(Contoh) PERENCANAAN PENCEGAHAN PENYAKIT POLIO

POLIO (POLIOMIELITIS)

 

  1. Latar Belakang
  1. Definisi

            Polio (Poliomielitis) merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus polio (RNA) dengan tipe terdiri dari 3, yakni :

Tipe I (Brunhilde),

Tipe II (Lansing) dan

Tipe III (Leon).

            Masa inkubasi biasanya antara 7-14 hari, tetapi kadang-kadang terdapat kasus dengan inkubasi antara 2-35 hari.

  1. Gejala Klinis

            Apabila seorang teerkena infeksi polio, kemungkinan akan timbul  salah satu keadaan ini :

1.   Infeksi asimtomatis

2.   Poliomielitis abortif

3.   Poliomielitis Nonparalatik

4.   Poliomielitis Paralatik

Sebagian besar (90%) infeksi virus polio menyebabkan inapparent infection, sedangkan 5% menampilkan gejala abortive infection, 1% nonparalytic, dan sisanya menunjukkan tanda klinik paralitik.  Bagi penderita dengan tanda klinik paralitik, 30% akan sembuh, 30% menunjukkan kelumpuhan ringan, 30% menunjukkan kelumpuhan berat, dan 10% menunjukkan gejala berat serta bisa menimbulkan kematian. Masa inkubasi biasanya 3-35 hari. Penderita sebelum ditemukannya vaksin terutama berusia di bawah 5 tahun. Setelah adanya perbaikan sanitasi serta penemuan vaksin, usia penderita bergeser pada kelompok anak usia di atas 5 tahun.

Berikut fase-fase infeksi virus tersebut:

  • Stadium akut

            Yaitu fase sejak adanya gejala klinis hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat. Kadang disertai sakit kepala dan muntah-muntah. Kelumpuhan terjadi akibat kerusakan sel-sel motor neuron di bagian tulang belakang (medula spinalis) lantaran invasi virus. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung menimbulkan gangguan bentuk tubuh (deformitas) yang menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Kelumpuhan yang terjadi sebagian besar pada tungkai kaki (78,6%), sedangkan 41,4% pada lengan. Kelumpuhan ini berlangsung bertahap sampai sekitar 2 bulan sejak awal sakit.

  • Stadium subakut

            Yaitu fase 2 minggu sampai 2 bulan. Ditandai dengan menghilangnya demam dalam waktu 24 jam. Kadang disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Terjadi kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi saja.

  • Stadium konvalescent

            Yaitu fase pada 2 bulan sampai dengan 2 tahun. Ditandai dengan pulihnya kekuatan otot yang sebelumnya lemah. Sekitar 50-70 persen fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut. Selanjutnya setelah 2 tahun diperkirakan tidak terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.

  • Stadium kronik

            Yaitu lebih dari 2 tahun. Kelumpuhan otot yang terjadi sudah bersifat permanen.

  1. Upaya Pencegahan

Ada beberapa langkah upaya pencegahan penyebaran penyakit polio ini, di antaranya adalah:

  • Eradikasi Polio

            Dalam World Health Assembly tahun 1988 yang diikuti oleh sebagian besar negara di seluruh penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000, artinya dunia bebas polio tahun 2000. Program ERAPO yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan cakupan imunisasi yang menyeluruh.

  • PIN (Pekan Imunisasi Nasional)

            Selanjutnya, pemerintah mengadakan PIN pada tahun 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang pada saat usia 1,5 tahun; 5 tahun; dan usia 15 tahun.

            Upaya imunisasi yang berulang ini tentu takkan menimbulkan dampak negatif. Bahkan merupakan satu-satunya program yang efisien dan efektif dalam pencegahan penyakit polio. Semua bayi harus diimunisasi lengkap sebelum umur 1 tahun.

TABEL IMUNISASI :

UMUR

VAKSIN

0 bln

Hepatitis B1

1 bln

BCG

2 bln

DPT /HB COMBO1, POLIO1

3 bln

DPT /HB COMBO2, POLIO2

4 bln

DPT /HB COMBO3, POLIO3

9 bln

Campak , polio 4

 

  • Survailance Acute Flaccid Paralysis

            Yaitu mencari penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan apakah karena polio atau bukan. Berbagai kasus yang diduga infeksi polio harus benar-benar diperiksa di laboratorium karena bisa saja kelumpuhan yang terjadi bukan karena polio.

  • Mopping Up

            Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak usia di bawah 5 tahun di daerah ditemukannya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.

            Tampaknya di era globalisasi dimana mobilitas penduduk antarnegara sangat tinggi dan cepat, muncul kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Penggunaan jamban keluarga, air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi risiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan ini.

            Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Namun, sebenarnya orang tua tak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap.

  1. II.            PLANNING
    1. a.      Analisis Situasi
    2. Distribusi penyakit polio berdasarkan variable epidemiologi:

 

Man(Orang)

  • Umur

Umur yang paling rentan terinveksi virus polio adalah kelompok umur kurang dari 5 tahun

  • Jenis kelamin

Laki-laki lebih banyak memnderita daripada wanita.

  • Fisiologis

Anak dengan kekebalan yang rendah masih berisiko terhadap polio, sekalipun tidak menderita kelumpuhan namun dapat terinveksi dan menjadi sumber penularan polio.

  • Pendidikan

Pendidikan masyarakat yang rendah mempengaruhi terhadap tingkat pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya imunisasi. Sehingga anak-anak yang terinveksi disinyalir akibat ketidakpahaman orang tua akan pentingnya imunisasi.

v              Place(Tempat)

            Di Indonesia sebelum PD II, penyakit polio merupakan penyakit yang sporadic endemic, epidemic pernah terjadi di pelbagai daerah seperti Biliton (1948) sampai ke Banda, Balikpapan. Bandung (1951), Surabaya (1952), semarang (1954), Medan (1957), dan endemic yang terakhir terjadi di tahun 1977 di bali selatan.

            Pada tahun 2005, polio kembali mewabah. Secara nasional tercatat kasus polio sudah mencapai 295 kasus di 41 kabupaten/kota di 10 provinsi yakni Banten, Jawa barat, Lampung, Jawa tengah, Sumatera Utara, Jawa timur, Sumatera selatan, DKI Jakarta, Riau dan Aceh.

            Dalam tahun yang sama yakni 2005, kasus polio terjadi di Sukabumi (Jawa barat) dan dinyatakan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa).

v              Time (Waktu)

  • Kejadian kasus polio terjadi dalam rentang waktu yang lama (tahun)
  • Di daerah bermusim dingin sering terjadi enndemi di bulan Mei-Oktober, tetapi kaksus sporadic tetap terjadi setiap saat.

2.   Frekuensi penyakit polio di Indonensia

a)      Berdasarkan data hasil surveilens

  • Tahun 2005 tercatat 303 kasus polio liar. Di Jawa kasus ditemukan di Kec. Cidahu, Kab. Sukabumi, kemudian menyebar cepat ke 4 provinsi lain yaitu Banten (147 kasus), Jawa Tengah (2 kasus), DKI Jakarta (3 kasus), Lampung (10 kasus), dan Jawa barat sendiri (57 kasus).
  • Tahun 2006 tercatat 2 kasus polio liar. Kaksus terkhir terjadi di Bondiwoso (Jawa Timur) tercatat 1 kasus. Dan Kab. Aceh tenggara tercatat 1 kasus.

b)      1 dari 200 orang yang terjangkiti polio mengalami kelumpuhan permanent. Diantara yang lumpuh ini, 5-10 % meninggal dunia ketika otot-otot pernafasannya dilumpuhkan virus polio.

c)      Insiden polio berkisar 4-8/100.000 penduduk.

d)     Paralytic rate pada golongan 0-14 tahun : 2-3/1.000 penduduk.

3.   Determinan (factor penyebab/risiko) terjadinya penyakit polio

a)      Agent

Disebabkan oleh virus polio(RNA) dengan serotype I (Brunhilde), II (Lansing), III (Leon).

b)     Host

  • Penderita yang tidak mempunyai daya tahan tubuh
  • Laki-laki lebih banyak menderita daripada wanita
  • Stress akibat kelelahan otot (olahraga yang berlebihan) dan kedinginan
    • Penderita yang sebelumnya menderita penyakit seperti peprtusis, campak dan enteritis.

c)      Environment

  • Sanitasi yang buruk
  • Padatnya jumlah penduduk
  • Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
  • Pengadaan air bersih yang kurang.

4.   Media penularan

a)      Inhalasi

b)      Makanan/minuman yang terkontaminasi

c)      Serangga (lipas, lalat, dsb).

5.   Cara/proses penularan

a)      Portal Of Entry

Virus polio masuk kedalam tubuh manusia  melalui mulut dan berkembang biak di tenggorokan dan usus selama 4-35 hari.

b)      Portal Of Exit

Virus akan dikeluarkan melalui tinja selama beberapa minggu kemudian.

6.Kader posyandu dan pelaksana imunisasi belum terlatih.

7.Pelaksanaan imunisasi di Posyandu terkadang tidak sesuai jadwal.

8.Kurangnya kesadaran  masyarakat untuk menimunisasikan anaknya.

 

b.   Identifikasi Masalah

1.   Berdasarkan distribusi

a)      Kelompok umur di bawah 5 tahun paling rentan terinveksi virus polio  karena daya tahan tubuh yang masih rendah.

b)      Daerah-daerah yang rentan terhadap penyebaran virus polio adalah daerah dengan jumlah penduduk yang padat seperti Jawa dan Sumatera, serta pada daerah kumuh yang sanitasi lingkungannya buruk.

c)      Di Negara bermusim dingin, sering terjadi epidemic di bulan Mei-Oktober, tetapi kasus sporadic tetap terjadi setiap saat. Kejadiannyapun sulit diprediksi, terbukti Indonesia kasus terakhir terjadi setelah 10 tahun lamanya setelah kasus pertama.

2.   Berdasarkan frekuensi

a)      Sampai tahun 2006 telah tercatat lebih dari 300 kasus di Indonesia.

b)      Insiden polio berkisar 4-8/100.000 penduduk.

Merupakan angka yang sangat kecil namun dapat menular dengan cepat jika tidak segera dilakukan imunisasi.

c)      Paralytic rate pada golongan 0-14 tahun : 2-3/1.000 penduduk.

Anak di bawah umur sangat rentan karena imunitas tubuh yang rendah atau belum diimunisasi polio.

3.   Berdasarkan determinan

a)      Host (pejamu)

  • Jenis kelamin, dimana laki-laki leebih rentan daripada wanita
  • Penderita yang tidak mempunyai mimunitas tubuh
  • Stress akibat kelelahan
  • Penderita dengan riwayat penyakit seperti pertusis, campak dan enteritis.

b)      Agent (penyebab)

Disebabkan oleh virus polio(RNA) dengan serotype I (Brunhilde), II (Lansing), III (Leon).

c)      Environment

  • Sanitasi yang buruk karena virus polio menyebar dari tinja orang yang terinveksi
  • Padatnya jumlah penduduk menyyebabkan penyebaran/penularan virus polio semakin cepat
  • Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
  • Pengadaan air bersih yang kurang karena dapat disinyalir bahwa air telah terkontaminasi oleh tinja penderita.

4.   Penularan virus polio terjadi melalui saluran pernafasan (inhalasi), makanan/minuman yang terkontaminasi dan serangga (lipas, lalat, dsb).

5.   Cara penularan yakni masuk ke dalam mulut penderita yang nantinya dikeluarkan  bersama tinja.

6.   Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi belum  terlatih, karena petugas dan kader malas atau belum sempat mengikuti pelatihan.

7.   Pelaksanaan imunisasi terkadang tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan karena sarana dan prasarana kurang memadai.

8.   Kurangnya kesadaran masyaraakat untuk mengimunisasikan anaknya, karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman akan ppentingnya imunisasi polio.

 

  1. c.       Prioritas Masalah

            Sehubungan dengan identifikasi masalah di atas, maka yang menjadi prioritas masalah adalah:

1.   Kerentanan kelompok umur di bawah 5 tahun karena daya tahan tubuh yang sangat rendah.

2.   Kerentanan daerah-daerah yang padat penduduknya dan bersanitasi buruk.

3.   Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi yang belum terlatih.

4.   Pelaksanaan imunisasi terkadang tidak sesuai dengan jadwal.

5.   Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya PHBS (Kedisiplinan imunisasi, sanitasi diri dan sanitasi lingkungan).

 

d.   Alternatif Pemecahan Masalah

1.   Meningkatkan daya tahan tubuh anak balita (di bawah 5 tahun) dengan pemberian imunisasi.

2.   Memperbaiki sanitasi lingkungan utamanya pada daerah-daerah yang padat penduduknya.

3.   Pelatihan kader posyandu dan pelakskana imunisasi.

4.   Menyepakati jadwal pelaksanaan imunisasi di posyandu bersama mamsyarakat.

5.   Peningkatan pemahaman dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya PHBS (Kedisiplinan imunisasi, sanitasi diri dan sanitasi lingkungan).

 

  1. e.       Menetapkan Tujuan

ü  Tujuan jangka penjang(2011-2015):

      Mewujudkan Indonesia sehat bebas polio.

ü  Tujuan jangka pendek (2011-2012):

1.   Meningkatkan cakupan/sasaran imunisasi.

2.   Meningkatkan kewaspadaan dini dan surveillens epidemiologi terhadap kemungkinan terjadinya KLB.

3.   Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader posyandu dan pelaksana imunisasi.

4.   Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya PHBS.

5.   Meningkatkan kedisiplinan terhadap jadwal pelaksanaan imunisasi kepada kader posyandu dan komitment masyarakat.

 

f.    Penyusunan Rencana Kerja

  1. Mengadakan imunisasi missal
  2. Mengadakan kampanye pencegahan polio dengan imunisasi
  3. Pelatihan kepada kader posyandu dan pelaksana imunisasi
  4. Penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya PHBS dan solusi pencegahan penyakit polio
  5. Pelatihan Surveillens Epedemiologi
  6. Mengadakan Surveillens Epidemiologi secara langsung di daerah yang terkena wabah
  7. Sweeping terhadap anak-anak balita yang belum diimunisasi

 

g.   Kelompok Sasaran

                  Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah:

1.   Anak balita

2.   Orang tua

3.   Kader Posyandu

 

 

 

  1. III.   ORGANIZING

a.   Organisasi dan Tenaga Pelaksana

      Kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak Dinas Kesehatan bekerjasama dengan

Organisasi-organisasi Kesehatan yang ada di masing-masing wilayah sasaran kegiatan.

b.   Waktu

            Waktu pelaksanaan kegiatan di tentukkan pada panitia-panitia pelaksana masing-masing wilayah.

c.   Tempat

            Pelaksanaan bertempat di Balai pertemuan masyarakat yang disepakati oleh panitia dan pemerintah setempat.

d.   Biaya

            Biaya yang digunakan pada kegiatan ini bersumber dari Pemerintah Pusat yang lansung dialokasikan untuk daerah-daerah yang rawan kasus Polio.

 

  1. IV.   ACTUATING (PELAKSANAAN)

♣            Kegiatan 1: Mengadakan Imunisasi Massal (Mopping Op)

1)      Salam pembukaan

2)      Sambutan-sambutan

3)      Pemberian informasi :

  • Pentingnya imunisasi
  • Penyakit polio dan pencegahannya

4)      Pelaksanaan imunisasi

5)      Penutup

♣            Kegiatan 2 : Kampanye “Pencegahan polio dengan imunisasi”

1)      Penyebaran sticker kepada masyarakat

2)      Pemasangan spanduk di tempat-tempat umum

♣            Kegiatan 3 : Pelatihan kepada Kader Posyandu dan Pelaksana Imunisasi

♣            Kegiatan 4 : Penyuluhan kepada Masyarakat akan Pentingnya PHBS dan Solusi Pencegahan Penyakit Polio.

♣            Kegiatan 5 : Pelatihan Surveillens Epedemiologi.

♣            Kegiatan 6 : Mengadakan Surveillens Epidemiologi secara Langsung di Daerah yang Terkena Wabah Polio

1)      Pengumpulan data

2)      Pengolahan data

3)      Analisis data (Identifikasi kasus/masalah)

4)      Interpretasi data

♣            Kegiatan 7 : Sweeping terhadap Anak Balita yang Belum Diimunisasi

1)      Mengunjungi rumah keluarga yang memiliki balita

2)      Memberi penjelasan yang cukup kepada keluarga tentang imunisasi

3)      Diskusi dan tanya jawab

4)      Memberikan imuunisasi secara langsung

 

  1. V.   CONTROLLING (PENGAWASAN)

1.   Mencatat frekuensi kunjungan pada saat imunisasi untuk menentukan efektifitas pelaksanaan kegiatan dan guna menjangkau keseluruhan cakupan/sasaran imunisasi apakah masih ada balita yang belum diimunisasi.

2.   Melihat dan mengawasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan yang nantinya menjadi cerminan untuk kegiatan kedepan.

3.   Mencatat keluhan-keluhan kader posyandu terhadap kegiatan pelatihan dan keluhan-keluhan masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan agar kedepannya dapat dilakukan perbaikan.

4.   Melihat dan mengawasi perkembangan pelaksanaan Surveillens Epidemiologi apakah berlangsung lancar atau terdapat kendala.

 

 

  1. VI.   EVALUATION (EVALUASI)

            Evaluasi kegiatan  dapat dilakukan  dengan melihat hasil atau data :

1)      Frekuensi atau jumlah bayi yang diimunisasi

2)      Pre-test dan post-test.

3)      Data Survei sebelum imunisasi dan setelah imunisasi.

Adapun criteria keberhasilan pelakksanaan kegiatan/program, yakni :

1)      Jumlah balita yang diimunisasi berkisar 90 %

2)      Peningkatan pengetahuan dan pemahaman kader posyandu dan pelaksana imunisasi menjadi 90 %

3)      Peningkatan Pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya PHBS menjadi 75 %

4)      Diperolehnya data yang akurat pada pelaksanaan Surveillens Epidemiologi yang dapat dijadikan bahan perencanaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s