Anemia pada Ibu Hamil

malam ini kepikiran tentang anemia, maklum skripsi saya membahas tentang anemia pada ibu hamil, jadi saya membagi bebrapa informasi mengenai anemia pada ibu hamil hasil karya skripsi saya :

1. Pengertian Anemia

Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 gr/dl sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney, 2006 dalam Surinati, 2011).

Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002 dalam Mappiwali, 2008). Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) kurang dari normal (Kusumah, 2009).

Adapun nilai ambang batas anemia dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

           Tabel 1. Nilai Ambang Batas Anemia

Golongan Anemia

Kadar Hb (gr/dl)

  1. Ringan
  2. Sedang
  3. Berat
10 – 11

8 – 10

< 8

Sumber: Depkes RI, 2000

2. Klasifikasi Anemia

Klasifikasi anemia menurut Mangihut Silalahi (2007), adalah sebagai berikut:

  1. Anemia Defisiensi

Anemia defisiensi yaitu anemia karena kekurangan bahan pematang sel darah merah, yang terdiri dari:

1)      Anemia Kekurangan Gizi

Anemia kekurangan gizi terjadi karena kekurangan bahan untuk mematangkan sel darah merah, seperti besi, asam folik, vitamin C, vitamin E, yang semuanya berasal dari luar protein czlory malnutrition sering dijumpai anemia kekurangan bahan-bahan pematang.

2)      Anemia Kekurangan Besi

Yaitu anemia yang terjadi karena kekurangan bahan-bahan pematang sitoplasma.

3)      Anemia Megaloblastik

Yaitu anemia yang disebabkan karena kekurangan asam folat atau vitamin B12 sebagai bahan penting untuk pematangan inti sel, sering terjadi pada anak dengan gizi kurang yang mendapat infeksi dengan diare.

  1. Anemia Hipoplastik

Yaitu anemia yang terjadi karena susunan tulang sebagai sumber utama pembuatan sel-sel darah (eritrosit, leukosit,dan trombosit) tidak mampu untuk membuat sel-sel darah tersebut. Kerusakan sumsum tulang ini dapat disebabkan oleh radiasi, obat-obatan, bahan kimia, dan lain sebagainya. Penyakit ini pada umumnya berakhir dengan kematian, hanya beberapa penyakit yang tertolong setelah berobat bertahun-tahun.

  1. Anemia Hemolitik

Anemia ini terjadi karena eritrosit  dihancurkan secara berlebihan dan disebabkan karena kelainan bawaan yang turun-temurun, misalnya penyakit tsalessemia dengan sel-sel eritrosit yang berbentuk sabit atau karena seperti malaria, tranfusi dengan darah yeng tidak cocok.

3. Anemia Defisiensi Besi

Menurut Evatt dalam Surinati (2011), anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin, berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur (WUS) sering mengalami anemia karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi sewaktu hamil.

Menurut Kusumah (2009), anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropeosis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum Iron = SI) dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain kurang atau tidak sama sekali.

Hemoglobin (Hb) yaitu komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen diperlukan oleh tubuh sebagai bahan bakar proses metabolisme. Zat besi merupakan bahan baku pembuat sel darah merah. Ibu hamil mempunyai tingkat metabolisme yang tinggi misalnya untuk membuat jaringan tubuh janin, membentuknya menjadi organ dan juga memproduksi energi agar ibu hamil bisa beraktifitas normal sehari-hari. Fungsi Hb merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleh kandungan Hb yang merupakan susunan protein yang kompleks yang terdiri dari protein, globulin, dan satu senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme tersusun dari suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin yang bagian pusatnya ditempati oleh logam besi (Fe). Jadi, Heme adalah senyawa-senyawa porfirin besi, sedangkan hemoglobin adalah senyawa kompleks antara globin dengan heme (Sin Sin, 2007 dalam Surinati, 2011).

4. Anemia Defisiensi Zat Besi Pada Ibu Hamil

Menurut World Health Organization (WHO), Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar Hb dalam darahnya kurang dari 11,0 gr%. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II (Depkes RI, 2009).

Menurut Suniarti (2011), anemia defisiensi zat besi adalah anemia dalam kehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan akibat kekurangan zat besi. Sedangkan menurut Mappiwali (2008), anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang sering terjadi bila tubuh kekurangan zat besi. Tubuh kita memerlukan zat besi untuk membentuk hemoglobin. Pada perempuan, kehilangan zat besi dan sel darah merah saat perdarahan yang banyak dan cukup lama misalnya pada persalinan serta perempuan dapat kekurangan sel darah merah selama kehamilan oleh karena kebutuhan zat besinya di bagi bersama dengan janin yang dikandung (Mappiwali, 2008).

5. Penyebab Anemia Defisiensi Zat Besi Pada Ibu Hami

Penyebab anemia umumnya adalah kekurangan zat besi, kurang gizi, kehilangan darah saat persalinan yang lalu, dan penyakit-penyakit kronik (Roeshadi, 2004). Sedangkan menurut Masrizal dalam Surinati (2011), Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah  akibat kurangnya kadar  zat besi dalam darah. Jika simpanan zat besi dalam  tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis.  Simpanan  zat  besi  yang  sangat  rendah  lambat  laun  tidak  akan  cukup untuk membentuk  sel-sel  darah merah  di  dalam sumsum  tulang  sehingga  kadar hemoglobin  terus menurun  di  bawah  batas  normal, keadaan  inilah  yang  disebut anemia gizi besi (Masrizal, 2007 dalam Surinati, 2011).

Dalam kehamilan, penurunan kadar hemoglobin yang dijumpai selama kehamilan disebabkan karena dalam kehamilan keperluan zat makanan bertambah dan terjadinya perubahan-perubahan dalam darah: penambahan voluma plasma yang relatif lebih besar daripada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah merah. Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemi. Namun bertambahnya sel-sel darah adalah kurang jika dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengencaran darah. Dimana pertambahan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita hamil tersebut. Pengenceran ini meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hipervolemia tersebut, keluaran jantung (cardiac out put) juga mengikat. Kerja jantung ini lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Restensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik (Wiknjosastro, 2005 dalam Surinati, 2011).

Menurut Mulia, anemia defisiensi zat besi disebabkan oleh kurang masuknya unsur besi dan makanan karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampaui banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada pendarahan (Mulia, 2008 dalam Surinati, 2011).

Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg besi/hari (Zebua, 2011).

6. Gejala Anemia Defisiensi Besi Pada Ibu Hamil

Anemia defisiensi zat besi pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang bervariasi, hingga untuk menegakkan diagnosa perlu dilakukan pemerikasaan darah. Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan menurun(anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah), dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda (Rizwan, 2003).

Keluhan anemia yang sering dijumpai dimasyarakat adalah yang lebih dikenal dengan 5L, yaitu lesu, lemah, letih, lelah, dan lalai. Disamping itu penderita kekurangan zat besi akan menurunkan daya tahan tubuh yang mengakibatkan mudah terkena infeksi (Depkes RI, 2003).

Rasa cepat lelah disebabkan karena pada penderita anemia gizi besi, pengolahan (metabolisma) energi oleh otak tidak berjalan secara sempurna karena kurang oksigen. Anemia gizi besi dengan keluhan dampak yang paling jelas adalah cepat lelah, rasa ngantuk, malaise, dan wajah yang pucat (Budiono, 2009).

Wintrabe dalam Haryanto (2007) mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala dapat berupa kepala pusing, palitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku,gangguan jaringan sistem neurumuskular, lesu, lemah, dispagia, dan pembesaran kalenjar pulpa (Haryanto, 2007).

7. Diagnosis Anemia Pada Kehamilan

Untuk menegakkan diagnosis anemia pada ibu hamil dapat dilakukan dengan anemnesia. Pada anamnesia akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual muntah lebih cepat pada hamil muda. pemarikasaan dan pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan alat sahli. Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut (Manuaba, 1998 dalam Zebua, 2011):

  1. Hb ≥11,0 gr% disebut tidak anemia.
  2. Hb 9,0 gr% – 10,9 gr% disebut anemia ringan.
  3. Hb 7,0 gr% – 8,9 gr% disebut anemia sedang.
  4. Hb ≤ 7,0 gr% disebut anemia berat.

Pemeriksaan Hb dilakukan minimal dua kali selama masa kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III.  Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di Puskesmas.

Sedangkan menurut Depkes RI tahun 2005, bahwa pemeriksaan berdasarkan pemeriksaan laboratorium digolongkan menjadi:

  1. Hb ≥11,0 gr% disebut tidak anemia.
  2. Hb 9,0 gr% – 10,9 gr% disebut anemia sedang.
  3. Hb ≤ 8,0 gr% disebut anemia berat.

8. Pencegahan Dan Penanggulangan Anemia Pada Ibu Hamil

Pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil, antara lain (Wirahadikusuma, 1999 dalam Zebua, 2011):

  1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan seperti mengkonsumsi pangan hewani (daging, ikan, hati, dan telur), mengkonsumsi pangan nabati (sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, dan padi-padian) buah-buahan yang segar dan sayuran yang merupakan sumber utama vitamin C yang diperlukan untuk penyerapan zat besi didalam tubuh. Hindari mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat inhabitor saat bersamaan dangan makan nasi seperti teh karena mengandung tannin yang akan mengurangi penyerapan zat besi.
  2. Supplemen zat besi yang berfungsi dapat memperbaiki Hb dalam waktu singkat.
  3. Fortifikasi zat besi yaitu penambahan suatu jenis zat gizi dalam bahan pangan untuk meningkatkan kualitas paangan.

Selain itu, upaya penaggulangan anemia kekurangan zat besi pada ibu hamil menurut Silalahi (2007), adalah sebagai berikut:

  1. Penanggulangan melalui perbaikan pangan dan gizi

Dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, terutama dari sumber hewani yang mudah diserap, seperti hati, ikan, dan danging. Selain itu ditingkatkan makanan yang mengandungbanyak vitamin C dan vitamin A untuk membantu penyerapan besi dan membantu proses pembentukan hemoglobin.

a)      Forifikasi, yaitu menambah besi, asam folat, vitamin A dan amino essensial (forifikasi) pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran.

b)      Suplemen zat besi secara masal pada kelompok sasaran dalam waktu tertentu.

c)      Dosis pencegahan, yaitu konsumsi tablet besi sebanyak 1 tablet/hari (60 mg elemen iron dan 0,25 asam folat) berturut-turut selama 90 hari selama masal kehamilan dan 42 hari sesudah melahirkan.

d)     Dosis pengobatan, yaitu diberikan pada ibu hamil dengan kadar Hb <11 gr %. Yaitu 3 tablet/hari selama 90 haripada kehamilanannya dan sampai 42 hari setelah melahirkan.

  1. Penanggulangan anemia pada dasarnya mengatasi penyebabnya. Biasanya ada penyakit yang melatarbelakanginya, seperti penyakit TBC dan infeksi cacing. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengobatan terhadap penyakit tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s