Penyakit Campak

1.      Pengertian

Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus campak, 90 % anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak (Depkes RI, 2008).

2.      Cara dan Masa Penularan

  1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
  2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit (Depkes RI, 2008)

3.      Etiologi

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxopiridae dengan masa inkubasi rata-rata 10 hari. Virus campak berasal dari sekresi yang keluar dari hidung dan tenggorokan, saat penderita campak bersin, batuk atau bernafas. Penyakit campak hanya menyerang manusia sehingga secara bertahap dapat direduksi, eliminasi dan akhirnya dapat dieradikasi (Depkes, 2006).

Orang-orang yang rentan terkena campak adalah;

  1. Anak berumur lebih dari 1 tahun
  2. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi
  3. Remaja dan dewasa yang belum mendapatkan imunisasi kedua (Chaudhry dan Harvey, 2001).

4.      Patogenesis

Virus campak menginfeksi dengan invasi pada epitel traktus respiratorius mulai dari hidung sampai traktus respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa respiratorius segera disusul dengan viremia pertama dimana virus menyebar dalam leukosit pada sistem retikuloendotelial. Setelah terjadi nekrosis pada sel retikuloendotelial sejumlah virus terlepas kembali dan terjadilah viremia kedua.

Sel yang paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan yang terinfeksi termasuk timus. kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah terjadi viremia kedua seluruh mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga menyebabkan timbulnya gejala batuk dan korisa. Campak dapat secara langsung menyebabkan croup, bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan respiratorius seperti edema dan hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia. Setelah beberapa hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak koplik dan kemudian timbul ruam pada kulit. Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan penyakit menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat reaksi hipersensitivitas host pada virus campak (Tommy, 2000).

5.      Manifestasi Klinis

Setelah masa tunas selama 10-11 hari penyakit diawali dengan demam dan malaise. Dalam waktu 24 jam terjadi korisa, konjungtivitis dan batuk. Keluhan tersebut semakin menghebat hingga mencapai puncaknya pada hari ke empat dengan munculnya erupsi kulit. Kira-kira dua hari sebelum timbul ruam tampak bercak koplik pada selaput mukosa pipi yang berhadapan dengan molar. Dalam tiga hari lesi semakin bertambah dan mengenai seluruh mukosa. Demam menurun dan bercak koplik menghilang pada akhir hari kedua setelah tirnbul ruam. Ruam berupa eupsi makulopapular yang kemerahan menjalar dari kepala (muka, dahi, garis batas rambut, telinga dan leher bagian atas) menuju ke ekstrimitas dalam 3 sampai 4 hari. Dalam 3 sampai 4 hari berikutnya ruam rnemudar sesuai urutan terjadinya. Komplikasi yang terjadi pada penderita campak dapat disebabkan oleh perluasan infeksi virus, infeksi sekunder oleh bakteri atau keduanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia obstruktif aringitis dan laryng trakeo bronchitis (Tommy, 2000).

6.      Lima Pencegahan (Five Level Prevention) Penyakit Campak

        a.      Health Promotion

Promosi kesehatan (health promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahap ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat (Noor, 2000).

Promosi kesehatan dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dalam berbagai upaya seperti :

1)        Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agent-agent penyakit khususnya penyakit infeksi seperti virus campak serta memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak.

2)        Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti tata cara dalam melakukan hygiene perorangan maupun hygiene masyarakat.

3)        Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar anggota rumah tangga dan lain-lain.

4)        Peningkatan kesegaran jasmani seperti; membiasakan diri melakukan olahraga secara teratur (Noor, 2000).

          b.      Spesifik Protection

Pencegahan khusus merupakan serangkaian dari health promotion. Pencegahan khusus ini terutama ditujukan kepada penjamu dan atau penyebab, untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit tertentu ( Noor, 2000).

Pencegahan khusus (spesifik protection) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Dapat melakukan modifikasi lingkungan seperti; perbaikan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dalam hal ini sarana air bersih, jamban keluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan tempat pembuangan sampah.

2)      Perbaikan status gizi perorangan maupun masyarakat, seperti ; makan dengan teratur (3 kali sehari), mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga terbentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit pada saat masuk kedalam tubuh.

3)      Pemberian imunisasi campak ini juga bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh anak balita melalui anti gen yang dimasukan kedalam tubuh berupa virus campak yang telah di lemahkan. Sehingga dengan masuknya anti gen tersebut kedalam tubuh di harapkan dapat memberikan atau meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap virus campak jika menyerangnya (Noor, 2000).

c.       Early Diagnosis and Prompt Treatment

Diagnosis dini dan pengobatan dini (early diagnosis and prompt treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat kedua ini yaitu sebagai berikut :

1)      Meluasnya penyakit/terjadinya wabah pada penyakit menular.

2)      Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.

Diagnosis dini dan terapi awal (early diagnosis and prompt treatment) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit campak dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti :

1)      Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui; pemeriksaan berkala disarana pelayanan kesehatan untuk memastikan bahwa seseorang benar tidak menderita penyakit campak dan gangguan kesehatan lainnya.

2)      Melakukan screening (pencarian penderita penyakit campak) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit campak.

3)      Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit campak sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya (Noor, 2000).

        d.      Disability Limitation

Pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab tertentu. Pembatasan kecacatan (disability limitation) dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan akibat penyakit campak dapat dilakukan dengan upaya seperti : mencegah proses penyakit lebih lanjut yaitu dengan melakukan pengobatan dan perawatan khusus secara berkesinambungan atau teratur sehingga proses pemulihanpun dapat berjalan dengan baik dan cepat. Pada dasarnya penyakit campak tidak memberikan atau membuat penderita menjadi cacat pada bagian tubuh tertentu. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi jika penderita mengalami penyakit campak dan disertai dengan infeksi oleh agent lainnya (Noor, 2000).

      e.       Rehabilitation

Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan serangkaian dari tahap pemberantasan kecacatan (disability limitation). Rehabilitasi ini bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.

Rehabilitasi (rehabilitation) yang dapat dilakukan dalam menangani penyakit campak yaitu sebagai berikut :

1)      Rehabilitasi fisik jika terdapat gangguan fisik akibat penyakit campak.

2)      Rehabilitasi mental/psycho rehabilitation dari penderita campak, sehingga penderita tidak merasa minder dengan orang atau masyarakat yang ada disekitarnya karena pernah menderita penyakit campak.

3)      Rehabilitasi sosial bagi penderita campak sehingga tetap dapat melakukan kegiatan di lingkungan sekitar bersama teman atau masyarakat lainnya yang berdaya guna (Noor, 2000).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s