3

Bahaya Rokok dan Kehamilan

Banyak orang yang tidak peduli bahkan tidak tahu tentang bahaya merokok. mungkin mereka tahu, tapi pura-pura tidak tahu. contohnya beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan salah satu teman yang merupakan seorang perokok berat. dia bahkan menjalin hubungan dengan teman saya yang juga mahasiswa kesehatan masyarakat yang tahu tentang seluk beluk bahaya merokok. sudah sering ia diberitahu sama pacranya untuk berhenti merokok tapi ia tetap saja menjalankan aktfitas yang merugikan itu. dalam hal ini, sang pacar juga salah kerena dia tidak mampu berbagi ilmunya, memberikan sugesti pada sang pacar agar ia berhenti merokok, padahal itu adalah bidangnya.

saya sedikit terusik dengan kalimat yang dia lotarkan, “saya tidak suka jika orang lain melarang saya untuk berhenti pada sesuatau itu (rokok), dimana sesuatu itu saya anggap/yakini BENAR. Saya merokok itu untuk diri saya sendiri bukan untuk orang lain.” sungguh pernyataan yang SALAH. menganggap merokok adalah tindakan yang benar? Merokok itu benar sekalipun hanya untuk konsumsi pribadi?????? oh.. saya hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan tersebut. sebuah konsep pemikiran yang SALAH BESAR.

setelah ia berkata begitu, kemudian kita beradu argumen satu sama lain, dan dia tetap menempatkan dirinya pada posisi yang benar. iya, dia sendiri yang meletakkan dirinya pada posisi itu, bukan orang lain. *senyum kecut*

melihat hai itu, saya merasa sangat miris sekaligus kasihan sama mereka, para perokok. yang mereka tahu adalah merokok untuk diri sendiri, bukan untuk anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. yang mereka tahu tokok itu untuk kepuasan pribadi, bukan untuk kepuasan anak, istri, teman, kakak, adik, ayah, ibu, keponakan, sepupu, dsbg. itulah mengapa saya menyebut mereka para perokok sebagai orang teregois yang pernah hidup dimuka bumi ini. mereka hanya mementingkan kepuasan pribadi dengan mengesampingkan kepentingan orang lain yang ada disekitarnya.

saya selalu bertanya pada diri saya sendiri, apakah mereka tahu tentang bahaya merokok, atau pura-pura tidak tahu, atau memang benar tidak tahu?

asap rokok itu bahkan lebih berbahaya dari pada puntung rokoknya sendiri, linting rokoknya sendiri. mereka mungkin tidak tahu kalau yang banyak menghirup asap rokok itu orang lain yang ada disekitarnya bukan dirinya sendiri. sungguh miris.

~berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang Rokok:

Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 4000 bahan kimiawi. Unsur-unsur penting lain tar, nikotin, karbon monooksida, benzopyrin, anomia, arzenikum. Diantara sekian banyak zat berbahaya ini, ada 3 yang paling penting, yakni tar, nikotin, dan karbon monooksida karena dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti BBLR, kanker, penyakit jantung koroner, stroke, impotensi, gangguan kehamilan dan janin (Abu Umar, 2005 dalam Susianti, 2007).

Merokok adalah perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Asap rokok berdampak pada pertumbuhan janin melalui beberapa mekanisme, beberapa bahan asap rokok misalnya nikotin, CO, dan polyclyclic aromatic hydrocarbons, diketahui dapat menembus plasenta (Ebrahim et. Al, 2004).

1.      Kandungan Rokok

Menurut WHO dalam Fatimah (2006), kandungan zat yang terdapat dalam rokok yang dapat mempengaruhi kesehatan, khususnya kesehatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

  • Kandungan racun pada rokok

pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang ada dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen lainnya yang terkondensasi. Dengan demikian, komponen asap rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari begian gas (85%) dan bagian partikel.

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Kandungan racun rokok itu antara lain sebagai berikut:

1)      Tar

Tar adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam yang merupakan substansi hidrokarbon yang bersikap lengket dan menempel pada paru-paru. Kadar tar pada rokok antara 0,5-35 mg per batang. Tar merupakan suatu zat karsinogen yang tdapat menimbulkan kanker pada jalan nafas dan paru-paru.

Tar terbentuk selama pemanasan tembakau. Tar merupakan kumpulan berbegai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambah dalam proses pertanian dan industri sigaret. Tar juga merupakan hidrokarbon aromatik polissiklik yang ada dalam asap rokok, tergolong dalam zat karsinogen yaitu zat yang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Pemaparan menahun hidrokarbon aromatik (benzena) dapat menghasilkan efek toksik yang sangat serius yang paling nyata yaitu kerusakan pada sumsum tulang yang berbahaya dan tidak terduga, anemia aplastik, leukopenia, pansitopenia atau trombositopenia. Pada perkembangan sumsum tulang belakang tapak menjadi paling sensitif terhadap benzena. Gejala permulaan keracunan benzena kronis yaitu sakit kepala, kelemahan, dan kehilangan nafsu makan.

2)      Nikotin

Nikotin adalah alkoid toksis yang terdapat dalam tembakau. Sebatang rokok berisi 1-3 mg nikotin. Nikotin diserap melalui paru-paru den kecepatan absorpsinya hampir sama dengan masuknya nikotin secara intravena. Nikotin masuk kedalam otak dengan cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Depat melewati barier di otak dan diedarkan keseluruh bagian otak, kemudian menurun secara cepat, setelah beredar keseluruh bagian tubuh dalam waktu 15-20 menit pada waktu penghisapan terakhir.

Efek bifasik dari nikotin pada dosis rendah menyebabkan rangsangan ganglionik yang eksitasi,tetapi pada dosis tinggi yang menyebabkan blokade gangbionik setelah eksitasi sepintas. Efek yang diakibatkan oleh nikotin berhubungan langsung dengan jumlah nikotin yang diisap, dengan gejala: BBLR, keguhuran, lahir tdak cukup bulan, lahir mati dan kematian neonatal, selain peningkatan insidensi perdarahan selama kehamilan, absopsi plasenta, plasenta previa, dan ruptur membran prematur atau tertunda.

Laporan pusat penelitian menunjukkan bahwa pertama, nikotin adalah sebuah vasokonstriktor, jadi menyempitkan pembulih darah plasenta. Kedua, merokok meningkatkan viskositas darah sehingga darah agak kental sehingga lebih menghambat aliran darah.

3)      Karbon Monooksida

Karbon monooksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna. Kandungannya di dalam asap rokok 2-6%. Karbon monooksida pada paru-paru mempunyai daya pengikat (anfinitas) dengan hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari pada daya ikat oksigen (O2) dengan Hb.

Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbon monooksida (CO) dalam bentuk COHb (Carboly Haemoglobin), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan oksigen yang pada akhirnya sel tubuh akan kekurangan oksigen. Pengurangan oksigen jangka panjang dapat mengakibatkan pembuluh darah terganggu karena menyempit dan mengeras. Bila menyerang pembuluh darah jantung, maka akan terjadi serangan jantung.

4)      Radikal Bebas (NOx, SO2)

Radikal bebas merupakan suatu atom, molekul, senyawa yang dapat berdiri sendiri mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan diorbit terluarnya. NOx merupakan oksidator yang cukup kuat yang dapat menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga fungsinya terganggu.

Bahaya radikal bebas terhadap eritrosit adalah dengan merusak struktur membran eritrosit sehingga plastitasis membran terganggu dan mudah pecah. Keadaan ini dapatmenyebabkan menurunkan jumlah eritrosit yang dapat menyebabkan anemia.

~Merokok dan kehamilan 

Merokok merupakan perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Akibat karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin dalam darah yang mengakibatkan mengurangi kerja haemoglobin yang seharusnya mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Merokok juga menghambat penyerapan vitamin B dan C serta asam folat (B9) yang berperan dalam pembentukan darah (Curtis, 2008).

pada ibu hamil, pengaruh nikotin yang terkandung dalam rokok menimbulkan kontraksi pada pembuluh darah, akibatnya aliran darah ke tali pusar janin akan berkurang sehingga mengurangi kemampuna distribusi zay yang yang diperlukan oleh janin. Selain itu, karbon monooksida dari asap rokok akan mengikat Hb dalam darah yang menyebabkan distribusi zat makanan dan oksigen yang disuplai ke janin terganggu, senhinggan terjadinya anemia dan melahirkan bayi prematur (Amiruddin, 2006).

***

sangat disayangkan jika ada orang yang masih merokok. bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang-orang yang mereka sayangi, keluarga, lingkungan, dsbg. bukah sedah banyak kampanye/ penyuluhan anti rokok, tapi kenapa mata hati dan pikiran mereka belum terbuka & sadar? sedih.. 😦

Manusia berhak mendapatkan kesehatan yang optimal, dan berhak mendapatkan udara bersih dan sehat tanpa racun asap rokok yang melayang-layang di udara 😦

“Jika anda tidak ingin mati, maka matikanlah rokok anda.”

(Menteri Kesehatan RI dalam kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2013)

Iklan
0

Hubungan Personal Hygiene dengan Kanker Leher Rahim

Personal hygiene adalah berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan psikis.

Personal hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan daerah kewanitaan meliputi kebiasaan memakai sembarang sabun dan membasuh vagina, pemilihan pakaian dalam yakni memakai pakaian dalam yang ketat dan berbahan sintetis, sering menggunakan WC umum, serta kebiasaan membilas vagina dari arah yang salah yaitu dari arah anus ke arah depan vagina (Wikipedia, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa personal hygiene dapat mempengaruhi terjadinya perubahan keasaman didaerah vagina.  Ketidakseimbangan PH vagina dipicu oleh dua hal yaitu faktor ekstern dan faktor intern.  Faktor intern antara lain dipicu oleh pil kontrasepsi yang mengandung estrogen, trauma akibat pembedahan, terlalu lama menggunakan antibiotik, kortikosteroid dan imunosupresan pada penderita asma dan kanker.  Sedangkan faktor ekstern antara lain kurangnya personal hygiene yang ditandai dengan sering menggunakan pakaian dalam yang ketat, menggunakan WC umum yang tercemar bakteri Chlamydia (Prasetyowati, dkk, 2009).

Masalah tentang kanker leher rahim sangat menjadi perhatian bersama terutama bagi kaum wanita karena sangat penting dan dampaknya luas mencakup berbagai kehidupan dan menjadi parameter terhadap khalayak ramai masyarakat terutama wanita. Di Indonesia banyak wanita yang mengalami kanker leher rahim karena hawa di tanah air lembab sehingga mudah terinfeksi jamur candida yang menyebabkan kanker leher rahim (Nurhayati,dkk. 2010).

Bau busuk dan penggetahan vagina kadang-kadang disebabkan oleh keringat, tampon yang tertinggal, darah lama infeksi, infeksi lipatan kulit, semen dan smegma lama dan gangguan lain yang sejenis. karena keinginan besar (normal) untuk menghindari timbulnya bau busuk dan penggetahan, banyak wanita menggunakan bedak khusus, deodorant, obat pembersih, dan produk lain yang diperdagangkan. Produk-produk ini tidak hanya menyebabkan wanita membuang uang percuma tetapi juga membahayakan. Antiseptik dan deodorant yang digunakan disekitar vulva menyebabkan luka-luka dan iritasi, alergi dan ruam. ironisnya antiseptik dan deodorant tersebut malah dapat menyebabkan kanker leher rahim (Sukartia,2012).

Motivasi dapat mempengaruhi seseorang melakukan perawatan daerah kewanitaan. Motivasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam diri dan luar diri seseorang. Motivasi akan meningkat apabila faktor-faktor yang mempengaruhi bernilai baik. Dalam hal ini jika personal Hygiene yang dilakukan dengan benar dapat mengurangi resiko terjadinya kanker leher rahim bagi kaum wanita. Pada prinsipnya tidak dibenarkan membersihkan rambut di daerah kewanitaan dengan cara mencabutnya, sebab apabila kita mencabut rambut kemaluan maka akan timbul lubang pada bekas cabutan tersebut dan hal ini dapat menjadi jalan masuk bagi kuman/bakteri dan jamur yang dapat mengakibatkan timbulnya iritasi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kanker leher rahim (Inong, 2008).

Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek Personal Hygiene Menurut L.Green bahwa perilaku kesehatan di pengaruhi oleh :

  • Faktor Pendahulu

faktor pendahulu adalah yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang.

  • Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin adalah faktor yang meningkatkan tingkat pendapatan dan ketersediaan sarana kebersihan.

  • Faktor penguat

faktor penguat adalah faktor yang dipengaruhi oleh teman sebaya, media massa, dan dari pembinaan tenaga kesehatan.

Dari analisa green dalam Sukartia 2012, bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap dan tindakan yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • Pengetahuan

Pengetahuan seseorang tentang hubungan personal hygiene dengan kanker leher rahim merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

  • Sikap

Sikap terhadap kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap materi tentang kanker leher rahim. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya reaksi terhadap stibulus tertentu, yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. sikap terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap pengetahuan tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu penghayatan terhadap pengetahuan tersebut.

  • Tindakan

Suatu sikap yang baik terhadap kejadian kanker leher rahim belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan diperluka faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan terhadap personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim merupakan reaksi atau respon dari sikap tentang personal hygiene dengan kejadian kanker leher rahim sebagai suatu respon terhadap sikap tersebut (Sukartia, 2012).

Kebersihan organ reproduksi bagian luar merupakan bagian dari kebersihan diri.  Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak kecil, dimulai dari cara membersihkan organ genitalia sesudah BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) yang benar yaitu dari arah depan ke belakang.  Hal ini dilakukan untuk mencegah berpindahnya kuman dari anus ke vagina.  Selain itu, area vagina harus selalu dalam keadaan kering, karena kelembaban dapat menyebabkan kuman, bakteri, dan jamur tumbuh subur sehingga sering kali berlanjut menyebabkan kanker leher rahim (Soekodo dalam Hidayati, dkk 2010).

Dalam faktor personal hygiene yaitu kebiasaan penggunaan WC umum banyak mengakibatkan berbagai penyakit yaitu salah satunya adalah kejadian kanker leher rahim. Kebiasaan menggunakan WC umum cukup beresiko dikarenakan virus HPV (Human Papilloma Virus) yang akan menyebabkan iritasi dan kemudian meningkat dengan sendirinya jika tidak ada penanggulangan sedini mungkin dalam kasus ini. Sesuai pendapat Bustan (2007), bahwa kejadian kanker leher rahim salah satunya dipengaruhi oleh personal hygiene organ genital kurang. Semakin baik kondisi personal hygiene organ genital seseorang maka resiko kejadian kanker leher rahim lebih rendah dibandingkan dengan responden dengan personal hygiene organ genital buruk.

1

Kanker Leher Rahim

1.      Pengertian Penyakit Kanker dan Kanker Leher Rahim

Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan utnuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan oleh agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan ataupun diwariskan (mutasi germline) (Riono, 2006).

Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantungan pada lokasinya dan karakter dari keganasan apakah ada metastasis. Sebuah diagnosis yang menentukan biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi (Riono,2006).

Kanker leher rahim adalah kanker yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks) yaitu suatu daerah yang terdapat pada organ reproduksi wanita, yang merupakan pintu masuk ke arah rahim (uterus), dengan vagina (Marjikoen, 2007).

Kanker serviks adalah jenis kanker yang biasanya tumbuh lambat pada wanita dan mempengaruhi mulut rahim, bagian yang menyambung antara rahim dan vagina. Kanker serviks dapat berasal dari leher rahim ataupun dari mulut rahim, kanker ini tumbuh dan berkembang dari serviks yang dapat menembus keluar dari serviks sehingga tumbuh di luar serviks bahkan dapat tumbuh terus sampai dinding panggul (Andrijono, 2005).

Oleh karena itu kanker serviks merupakan momok yang menakutkan bagi kaum perempuan di Indonesia karena selain belum ada obatnya, kanker jenis ini masih menjadi pembunuh nomor satu perempuan pengidap kanker tersebut. Kanker serviks hingga sekarang belum ada obatnya dan sangat ditakuti kaum perempuan tapi hal ini bisa dihindari dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (Pramono, 2006).

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Kanker ini dapat hadir dengan pendarahan vagina, tetapi gejala kanker ini tidak terlihat sampai kanker memasuki stadium yang lebih jauh (Wikipedia, 2012).

Dalam serviks terdapat 2 jenis sel yaitu sel skuamos dan glandular atau sel endoserviks. Pada kanker serviks, sel-sel bertindak secara tidak normal terus membesar dan membentuk benjolan atau tumor. Biasanya sel-sel ganas tersebut berasal dari squamo columnar juntion. Penyebab terbanyak dari kanker leher rahim adalah 99 % dari HPV (human papilloma virus) yang disebarkan lewat perilaku seks yang tidak sehat (Lusa, 2009).

90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi leher rahim dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran rahim yang menuju ke dalam rahim. Kanker leher rahim terjadi jika sel-sel leher rahim menjadi abnormal dan membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bias bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker leher rahim. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun (Aziz M.F, 2006).

2.      Epidemiologi

Berdasarkan laporan WHO, kanker leher rahim ditemukan paling banyak pada usia setelah 40 tahun dan lesi derajat tinggi pada umumnya dapat dideteksi sepuluh tahun sebelum terjadi kanker dengan puncak terjadinya displasia leher rahim pada usia 35 tahun. Di Indonesia terjadi peningkatan kejadian kanker dalam jangka waktu 10 tahun. Peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik dari peringkat 12 menjadi peringkat 6. Diperkirakan terdapat 190.000 penderita baru dan 1/5 akan meninggal akibat penyakit kanker. Namun akibat kanker bisa dikurangi 3-35 % bila dilakukan tindakan preventif, skrining dan deteksi dini (Dalimartha, 2004).

Berbagai macam tumor ganas ginekologik, kanker leher rahim masih menduduki peringkat pertama di Indonesia. Dalam kurun waktu tiga tahun, diantara 5 jenis kanker terbanyak pada wanita sebagai peringkat pertama adalah kanker leher rahim. Umur penderita antara 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Secara nasional melacak (mendeteksi dini) setiap wanita sekali saja setelah melewati usia 30 tahun dan menyediakan sarana penanganannya, untuk berhenti sampai usia 60 tahun. Yang penting dalam pelacakan ini adalah cakupannya (coverage) (Winknjosatro, 2005).

3.      Etiologi

Penyebab langsung dari kanker leher rahim belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar), diantaranya yang penting jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin dari pada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama pada usia yang sangat muda (<16 tahun), insiden meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (hygiene seksual) yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18 dan akhirnya kebiasaan merokok (Winknjosatro, 2005).

Penyebab kanker serviks adalah multifaktor, yang dibedakan atas faktor risiko mayor, faktor risiko minor dan ko-faktor (Suwiyoga, 2007). Pada faktor mayor kanker leher rahim sekitar 90% terdapatnya virus HPV (Human Papilloma Virus). Infeksi HPV resiko tinggi merupakan awal dari pathogenesis kanker leher rahim sedangkan HPV resiko tinggi merupakan karsinogen kanker leher rahim dan awal dari karsinogenesis kanker leher rahim uteri. Penelitian yang dilakukan oleh International Agensi for Risert on Cancer (IARC) terhadap 1000 sampel dari 22 negara mendapatkan adanya infeksi HPV  pada sejumlah 99,7% kanker leher rahim (Andrijono, 2007).

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik (faktor luar). Pada umumnya, kanker bermula pada saat sel sehat mengalami mutasi genetic yang mengubahnya dari sel normal menjadi sel abnormal. Sel sehat tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang teratur. Sel kanker tumbuh dan bertambah banyak tanpa control dan mereka tidak mati. Adanya akumulasi sel abnormal akan membentuk suatu masa (tumor). Sel kanker menginvasi jaringan sekitar dapat berkembang dan tersebar di tempat lain didalam tubuh (metastasis) (Yuliadi, 2008).

Kanker leher rahim paling sering bermula dengan sel datar, tipis yang membentuk dasar selviks (sel skuamosa). Karsinoma sel skuamosa merupakan 80% dari kasus kanker leher rahim. Kanker leher rahim dapat juga terjadi pada sel kelenjar yang membentuk bagian atas dari cerviks. Dapat disebut dengan adenocarsinoma, prevalensi kanker ini yaitu 15% dari kanker leher rahim. Kadang-kadang kedua tipe sel ditemukan pada kanker leher rahim. Terdapat kanker lain pada sellain di serviks namun persentasenya sangat kecil (Yuliadi, 2008).

4.      Gejala dan Tanda

Pasien mungkin saja tidak mengalami gejala kanker leher rahim apapun kanker leher rahim dini biasanya tidak memberikan gejala dan tanda. Semakin kanker berkembang, semakin terlihatlah tanda dan gejala dari kanker leher rahim. Gejala-gejala kanker leher rahim tersebut dapat berupa :

  1. Keputihan. Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium praklinik (karsinoma insitu dan mikro invasif) belum dijumpai gejala-gejala yang spesifik bahkan sering tidak dijumpai gejala. Awalnya, keluar cairan mukus yang encer, keputihan seperti krem tidak gatal, kemudian menjadi merah muda lalu kecoklatan dan sangat berbau bahkan sampai dapat tercium oleh seisi rumah penderita. Bau ini timbul karena ada jaringan nekrosis (Aziz,M.F.,Saifuddin,A.B., 2006).
  2. Perdarahan pervaginam. Awal stadium invasif, keluhan yang timbul adalah perdarahan di luar siklus haid, yang dimulai sedikit-sedikit yang makin lama makin banyak atau perdarahan terjadi di antara 2 masa haid. Perdarahan terjadi akibat terbukanya pembuluh darah disertai dengan pengeluaran sekret berbau busuk, bila perdarahan berlanjut lama dan semakin sering akan menyebabkan penderita menjadi sangat anemis dan dan dapat terjadi shock, dijumpai pada penderita kanker serviks stadium lanjut (Aziz,M.F. dan Saifuddin,A.B., 2006).
  3. Perdarahan kontak. Keluhan ini sering dijumpai pada awal stadium invasif, biasanya timbul perdarahan setelah bersenggama. Hal ini terjadi akibat trauma pada permukaan serviks yang telah mengalami lesi (Rasjidi Imam, 2008).
  4. Nyeri. Rasa nyeri ini dirasakan di bawah perut bagian bawah sekitar panggul yang biasanya unilateral yang terasa menjalar ke paha dan ke seluruh panggul. Nyeri bersifat progresif sering dimulai dengan “Low Back Pain” di daerah lumbal, menjalar ke pelvis dan tungkai bawah, gangguan miksi dan berat badan semakin lama semakin menurun khususnya pada penderita stadium lanjut.
  5. Konstipasi. Apabila tumor meluas sampai pada dinding rektum, kemudian terjadi keluhan konstipasi dan fistula rectoingional (Thomas, R.,2002).
  6. Gejala-gejala lain. Semakin lanjut dan bertambah parahnya penyakit, penderita akan menjadi kurus, anemis karena perdarahan terus-menerus, malaise, nafsu makan hilang, syok dan dapat sampai meninggal dunia (Rahmat, Y, 2001).

5.      Upaya Pencegahan

Kanker leher rahim merupakan suatu penyakit yang ganas, sehingga sangat penting untuk dikenali gejala-gejalanya yang timbul. Gejala yang ditimbulkan mulai dari asymtomatik, artinya tidak bergejala yang biasanya terdapat pada kanker leher rahim stadium dini atau fase awal. Jika pada fase awalnya dapat terdeteksi dengan pemeriksaan medis, kemungkinan besar penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang optimal. Usaha pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan kanker.

Beberapa upaya pencegahan sekunder/deteksi dini terhadap kanker leher rahim kini telah tersedia. Seperti misalnya tes Pap (Papanicolaou) Smear, IVA (Infeksi Visual dengan Asam Asetat), dan Kolposkopi. Test Pap Smear (TPS) merupakan upaya deteksi dini yang sudah dikenal luas, pemeriksaan ini bersifat relative murah, mudah, tidak sakit, dan efektif. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukkan ke dalama liang senggama, mungkin saat itu anda akan merasa tidak nyaman. Spekulum berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas.

Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pencegahan primer, sekunder, dan tersier :

  1. Pencegahan primer. Pencegahan primer harus dilakukan dengan menghindari faktor risiko seperti tidak merokok dan juga dengan vaksinasi. Kelompok yang berisiko juga harus melakukan tes paps smear secara rutin. Pencegahan primer juga dilakukan dengan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat mengenai penyebab dan faktor risiko terjadinya kanker leher rahim. Keberhasilan program penyuluhan dilanjutkan dengan skrining (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).
  2. Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder dilakukan dengan cara deteksi dini terhadap kanker. Artinya penyakit harus ditemukan pada saat pra kanker. Salah satu bentuk pencegahan sekunder adalah dengan melakukan tes paps smear secara teratur. Paps smear adalah semata-mata alat screening dan peranannya terutama pada wanita-wanita yang asimtomatis. Pemeriksaan pap smear berguna untuk mendeteksi adanya kanker leher rahim pada stadium dini, khususnya pada wanita yang telah melakukan hubungan seksual (Grunberg A.G., Vischjager P., 2005). Bagi wanita yang berisiko tinggi sebaiknya menjalani paps smear lebih sering (dua kali setahun) dan dilakukan secara teratur selama dua tahun. Jika hasilnya negative, maka pemeriksaan selanjutnya setiap 3 tahun sekali sampai usia 65 tahun. Bila ada lesi pada serviks harus dilakukan biopsi sebab lesi dapat menunjukkan hasil paps smear negative. Penting sekali untuk melakukan pemeriksaan sel-sel hasil biopsi. Jika terdapat sel-sel tidak normal, segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  3. Pencegahan tersier. Pencegahan tertier dapat dilakukan berupa penyuluhan terhadap pasangan penderita kanker leher rahim khususnya yang telah menjalani histerektomi total agar tetap memperlakukan pasangannya sebagaimana biasanya, sehingga keharmonisan hubungan suami istri tetap terjaga. Konseling dapat dilakukan terhadap penderita stadium lanjut agar faktor psikologis tidak memperburuk keadaan (Grunberg A.G.,Vischjager P., 2005).

6.      Diagnosa Kanker Leher Rahim

Kanker leher rahim pada masa prakanker atau stadium awal tidak menimbulkan gejala sehingga dengan membuat diagnosis sedini mungkin dan memulai pengobatan yang sesuai, hasil yang diperoleh akan lebih baik sehingga jumlah wanita yang meninggal akibat kanker leher rahim dapat berkurang. Adapun diagnosis dini pada kanker leher rahim dapat dilakukan dengan pemeriksaan  fisik, test pap smear, kolposkopi, konisasi, dan biopsi.

  1. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan serviks merupakan prosedur mutlak yang perlu dilakukan untuk melihat perubahan portio vaginalis dan mengambil bahan apusan untuk pemeriksaan sitologi ataupun biopsi. Setelah biopsi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi bimanual vagina dan rektum untuk mengetahui luas massa tumor pada serviks dan rektum.
  2. Test Paps Smear. Tes Pap merupakan salah satu pemeriksaan sel leher rahim untuk mengetahui perubahan sel, sampai mengarah pada pertumbuhan sel kanker sejak dini. Apusan sitologi pap diterima secara universal sebagai alat skrining kanker leher rahim. Metode ini peka terhadap pemantauan derajat perubahan pertumbuhan epitel leher rahim. Pemeriksaan Tes Pap dianjurkan secara berkala meskipun tidak ada keluhan terutama bagi yang berisiko (1-2 kali setahun). Berkat teknik Tes Pap, angka kematian turun sampai 75% (Rasjidi Imam, 2008).
  3. Kolposkopi. Kolposkopi adalah alat ginekologi yang digunakan untuk melihat perubahan stadium dan luas pertumbuhan abnormal epitel serviks. Metode ini mampu mendeteksi pra karsinoma leher rahim dengan akurasi diagnostik cukup tinggi (Erich B., 1991). Kolposkopi hanya digunakan selektif pada sitologi Tes Pap abnormal yaitu displasia dan karsinoma in situ atau kasus yang mencurigakan maligna. Kombinasi kolposkopi dan tes Pap memberikan ketepatan diagnostic lebih kuat. Sensitivitas tes Pap dan kolposkopi masing-masing 55% dan 95% dan spesifisitas masing-masing 78,1% dan 99,7% (Erich B.,1991).
  4. Konisasi. Jika pemeriksaan kolposkopi tidak memuaskan maka konisasi harus dilakukan yaitu pengawasan endoserviks dengan serat asetat selulosa di mana daerah abnormal ternyata masuk ke dalam kanalis servikalis (Erich B., 1991).
  5. Biopsi. Biopsi memerlukan prosedur diagnostik yang penting sekalipun sitologi apusan serviks menunjukkan karsinoma. Spesimen diambil dari daerah tumor yang berbatasan dengan jaringan normal. Jaringan yang diambil diawetkan dengan formalin selanjutnya diproses melalui beberapa tahapan hingga jaringan menjadi sediaan yang siap untuk diperiksa secara mikroskopis (Aziz, M.F., 2002)

 

7.      Terapi Kanker Leher Rahim

Bila diagnosa histopatologik telah dibuat, maka pengobatan harus segera dilakukan dan pilihan pengobatan tergantung pada beberapa faktor yaitu:

  1. Letak dan luas lesi
  2. Usia dan jumlah anak serta keinginan menambah anak
  3. Adanya patologi lain dalam uterus
  4. Keadaan sosial ekonomi
  5. Fasilitas

Pengobatan kanker leher rahim tergantung pada tingkatan stadium klinis. Secara umum dapat digolongkan ke dalam tiga golongan terapi ( Indriyani D. , 1991) yaitu:

  1. Operasi. Operasi dilakukan pada stadium klinis І dan П, meliputi histerektomi radikal, histerektomi ekstrafasial dan limpadenotomi. Pada stadium klinis П, di samping operasi, dilakukan juga terapi radiasi untuk mengurangi risiko penyakit sentral yang terus berlanjut.
  2. Radioterapi. Terapi radiasi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Terapi radiasi dilakukan pada Stadium klinis Ш. Selain radiasi terkadang diberikan pula kemoterapi sebagai kombinasi terapi.
  3. Kemoterapi. Kemoterapi dilakukan bila terapi radiasi tidak mungkin diberikan karena metastase sudah sangat jauh. Umumnya diberikan pada Stadium klinis ІV B dan hanya bersifat paliatif.
2

Kepercayaan Pasien Akan Pelayanan Kesehatan

Menurut Sunanti (2006), kepercayaan merupakan elemen penting yang berpengaruh pada kualitas suatu hubungan. Kepercayaan konsumen terhadap penyedia jasa akan meningkatkan nilai hubungan yang terjalin dengan penyedia jasa. Tingginya kepercayaan akan dapat berpengaruh terhadap menurunnya kemungkinan untuk melakukan perpindahan terhadap penyedia jasa lain.

Menurut Mohamad (2009), membangun kepercayaan ini jauh lebih penting dari sekadar menyediakan ruang yang mewah dan teknologi yang canggih. Judarwanto (2007) menganalisis, bahwa kepercayaan pasien terhadap dokter adalah kunci utama keberhasilan penanganan suatu penyakit. Sebagian besar indikasi berobat ke luar negeri adalah bukan karena keterbatasan alat dan kemampuan dokter, tetapi karena permintaan keluarga pasien. Secanggih apapun sarana medis atau sepintar apapun dokternya tidak akan berarti bila tidak ada rasa percaya. Saat ini masyarakat kita kurang percaya terhadap mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia. Mereka yang berpenghasilan menengah keatas lebih memilih menjalankan pengobatan di luar negeri.

Penelitian Ariawan (2002) menyimpulkan bahwa rumah sakit yang mampu menghargai pasiennya akan dapat meningkatkan kepercayaan pasien yang dilayaninya. Tinggi rendahnya kepercayaan pasien dipengaruhi oleh tinggi rendahnya intensitas komunikasi. Keterpaksaan yang dirasakan pasien akan berpengaruh negatif terhadap kepercayaan pasien. Dengan demikian pihak rumah sakit yang senantiasa membangun komunikasi yang berkualitas dengan pasien akan meningkatkan kepercayaan pasien, sebaliknya apabila pihak rumah sakit tidak melakukan komunikasi dengan baik maka dimungkinkan kepercayaan pasien tidak terbentuk dengan baik.

Menurut Morgan dan Hunt (2008) aspek kepercayaan dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan tingkat keyakinan pasien terhadap kemampuan pihak rumah sakit untuk memenuhi harapan-harapan pasien atau sejauh mana pasien percaya terhadap keahlian yang dimiliki pihak rumah sakit. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan keyakinan pasien terhadap kredibilitas Rumah Sakit, jaminan pelayanan serta niat baik dari pihak Rumah Sakit.

Kepercayaan terhadap petugas kesehatan di Rumah Sakit merupakan salah satu faktor dari kepercayaan terhadap Rumah Sakit secara umum. Menurut Susilowati (2011) kepercayaan merupakan poin penting bagi seorang perawat. Pelayanan keperawatan yang baik saat ini bisa diukur melalui kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Masyarakat sudah bisa menilai standar praktik yang diberikan perawat, kemudian etika serta profesionalismenya. Bila standar itu tidak terpenuhi, maka masyarakat tidak percaya lagi.

Beberapa fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat mulai kurang merasa dilayani oleh pelayanan kesehatan. Rendahnya kepercayaan masyarakat ini, biasanya terjadi berdasarkan pengalaman nyata mereka sendiri akan pelayanan keperawatan yang pernah mereka terima menumbuhkan kepercayaan, perawat harus menyadari terlebih dulu hal apa yang menjadi kekuatan serta kelemahannya, dengan begitu akan dimulai pergerakan ke arah kapabilitas yang lebih tinggi. Para perawat masa kini mestilah bisa menjawab rasa ketidakpercayaan tersebut melalui upaya-upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat dengan bekerja berdasarkan nilai-nilai yang dihayati, nilai dasar sebagai manusia, melayani dengan alturisme yang tinggi, dan selalu sadar diri dengan apa yang akan dilakukan (Susilowati, 2011).

0

Keterjangkauan Tarif Pelayanan Kesehatan

Keterjangakauan merupakan salah satu syarat pokok pelayanan kesehatan. Keterjangkauan yang dimaksud disini adalah dari sudut biaya. Untuk mewujudkan keadaan seperti ini harus dapat diupayakan biaya kesehatan diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat pelayanan kesehatan yang mahal dan karena itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja, bukan pelayanan kesehatan yang baik  (Azwar, 1996).

Tarif menurut Trisnantoro (2004) nilai suatu jasa pelayanan yang didetapkan denegan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien. Menurut Mulyadi (2002), mendefinisikan tarif atau harga suatu produk/jasa sebagai interaksi antara jumlah demand dan supply di pasar. Interaksi ini jika dituliskan dengan grafik, maka akan terjadi perpotongan antara garis demand dan garis supply. Garis perpotongan tersebut merupakan titik keseimbangan antara demand dan supply, yang kita sebut sebagai  titik harga atau tarif.

Tarif adalah sebagian atau seluruh biaya penyelenggara pelayanan kesehatan di Rumah Sakit atau Puskemas yang dibebankan kepada  pasien sebagai imbalan jasa atas pelayan yang diterima. Pengertian tarif tidaklah sama dengan harga. Sekalipun keduanya menunjuk pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen, tetapi pengertian tarif ternyata lebih terkait pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh jasa pelayanan, sedangkan penghargaan harga lebih terkait pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh barang (Thabrany, 2002).

Tarif rumah sakit merupakan suatu elemen yang amat esensial bagi rumah sakit yang tidak dibiayai penuh oleh pemerintah atau pihak ketiga. Rumah sakit swasta, baik yang bersifat mencari laba maupun yang nirlaba harus mampu mendapatkan biaya untuk membiayai segala aktifitasnya dan untuk dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitarnya. Rumah sakit pemerintah yang tidak mendapatkan dana yang memadai untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma kepada masyarakat, juga harus menentukan tarif pelayanan. Di Indonesia, praktis seluruh Rumah Sakit, apakah itu RS umum ataupun RS perusahaan atau RS swasta, harus mencari dana yang memadai untuk membiayai pelayanannya. Jadi semua rumah sakit di Indonesia, harus mampu menetapkan suatu tarif pelayanan (Thabrany, 2002).

Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan pada tarif pelayanan kesehatan.jumlah pendapatan keluarga, dan asuransi kesehatan. Faktor ini harus diperhatikan karena ketika inflasi tinggi ataupun pada saat resesi ekonomi, demand terhadap pelayanan kesehatan akan terpengaruh (Trisnantoro, 2005).

Menurut (Thabrany, 2002), Ada tiga hal penting di dalam mempertahankan kehidupan rumah sakit dengan penetapan tarif yaitu:

  1. Memenuhi Total Kebutuhan Biaya, TKB, (Total Financial Requirement) sebuah rumah sakit. Apa yang dimaksud dengan TKB tidak lain adalah besarnya biaya yang dibutuhkan sebuah rumah sakit untuk dapat bertahan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam perakteknya, tiap rumah sakit dapat mempertahan kehidupannya dari dua sumber utama yaitu dari penerimaan funsional (jasa pelayanan) dan dari sumbangan atau penerimaan lain.
  2. Tujuan yang kedua adalah mematuhi peraturan pemerintah. Dimanapun di dunia, rumah sakit sarat dengan peraturan pemerintah yang bertujuan memproteksi rakyat banyak dari kesulitan mendapatkan pelayanan rumah sakit yang dinilai esensial atau kebutuhan pokok. Sayangnya di Indonesia, pelayanan kesehatan belum dimasukkan kedalam salah satu bahan kebutuhan pokok.
  3. Mampu bersaing dengan Rumah Sakit lain. Dalam beberapa hal kita dapat melihat bahwa ada rumah sakit umum dan ada Rumah Sakit swasta yang membagi pangsa pasar. Dalam perakteknya, RSU dan RS swasta bisa menjadi pesaing satu dengan yang lainnya.