Faktor Risiko Hipertensi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita hipertensi. berikut adalah beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi:

1. Kebiasaan Merokok

Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. (Armilawaty, 2007)

Penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Women’s Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek  yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari. (Bowman, 2007)

2. Kebiasaan Makan 

Kebiasaan makan adalah cara seseorang atau kelompok orang memilih dan memakanya sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologi, psikologi, budaya dan sosial. Kebiasaan makan dinamakan pula, kebiasaan pangan. (Harper, 1996)

Pola konsumsi dan kebiasaan makan di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah lingkungan alami, bahan makanan yang tersedia, pertumbuhan ekonomi, adanya pantangan/tabu dan pendidikan. Namun pada dasarnya dua faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan makan manusia, yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia dan faktor instrinsik yang berasal dari dalam diri manusia.

Kebiasaan menu makanan yang hanya terdiri dari sumber karbohidrat seperti nasi, umbi-umbian atau kacang-kacangan dan sayuran tergolong kebiasaan menu rendah. Kebiasaan menu ini terdapat lebih banyak bahan makanan yang mengandung zat penghambat absorbsi besi, seperti fitrat, serat, tanin dan fosfat dalam menu makanan. Biasanya menu seperti ini dikonsumsi oleh keluarga yang berpenghasilan rendah yang tidak mampu mengusahakan makanan hewani.

Peningkatan kemakmuran biasanya juga akan diikuti oleh perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan. Kebiasaan makan di kota telah bergeser dari kebiasaan makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran, kebiasaan makan berat seperti instan food (makanan siap saji) yang komposisinya banyak mengandung protein, lemak, gula, dan garam yang tinggi tetapi miskin akan serat, sehingga mempunyai mutu gizi yang tidak seimbang. Sejalan dengan bertambahnya kesibukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari, berimbas pada jenis penyediaan makanan, yang dikenal dengan sebutan fast food (makanan cepat saji).

Terdapat banyak jenis makanan siap saji di pasaran antara lain KFC, McDonalds, Hamburger, Pizza, Spageti, Hot dog dan masih banyak lagi yang lain. Sesuai dengan namanya fast food, jenis makanan ini memiliki beberapa kelebihan antara lain penyajian cepat sehingga tidak menghabiskan waktu dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, higienis, dianggap sebagai makanan bergengsi, makanan modern dan makanan gaul. Sayangnya dibalik itu terdapat kekurangan yakni komposisi bahan makanannya kurang memenuhi standar makanan sehat berimbang, antara lain kandungan lemak jenuh berlebihan karena unsur hewani lebih banyak dibanding nabati, kurang sehat, kurang vitamin, terlalu banyak sodium. Penyajian fast food biasanya dilengkapi dengan minuman ringan (soft drink). Minuman jenis tersebut dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam urat dan menyebabkan hipertensi, karies gigi, karena kandungan gula yang berlebih.

Selain fast food, saat ini banyak jenis makanan yang dikemas dalam bentuk makanan ringan atau snack terbuat dari umbi-umbian, kentang, jagung dengan bumbu masak berupa kripik/chips, anak-anak sangat menyukai jenis ini sehingga terkadang menyebabkan anak tidak mau makan makanan utama (nasi) yang disiapkan di rumah. Chips/kripik termasuk jenis makanan berkalori tinggi, tetapi kurang kandungan vitamin dan protein sehingga disebut junk food (makanan sampah). (Irianto, 2007)

3. Konsumsi Alkohol

Alkohol merupakan salah satu faktor risiko yang memicu timbulnya hipertensi bahkan memicu timbulnya thrombosis. Orang yang sudah kecanduan alkohol akan lebih sering mengalami gangguan metabolisme karena berkurangnya cairan di dalam tubuh.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 86/Men.Kes/Per/IV/77, yang dimaksud dengan minuman keras adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat, yang meliputi :

1)      Minuman Keras Golongan A

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 1% sampai dengan 5%.

2)      Minuman Keras Golongan B

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 5% sampai dengan 20%.

3)      Minuman Keras Golongan C

Minuman ini merupakan minuman beralkohol dengan kadar etanol sebesar 20% sampai dengan 55%. (Nurwijaya, 2009)

Alkohol dalam jumlah besar terbukti bisa meningkatkan tekanan darah. Kenaikan tekanan darah ini disebabkan alkohol dalam darah dapat merangsang pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) yang membuat pembuluh darah menyempit dan juga menyebabkan penumpukan natrium dalam darah. Jika kadar alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah sedikit atau sedang, justru akan dapat menurunkan risiko penggumpalan darah yang dapat mengakibatkan stroke. Alkohol dalam jumlah tidak berlebihan dapat memicu produksi High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol yang baik yang dapat melindungi arteri dari penyempitan atau plak. Dikatakan sedang, jika alkohol dikonsumsi tidak lebih dari satu gelas per hari, dikatakan berat jika alkohol dikonsumsi lebih dari satu gelas per hari. (Marliani, 2007)

Berbagai penelitian telah dilakukan misalnya oleh Hull (1996) yang menyatakan bahwa orang yang minum minuman beralkohol 1,4 liter/hari sangat tinggi risikonya menderita hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali. Peminum alkohol juga dapat meningkatkan risiko menderita penyakit stroke.

Penelitian yang dilakukan oleh Nuriyadin (2005), tentang studi faktor risiko kejadian hipertensi yang berobat di Puskesmas Wawonii Kabupaten Konawe menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol lebih dari satu gelas per hari, memberikan risiko sebesar 1,2 kali lebih besar menderita hipertensi dibandingkan responden yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol kurang dari satu gelas per hari.

4. Pola asupan garam dalam diet

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. (Shapo, 2003)

Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Cara menormalkannya yaitu cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. (Widayanto, 2010)

Mengurangi konsumsi natrium/sodium sangat dianjurkan. Sumber natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan monosodium glutamate  (MSG), dan  sodium karbonat. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masak-memasak masyarakat kita yang umumnya boros menggunakan garam. (Sianturi, 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s