Diare pada Anak

1.      Definisi Penyakit Diare

Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) (Nasili., Dkk, 2011). Sedangkan, menurut Wulandari (2009), diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia. Semua kelompok usia diserang oleh diare, baik balita, anak-anak dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita (Zubir, 2006).

2.      Etiologi Penyakit Diare

            Wulandari (2009), diare disebabkan oleh faktor infeksi malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis.

  • Faktor Infeksi

Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:

1)      Infeksi oleh bakteri : Escherichia coli, Salmonella thyposa, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas.

2)       Infeksi basil (disentri)

3)      Infeksi virus rotavirus

4)       Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris Lumbricoides)

5)       Infeksi jamur (Candida Albicans)

6)       Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang

7)      Tenggorokan

8)       Keracunan makanan.

  • Faktor Malabsorpsi

Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.

  • Faktor Makanan

Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran) dan kurang matang. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak-anak balita.

  • Faktor Psikologis

Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. Tetapi jarang terjadi pada anak balita, umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.

3.      Jenis Diare

Menurut Umiyati (2009), berdasarkan jenisnya diare dibagi empat yaitu :

  • Diare Akut

Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

  • Disentri

Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa.

  • Diare Persisten

Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.

  • Diare dengan Masalah Lain

Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

4.      Gejala Diare

Menurut Wulandari,P.A., (2005), gejala-gejala diare adalah sebagai berikut :

  1. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya pun meninggi
  2. Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah
  3. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu
  4. Lecet pada anus
  5. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang
  6. Muntah sebelum dan sesudah diare
  7. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah)
  8. Dehidrasi (kekurangan cairan).

Dehidarsi dibagi menjadi tiga macam, yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang dan dehidarsi berat. Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang hilang 5%. Jika cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang, denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah, tekanan darah merendah, penderita lemah, kesadaran menurun dan penderita sangat pucat.

5.      Epidemiologi Penyakit Diare

Menurut Umiyati (2009), epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut :

  • Penyebaran kuman yang menyebabkan diare

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

  • Faktor penjamu yang menyebabkan kerentanan terhadap diare

Faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan insiden, beberapa penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

  • Faktor lingkungan dan perilaku

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.

6.      Pencegahan Terjadinya Penyakit Diare

Pencegahan penyakit diare pada balita perlu memperlihatkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Berikan Air Susu Ibu (ASI) menimal sampai bayi berusia 6 bulan.
  2. Berikan makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI) dengan benar setelah bayi berusia minimal 6 bulan.
  3. Gunakan air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan.
  4. Semua anggota keluarga buang air besar di jamban yang memenuhi syarat kesehatan.
  5. Buanglah tinja bayi dan anak di jamban.
  6. Biasakan cuci tangan dengan memakai sabun.
  7. Lakukan imunisasi campak pada bayi.

7.      Penanggulangan Diare

  1. Penanggulangan diare dengan dehidrasi dapat dilakukan dengan mengembangkan keseimbangan cairan dalam tubuh dengan mengkonsumsi cairan osmotic yaitu oralit atau dengan banyak minum air yang mengandung larutan gula dan garam.
  2. Memberikan makanan selama serangan diare adalah untuk memperbaiki kebutuhan gizi pada penderita terutama anak agar tetap kuat dan tumbuh serta berat badan tidak berkurang. Setelah diare berhenti, pemberian ekstra makanan di teruskan selama dua minggu untuk membantu pemulihan berat badan anak.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan :

1)      Kebiasaan setempat didalam menaggulangi / mengobati diare

2)      Tersedianya cairan sari makanan yang cocok

3)      Jangkauan pelayanan kesehatan

4)      Tersedianya oralit

  • Penaggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)

1)      Pengamatan intensif dan pelaksanaan sistem kewaspadaan dini

2)      Penemuan kasus secara aktif

3)      Pembentukan pusat rehidrasi dan tim gerak cepat

4)      Penyediaan logistic saat kejadian luar biasa

5)      Penyelidikan terjadinya kejadian luar biasa

6)      Pemutusan rantai penularan penyebab kejadian luar biasa (Umiyati, 2009)

8.      Pato Fisiologi Diare Akut

Menurut Wijayanti, W, (2010), sebagai akibat diare akut maupun kronis akan terjadi kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainya), gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikemia, dan gangguan sirkulasi darah. 

9.      Pato Genesis Penyakit Diare

Diare akut ialah diare pada bayi atau anak, yang sebelumnya tidak kelihatan sakit, kurang gizi atau menderita infeksi sistemik berat (meningitis, sepsis dan sebagainya ).

Patogenesis dari diare dibagi menurut kemungkinan kelainan tinja yang timbul pada diare :

  1. Tinja cair (seperti air dan bening)
  2. Tinja lembek cair (seperti bubur tepung)
  3. Tinja berdarah dan berlendir

Keadaan tinja tadi dapat timbul karena mekanisme diare baik berupa kelainan tunggal maupun campuran. Pada umumnya gejala klinik yang ditimbulkan oleh mikroba patogen dibagi menjadi:

1)      Sindroma. berak cair (Small Bowel Syndromes) yaitu berak cair yang profuse dan voluminus yang biasanya dihubungkan dengan kolera.

2)      Sindroma disentri (Disentry Syndromes) yaitu berupa kejang perut (mules), tenesmia, tinja bercampur lendir (pus) dan darah yang biasanya dihubungkan dengan shigellosis.

Menurut kelainan tinja yang didapat, pada dasarnya mekanisme patogenesis diare infektif dapat dibagi menjadi:

a)      Diare sekretorik karena toksin E.coli dan V.cholera.

Sekitar 25% diare pada anak disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri, pada umumnya dihasilkan oleh bakteri E coli dan V. chholera.

E.coli pada berbagai strain dapat mempunyai 2 sifat, yaitu: sebagai enterotoksin maupan sifat invasif. Setelah melalui tantangan karena ketahanan tubuh penderita, maka bakteri sampai di lumen usus kecil memperbanyak diri dan menghasilkan enterotoksin yang kemudian dapat mempengaruhi fungsi dari epitel mukosa usus.  Racun-racun ini merangsang mekanisme sel-sel epitel mukosa usus yang memproduksi adenil siklase (Cyclic AMP) dan kemudian akan berpengaruh mengurangi penyerapan ion natrium dari lumen usus tetapi meningkatkan pengeluaran ion khlorida dan air dari kripta mukosa dalam lumen usus.

b)      Patomekanisme invasif : Shigella, Salmonella, Campylobacter dan Virus Rota.

Bakteri invasif penyebab diare diperkirakan sebanyak 10-20% dari diare pada anak. Diare dengan kerusakan mukosa dan sel-sel mukosa sering pada usus halus dan usus besar, pada umumnya disebabkan oleh Shigella, Enteroinvasif E. coli dan Campilobacter jejuni. Invasi bakteri diikuti oleh pembengkakan dan kerusakan sel yang menyebabkan diketemukannya darah dan lendir atau sel-sel darah putih dan darah merah dalam tinja (bloody stool dysentry). Spasmus dari otot-otot polos pada usus dirasakan oleh penderita sebagai kejang atau sakit perut.

Virus yang juga berperan dalam diare, memberikan perubahan morfologi dan fungsional pada mukosa jejunum. Pada permulaan terjadi kerusakan brush border, aktivitas enzim laktase menurun kemudian timbul peradangan, pemendekan vili intestinales dan kripte dan peningkatan mitosis.

c)      Diare karena perlakuan oleh substansi intraluminal.

Bila bakteri mengadakan proliferasi dalam lumen usus halus akan terjadi perlekatan di dinding mukosa dan akan menimbulkan suatu penyakit gangguan pencernaan. Gangguan ini timbul karena bahan makanan dan. atau sekresi usus.

Hasil metabolisme bakteri kadang-kadang dapat berupa bahan yang bisa melukai mukosa usus, diantaranya :

a)      Dekonjugasi asam empedu

b)      Hidroksi asam lemak

c)      Asam organik rantai pendek

d)      Substansi alkohol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s