka kerja sama lintas sektoral instansi-instansi lain yang terkait dan masyarakat juga menjadi sasaran kegiatan ini. Untuk diperlukan informasi yang informatif agar mudah dipahami terutama bagi instansi diluar bidang kesehatan (Budioro, 2007).

Data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan surveilans epidemiologi penyakit campak disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat melakukan tindakan penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program kesehatan, pusat-pusat penelitian dan pusat-pusat kajian serta pertukaran data dalam jejaring surveilans epidemiologi agar diketahui terjadinya peningkatan atau penurunan kasus penyakit (Arias, 2010).

Penyebarluasan informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Cara penyebarluasan informasi yang dilakukan yaitu membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan kepada atasan,  membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu tulisan di majalah rutin, memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses dengan mudah (Depkes RI, 2003).

e.       Umpan balik

Kegiatan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat menerima laporan setelah diolah dan dianalisa melakukan umpan balik kepada unit kesehatan yang melakukan laporan dengan tujuan agar yang mengirim laporan mengetahui bahwa laporannya telah diterima dan sekaligus mengoreksi dan memberi petunjuk tentang laporan yang diterima. Kemudian mengadakan umpan balik laporan berikutnya akan tepat waktu dan benar pengisiannya. Cara pemberian umpan balik dapat melalui surat umpan balik, penjelasan pada saat pertemuan serta pada saat melakukan pembinaan/suvervisi (Arias, 2010).

f.       Investigasi penyakit berpotensi KLB

Setelah pengambilan keputusan perlunya mengambil tindakan maka terlebih dahulu dilakukan investigasi/penyelidikan epidemiologi penyakit campak. Dengan investigator membawa ceklis/format pengisian tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam hal ini adalah penyakit dan bahan untuk pengambilan sampel di laboratorium. Setelah melakukan investigasi penyelidikan kemudian disimpulkan bahwa benar-benar telah terjadi KLB yang perlu mengambil tindakan atau sebaliknya (Arias, 2010).

g.      Tindakan penanggulangan

Berdasarkan hasil investigasi/penyelidikan epidemiologi tersebut maka segera dilakukan tindakan penanggulangan dalam bentuk yaitu: (1) Pengobatan segera pada penderita yang sakit, (2) Melakukan rujukan penderita yang tergolong berat, (3) Melakukan penyuluhan mengenai penyakit kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran agar tidak tertular penyakit atau menghindari penyakit tersebut, (4) Melakukan gerakan kebersihan lingkungan untuk memutuskan rantai penularan (Arias, 2010).

h.      Evaluasi

Setiap program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk mengevaluasi manfaatnya . sistem dapat berguna apabila secara memuaskan memenuhi paling tidak salah satu dari pernyataan berikut : apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan yang mengidentifikasi perubahan dalam kejadian kasus penyakit, apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemik kejadian penyakit di wilayah tersebut, apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di wilayah tersebut, apakah program surveilans  dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit dan apakah program surveilans tersebut dapat menilai efek tindakan pengendalian (Arias, 2010).

3

Bahaya Rokok dan Kehamilan

Banyak orang yang tidak peduli bahkan tidak tahu tentang bahaya merokok. mungkin mereka tahu, tapi pura-pura tidak tahu. contohnya beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan salah satu teman yang merupakan seorang perokok berat. dia bahkan menjalin hubungan dengan teman saya yang juga mahasiswa kesehatan masyarakat yang tahu tentang seluk beluk bahaya merokok. sudah sering ia diberitahu sama pacranya untuk berhenti merokok tapi ia tetap saja menjalankan aktfitas yang merugikan itu. dalam hal ini, sang pacar juga salah kerena dia tidak mampu berbagi ilmunya, memberikan sugesti pada sang pacar agar ia berhenti merokok, padahal itu adalah bidangnya.

saya sedikit terusik dengan kalimat yang dia lotarkan, “saya tidak suka jika orang lain melarang saya untuk berhenti pada sesuatau itu (rokok), dimana sesuatu itu saya anggap/yakini BENAR. Saya merokok itu untuk diri saya sendiri bukan untuk orang lain.” sungguh pernyataan yang SALAH. menganggap merokok adalah tindakan yang benar? Merokok itu benar sekalipun hanya untuk konsumsi pribadi?????? oh.. saya hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan tersebut. sebuah konsep pemikiran yang SALAH BESAR.

setelah ia berkata begitu, kemudian kita beradu argumen satu sama lain, dan dia tetap menempatkan dirinya pada posisi yang benar. iya, dia sendiri yang meletakkan dirinya pada posisi itu, bukan orang lain. *senyum kecut*

melihat hai itu, saya merasa sangat miris sekaligus kasihan sama mereka, para perokok. yang mereka tahu adalah merokok untuk diri sendiri, bukan untuk anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. yang mereka tahu tokok itu untuk kepuasan pribadi, bukan untuk kepuasan anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. itulah mengapa saya menyebut mereka para perokok sebagai orang teregois yang pernah hidup dimuka bumi ini. mereka hanya mementingkan kepuasan pribadi dengan mengesampingkan kepentingan orang lain yang ada disekitarnya.

saya selalu bertanya pada diri saya sendiri, apakah mereka tahu tentang bahaya merokok, atau pura-pura tidak tahu, atau memang benar tidak tahu?

asap rokok itu bahkan lebih berbahaya dari pada puntung rokoknya sendiri, linting rokoknya sendiri. mereka mungkin tidak tahu kalau yang banyak menghirup asap rokok itu orang lain yang ada disekitarnya bukan dirinya sendiri. sungguh miris.

~berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang Rokok:

Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 4000 bahan kimiawi. Unsur-unsur penting lain tar, nikotin, karbon monooksida, benzopyrin, anomia, arzenikum. Diantara sekian banyak zat berbahaya ini, ada 3 yang paling penting, yakni tar, nikotin, dan karbon monooksida karena dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti BBLR, kanker, penyakit jantung koroner, stroke, impotensi, gangguan kehamilan dan janin (Abu Umar, 2005 dalam Susianti, 2007).

Merokok adalah perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Asap rokok berdampak pada pertumbuhan janin melalui beberapa mekanisme, beberapa bahan asap rokok misalnya nikotin, CO, dan polyclyclic aromatic hydrocarbons, diketahui dapat menembus plasenta (Ebrahim et. Al, 2004).

1.      Kandungan Rokok

Menurut WHO dalam Fatimah (2006), kandungan zat yang terdapat dalam rokok yang dapat mempengaruhi kesehatan, khususnya kesehatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

  • Kandungan racun pada rokok

pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang ada dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen lainnya yang terkondensasi. Dengan demikian, komponen asap rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari begian gas (85%) dan bagian partikel.

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Kandungan racun rokok itu antara lain sebagai berikut:

1)      Tar

Tar adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan substansi hidrokarbon yang bersikap lengket dan menempel pada paru-paru. Kadar tar pada rokok antara 0,5-35 mg per batang. Tar merupakan suatu zat karsinogen yang tdapat menimbulkan kanker pada jalan nafas dan paru-paru.

Tar terbentuk selama pemanasan tembakau. Tar merupakan kumpulan berbegai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambah dalam proses pertanian dan industri sigaret. Tar juga merupakan hidrokarbon aromatik polissiklik yang ada dalam asap rokok, tergolong dalam zat karsinogen yaitu zat yang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Pemaparan menahun hidrokarbon aromatik (benzena) dapat menghasilkan efek toksik yang sangat serius yang paling nyata yaitu kerusakan pada sumsum tulang yang berbahaya dan tidak terduga, anemia aplastik, leukopenia, pansitopenia atau trombositopenia. Pada perkembangan sumsum tulang belakang tapak menjadi paling sensitif terhadap benzena. Gejala permulaan keracunan benzena kronis yaitu sakit kepala, kelemahan, dan kehilangan nafsu makan.

2)      Nikotin

Nikotin adalah alkoid toksis yang terdapat dalam tembakau. Sebatang rokok berisi 1-3 mg nikotin. Nikotin diserap melalui paru-paru den kecepatan absorpsinya hampir sama dengan masuknya nikotin secara intravena. Nikotin masuk kedalam otak dengan cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Depat melewati barier di otak dan diedarkan keseluruh bagian otak, kemudian menurun secara cepat, setelah beredar keseluruh bagian tubuh dalam waktu 15-20 menit pada waktu penghisapan terakhir.

Efek bifasik dari nikotin pada dosis rendah menyebabkan rangsangan ganglionik yang eksitasi,tetapi pada dosis tinggi yang menyebabkan blokade gangbionik setelah eksitasi sepintas. Efek yang diakibatkan oleh nikotin berhubungan langsung dengan jumlah nikotin yang diisap, dengan gejala: BBLR, keguhuran, lahir tdak cukup bulan, lahir mati dan kematian neonatal, selain peningkatan insidensi perdarahan selama kehamilan, absopsi plasenta, plasenta previa, dan ruptur membran prematur atau tertunda.

Laporan pusat penelitian menunjukkan bahwa pertama, nikotin adalah sebuah vasokonstriktor, jadi menyempitkan pembulih darah plasenta. Kedua, merokok meningkatkan viskositas darah sehingga darah agak kental sehingga lebih menghambat aliran darah.

3)      Karbon Monooksida

Karbon monooksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna. Kandungannya di dalam asap rokok 2-6%. Karbon monooksida pada paru-paru mempunyai daya pengikat (anfinitas) dengan hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari pada daya ikat oksigen (O2) dengan Hb.

Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbon monooksida (CO) dalam bentuk COHb (Carboly Haemoglobin), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan oksigen yang pada akhirnya sel tubuh akan kekurangan oksigen. Pengurangan oksigen jangka panjang dapat mengakibatkan pembuluh darah terganggu karena menyempit dan mengeras. Bila menyerang pembuluh darah jantung, maka akan terjadi serangan jantung.

4)      Radikal Bebas (NOx, SO2)

Radikal bebas merupakan suatu atom, molekul, senyawa yang dapat berdiri sendiri mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan diorbit terluarnya. NOx merupakan oksidator yang cukup kuat yang dapat menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga fungsinya terganggu.

Bahaya radikal bebas terhadap eritrosit adalah dengan merusak struktur membran eritrosit sehingga plastitasis membran terganggu dan mudah pecah. Keadaan ini dapatmenyebabkan menurunkan jumlah eritrosit yang dapat menyebabkan anemia.

~Merokok dan kehamilan 

Merokok merupakan perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Akibat karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin dalam darah yang mengakibatkan mengurangi kerja haemoglobin yang seharusnya mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Merokok juga menghambat penyerapan vitamin B dan C serta asam folat (B9) yang berperan dalam pembentukan darah (Curtis, 2008).

pada ibu hamil, pengaruh nikotin yang terkandung dalam rokok menimbulkan kontraksi pada pembuluh darah, akibatnya aliran darah ke tali pusar janin akan berkurang sehingga mengurangi kemampuna distribusi zay yang yang diperlukan oleh janin. Selain itu, karbon monooksida dari asap rokok akan mengikat Hb dalam darah yang menyebabkan distribusi zat makanan dan oksigen yang disuplai ke janin terganggu, senhinggan terjadinya anemia dan melahirkan bayi prematur (Amiruddin, 2006).

***

sangat disayangkan jika ada orang yang masih merokok. bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang-orang yang mereka sayangi, keluarga, lingkungan, dsbg. bukah sedah banyak kampanye/ penyuluhan anti rokok, tapi kenapa mata hati dan pikiran mereka belum terbuka & sadar? sedih.. 😦

Manusia berhak mendapatkan kesehatan yang optimal, dan berhak mendapatkan udara bersih dan sehat tanpa racun asap rokok yang melayang-layang di udara 😦

“Jika anda tidak ingin mati, maka matikanlah rokok anda.”

(Menteri Kesehatan RI dalam kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2013)

0

Hubungan Personal Hygiene dengan Kanker Leher Rahim

Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan psikis.

Personal hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan daerah kewanitaan meliputi kebiasaan memakai sembarang sabun dan membasuh vagina, pemilihan pakaian dalam yakni memakai pakaian dalam yang ketat dan berbahan sintetis, sering menggunakan WC umum, serta kebiasaan membilas vagina dari arah yang salah yaitu dari arah anus ke arah depan vagina (Wikipedia, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa personal hygiene dapat mempengaruhi terjadinya perubahan keasaman didaerah vagina.  Ketidakseimbangan PH vagina dipicu oleh dua hal yaitu faktor ekstern dan faktor intern.  Faktor intern antara lain dipicu oleh pil kontrasepsi yang mengandung estrogen, trauma akibat pembedahan, terlalu lama menggunakan antibiotik, kortikosteroid dan imunosupresan pada penderita asma dan kanker.  Sedangkan faktor ekstern antara lain kurangnya personal hygiene yang ditandai dengan sering menggunakan pakaian dalam yang ketat, menggunakan WC umum yang tercemar bakteri Chlamydia (Prasetyowati, dkk, 2009).

Masalah tentang kanker leher rahim sangat menjadi perhatian bersama terutama bagi kaum wanita karena sangat penting dan dampaknya luas mencakup berbagai kehidupan dan menjadi parameter terhadap khalayak ramai masyarakat terutama wanita. Di Indonesia banyak wanita yang mengalami kanker leher rahim karena hawa di tanah air lembab sehingga mudah terinfeksi jamur candida yang menyebabkan kanker leher rahim (Nurhayati,dkk. 2010).

Bau busuk dan penggetahan vagina kadang-kadang disebabkan oleh keringat, tampon yang tertinggal, darah lama infeksi, infeksi lipatan kulit, semen dan smegma lama dan gangguan lain yang sejenis. karena keinginan besar (normal) untuk menghindari timbulnya bau busuk dan penggetahan, banyak wanita menggunakan bedak khusus, deodorant, obat pembersih, dan produk lain yang diperdagangkan. Produk-produk ini tidak hanya menyebabkan wanita membuang uang percuma tetapi juga membahayakan. Antiseptik dan deodorant yang digunakan disekitar vulva menyebabkan luka-luka dan iritasi, alergi dan ruam. ironisnya antiseptik dan deodorant tersebut malah dapat menyebabkan kanker leher rahim (Sukartia,2012).

Motivasi dapat mempengaruhi seseorang melakukan perawatan daerah kewanitaan. Motivasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri dan luar diri seseorang. Motivasi akan meningkat apabila faktor-faktor yang mempengaruhi bernilai baik. Dalam hal ini jika personal Hygiene yang dilakukan dengan benar dapat mengurangi resiko terjadinya kanker leher rahim bagi kaum wanita. Pada prinsipnya tidak dibenarkan membersihkan rambut di daerah kewanitaan dengan cara mencabutnya, sebab apabila kita mencabut rambut kemaluan maka akan timbul lubang pada bekas cabutan tersebut dan hal ini dapat menjadi jalan masuk bagi kuman/bakteri dan jamur yang dapat mengakibatkan timbulnya iritasi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kanker leher rahim (Inong, 2008).

Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek Personal Hygiene Menurut L.Green bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh :

  • Faktor Pendahulu

faktor pendahulu adalah yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang.

  • Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin adalah faktor yang meningkatkan tingkat pendapatan dan ketersediaan sarana kebersihan.

  • Faktor penguat

faktor penguat adalah faktor yang dipengaruhi oleh teman sebaya, media massa, dan dari pembinaan tenaga kesehatan.

Dari analisa green dalam Sukartia 2012, bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • Pengetahuan

Pengetahuan seseorang tentang hubungan personal hygiene dengan kanker leher rahim merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

  • Sikap

Sikap terhadap kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap materi tentang kanker leher rahim. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya reaksi terhadap stibulus tertentu, yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. sikap terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap pengetahuan tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu penghayatan terhadap pengetahuan tersebut.

  • Tindakan

Suatu sikap yang baik terhadap kejadian kanker leher rahim belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan diperluka faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon dari sikap tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu respon terhadap sikap tersebut (Sukartia, 2012).

Kebersihan organ reproduksi bagian luar merupakan bagian dari kebersihan diri.  Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari cara membersihkan organ genitalia sesudah BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) yang benar yaitu dari arah depan ke belakang.  Hal ini dilakukan untuk mencegah berpindahnya kuman dari anus ke vagina.  Selain itu, area vagina harus selalu dalam keadaan kering, karena kelembaban dapat menyebabkan kuman, bakteri, dan jamur tumbuh subur sehingga sering kali berlanjut menyebabkan kanker leher rahim (Soekodo dalam Hidayati, dkk 2010).

Dalam faktor personal hygiene yaitu kebiasaan penggunaan WC umum banyak mengakibatkan berbagai penyakit yaitu salah satunya adalah kejadian kanker leher rahim. Kebiasaan menggunakan WC umum cukup beresiko dikarenakan virus HPV (Human Papilloma Virus) yang akan menyebabkan iritasi dan kemudian meningkat dengan sendirinya jika tidak ada penanggulangan sedini mungkin dalam kasus ini. Sesuai pendapat Bustan (2007), bahwa kejadian kanker leher rahim salah satunya dipengaruhi oleh personal hygiene organ genital kurang. Semakin baik kondisi personal hygiene organ genital seseorang maka resiko kejadian kanker leher rahim lebih rendah dibandingkan dengan responden dengan personal hygiene organ genital buruk.